Sel. Mei 21st, 2019

UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL KARANG LUNAK (OCTOCORALLIA : ALCYONACEA) TERHADAP BAKTERI PATOGEN UDANG VANAME (LITOPENAEUS VANNAMEI )

AN ANTIMICROBIAL METANOL EXTRACT TESTED FROM SOFT CORAL (OCTOCORALLIA : ALCYONACEA) AGAINST PATHOGENIC MICROBE FROM LITOPENAEUS VANNAMEI

 Iqbal Cahyadi Suwuh Mallawa1, Abdul Haris2, M. Farid Samawi3

 

1Fakultas Perikanan, Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin, 2Fakultas Perikanan, Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin, Fakultas Perikanan, 3Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin,

 

 

Alamat Korespondensi :

 

Iqbal Cahyadi Suwuh Mallawa, S.Kel

Fakultas Perikanan

Program Pasca Sarjana

Universitas Hasanuddin

Makassar, 90245

HP : 085398939969

Email : ini.iqbal@gmail.com

 

ABSTRAK

 

Telah dilakukan penelitian uji antimikroba dari Ekstrak metanol dari beberapa karang lunak asal Pulau Samalona, Pulau Barrang Lompo, Pulau Lumu – Lumu dan Pulau Lanjukang, Sulawesi Selatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan aktivitas antimikroba karang lunak dengan pelarut metanol terhadap bakteri patogen Vibrio harveyi dan Aeromonas caviae pada udang vaname dan juga mengetahui komponen senyawa yang berpotensi sebagai antimikroba dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Karang lunak diekstraksi dengan metanol. Ekstrak metanol diuji dengan metode difusi agar, zona hambatan ditunjukkan oleh besarnya zona hambatan yang terbentuk. Uji Kromatografi Lapis Tipis terhadap ekstrak metanol menggunakan eluen n-heksana : etil asetat (3:1). Data zona hambatan dianalisis dengan Analisis Ragam dilanjutkan dengan Uji Tukey. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Ekstrak metanol karang lunak menunjukkan aktivitas antimikroba untuk kedua bakteri patogen pada udang vaname. Komponen senyawa yang didapatkan dari ekstrak metanol karang lunak adalah plavanoid, alkaloid dan terpen.

 

Kata kunci     :   Ekstrak Karang Lunak, Bakteri Patogen, Aktivitas Antimikroba, Daya Hambat, Difusi Agar, Kromatografi Lapis Tipis, Plavanoid, Alkaloid, Terpen

 

 

ABSTRACT

 

An antimicrobial assay effect of methanol extract some soft coral from Samalona Island, Barrang lompo Island, Lumu – Lumu Island and Lanjukang Island, South Sulawesi, have been done. The aim of this research is to find antimicrobial activity soft coral by using metanol solvent against Pathogenic Microbe from Litopenaeus vannamei (Vibrio harveyi and Aeromonas caviae) and also the chemical compound which has effects as antimicrobial by Thin Layer Chromatography (TLC). Soft coral were extracted by metanol. Metanol extract and tested by agar difusion method, inhibition zone which showed by inhibition zone. TLC test of extract metanol with n-heksana : etil asetat (3:1) as a mobile phase. The inhibition zone data analyzed by Diversity Analysis method followed Tukey Tested. The result of perception showed that metanol extract soft coral give antimicrobial activity for both bacterial test which use. The chemical compound in metanol extract soft coral is plavanoid, alkaloid dan terpen

 

Key Words    :   Soft coral extract, pathogenic microbe, antimicrobial activity, Inhibition Zone, agar diffusion, TLC, plavanoid, alkaloid, terpen.



 

PENDAHULUAN

Dengan meningkatnya usaha budidaya perikanan yang bertujuan meningkatkan produksi, timbul beberapa kendala didalam pengelolaan lingkungan serta kesehatan hewan budidaya yang dipelihara. Selain itu masalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri seringkali menyerang dan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit.

Udang masih merupakan salah satu komoditas dari sektor perikanan dalam menambah devisa negara. Udang digemari oleh konsumen negara maju karena udang sebagai bahan makanan yg mengandung protein tinggi yaitu 21 % dan rendah kolesterol yang kandungan lemaknya hanya 0,2 % sedang kandungan vitaminnya dalam 100 g bahan adalah vitamin A 60 SI/100 dan vitamin B1 0,01 mg sedangkan kandungan mineral yang penting adalah zat kapur dan fosfor masing masing 136 mg dan 170 mg per 100 g bahan (anonimous, 2003b). Di Indonesia sendiri udang merupakan makanan yang cukup mahal bagi rakyat yang berpenghasilan rendah. (anonimous, 2003b).

Masalah utama dalam budidaya udang terutama pada sistem intensif adalah makanan, manajemen dan penyakit yang disebabkan oleh empat golongan patogen yaitu bakteri, virus, parasit dan jamur. Pada dasarnya dalam kondisi yang terbaik sekalipun, organisme patogen tersebut telah ada dan hidup di perairan tetapi tidak menimbulkan penyakit.

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan jenis udang yang dapat dibudidayakan di tambak selain udang windu (Penaeus monodon). Udang vaname memiliki keunggulan dibanding udang windu diantaranya dapat hidup rentang salinitas lebar (euryhaline) dari 5 ppt hingga 30 ppt, mampu beradaptasi terhadap kepadatan tinggi serta tumbuh baik dengan pakan protein rendah (Haliman dan Adijaya, 2005). Disamping itu udang vaname mempunyai laju pertumbuhan yang relatif cepat (Rahardjo et. al., 2003). Budidaya udang vaname tidak saja mampu menghasilkan produksi yang tinggi.

Budidaya udang vaname dapat menghasilkan produksiyang lebih tinggi, namun dalam perkembangan selanjutnya udang vaname seperti halnya udang windu juga rentan terhadap penyakit vibriosis dan penyakit Taura Syndrome Virus (TSV) (Fatuchri, 2005).

Pada beberapa dekade yang lalu, penanganan penyakit akibat infeksi bakteri pada umumnya bertumpu pada penggunaan antibiotik. Namun beberapa tahun terakhir ini penggunaan antibiotik telah dilarang pemerintah akibat resistensi dan efek samping pada udang budidaya peliharaan. Peningkatan resistensi strain bakteri terhadap antibiotik yang telah ada, menyebabkan meningkatnya morbidity, mortality dan biaya pengobatan. Alternatif lain untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen pada budidaya udang adalah dengan pencarian alternatif antimikroba baru dari bahan alam laut (Siddhanta et al., 1997).

Karang lunak adalah salah satu sumberdaya laut yang menghasilkan suatu senyawa alamiah yang berperan penting dalam kehidupan ekologinya. Senyawa yang dihasilkan oleh karang lunak dikenal sebagai senyawa terpen, yang berperan sebagai penangkal serangan predator dan bersifat racun. Namun dalam bidang industri terutama bidang farmasi senyawa terpen dipakai dalam pembuatan obat-obatan terutama antibiotika, antitumor, antijamur dan antikanker (Coll et al, 1986 dalam Manuputty 2002).

Salah satu mekanisme pertahanan diri yang banyak dijumpai pada organisme laut adalah biosintesa metabolit sekunder. Metabolit sekunder bagi organisme laut adalah untuk melindungi diri dari serangan predator dan pemangsaan, memproteksi dari infeksi bakteri dan dalam kompetisi menempati suatu habitat. Sifat metabolit sekunder sebagai alat pertahanan diri organisme laut ternyata mempunyai potensi yang sangat besar sebagai sumber bahan obat bagi penyembuhan berbagai penyakit pada manusia.

Interaksi antar organisme dalam ekosistem laut yang sangat kompleks membuat perlunya sintesa senyawa bioaktif sebagai pertahanan diri yang ternyata sangat berpotensi dalam biomedis. Metabolit sekunder yang berasal dari organisme laut adalah senyawa organik yang diproduksi umumnya dihasilkan oleh mikroba, sponge, rumput laut dan organisme laut lainnya. Dalam bentuk simbiosis, inang akan melakukan biosintesis senyawa metabolit non-primer atau sekunder untuk memproteksi diri dan simbionnya dalam mempertahankan diri dalam lingkungan. Beberapa metabolit ini menguntungkan untuk dikembangkan karena murah, aman dan berpotensi. Sejauh ini ada sekitar 50.000 jenis organisme laut yang merupakan sumber metabolit sekunder (Mayer, 2002).

Untuk mencari metabolit yang memiliki aktifitas antibakteri patogen terhadap udang vaname dari karang lunak yang dikoleksi dari perairan Kepulauan Spermonde, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Ekstrak yang aktif akan diisolasi. Pengujian aktifitas antibakteri dengan menggunakan isolat bakteri dari udang vaname dilakukan dengan menggunakaan metode difusi agar terhadap ekstrak

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menunjukkan bahwa senyawa bioaktif dari ekstrak karang lunak dapat digunakan sebagai antibakteri. Dengan luas lautan ±75 % (5,8 juta Km2) dan garis pantai sepanjang 81.000 Km yang menghubungkan 17.500 pulau besar dan kecil, membuat potensi ekonomi Indonesia dari sektor kelautan dan perikanan terlihat sangat menjanjikan. Kawasan Timur Indonesia (KTI) merupakan salah satu daerah potensial untuk pengembangan budidaya karang lunak.

BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Oktober 2011. Sampel Karang Lunak berasal dari Perairan Pulau Samalona, Pulau Barrang Lompo, Pulau Lumu-Lumu, dan Pulau Lanjukang, Sulawesi-Selatan. Proses pengumpulan dan persiapan sampel karang lunak dilakukan serta proses ekstraksi dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Univeritas Hasanuddin. Uji Antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Politani Pertanian Pangkep dan Uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi, Univeritas Hasanuddin.

Sampel yang digunakan berupa karang lunak jenis Litophyton sp, Lobophytum sp, Sinularia sp, Sarcophyton sp (Lampiran 6), yang diambil dari perairan Kepulauan Spermonde, Sulawesi – Selatan yang telah di maserasi dengan menggunakan metanol kemudian difraksi serta dikisatkan dengan menggunakan vacum rotary evaporator (Haris dkk, 2011).

Bakteri uji berupa bakteri patogen dari udang vaname yang telah di isolat masing-masing diambil 1 ose dari media agar yang tersedia secara aseptik, kemudian diinokulasikan dengan cara digoreskan pada medium Nutrien Agar (NA) miring selanjutnya diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.

Mengambil sebanyak 1 ose bakteri dari media agar yang tersedia secara aseptik masukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi media TSB selama 24 jam. Setelah 24 jam, dengan spektrofotometer ukur Optical Density-nya (OD) dengan panjang gelombang 600 nm hingga didapatkan kepadatan 0,1 , sebagai larutan blanko digunakan larutan NaCl 0,9 %.Pada OD seperti ini konsentrasi bakteri setara dengan 108 sel/mL (Brock dan Medigan, 1991).

Pengujian aktifitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar (Zainuddin, 2006). Untuk kultur isolat bakteri digunakan media Nutrient Agar II dengan komposisi sebagai berikut : Pankreatik Pepton 10,0 g ; NaCl 5,0 g, Agar 12,0 g dan Aquadest 1000 ml. Pembuatan media kultur adalah sebanyak 25 g NA II dilarutkan dalam 1000 ml aquadest. Agar dicampurkan dengan aquadest dalam labu Erlenmeyer diatas hot plate kemudian disterilkan pada autoklaf pada suhu 121OC selama 20 menit. Agar kemudian dituang dalam cawan petri, sehingga padat digoreskan dengan bakteri sebanyak jarum ose dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37OC dalam inkubator.Untuk pengujian antibiotik, isolat bakteri patogen yang telah dikultur sebelumnya yang berasal dari udang vaname diambil sebanyak 1 jarum ose dan dilarutkan dalam 3 ml larutan NaCl 0,9%. Larutan bakteri kemudian diambil sebanyak 200 µl dan dilarutkan kedalam 20 ml larutan NA II yang hangat dan dituang kedalam cawan petri Ø 90 mm sampai mengeras.Setiap ekstrak kasar dilarutkan kembali dalam pelarut yang digunakan dalam ekstraksi dan selanjutnya diteteskan sebanyak 0,48 gram ekstrak karang lunak dalam 180 μl pada paper disk steril Ø 6 mm dengan ukuran sampel yang dimasukkan dalam tiap paper disc sebesar 30 μl. Sebagai kontrol positif akan digunakan antibiotik komersil seperti erotrymycin dan sebagai kontrol negatif digunakan pelarut yang digunakan untuk ekstraksi. Setelah pelarut menguap, paper disk kemudian diletakkan pada permukaan agar. Sebelum diletakkan pada inkubator terlebih dahulu cawan diletakkan dalam inkubator selama 3 jam untuk proses difusi dan selanjutnya diinkubasi pada suhu 37OC selama 24 jam. Perhitungan aktifitas dilakukan dengan mengukur diameter zona penghambatan termasuk paper disk setelah masa inkubasi (24 jam). Untuk penentuan aktifitas, diameter zona penghambatan atau daerah terang diukur. Aktifitas penghambat bakteri : sangat bagus jika diameter hambatan ≥ 26 mm, bagus jika diameter hambatan 16 – 25 mm, cukup jika diameter hambatan 11 – 15 mm, lemah jika diameter hambatan ≤ 10 mm.



Untuk memperjelas pengamatan zona penghambatan dapat dilakukan dengan penyemprotan larutan p-Iodonitrotetrazolium dan kemudian dibiarkan kering. Ekstrak karang lunak yang potensial memiliki daya hambat terhadap bakteri patogen udang vaname, akan ditotolkan pada lempeng silika gel GF 254 dan dielusi dengan fase gerak yang sesuai dengan perbandingan tertentu sampai diperoleh pemisahan yang baik, Bercak yang diperoleh diamati pada spektrofotometri UV-Vis (254 dan 366 nm).

Kemampuan daya hambat aktivitas antibakteri ekstrak karang lunak dihitung berdasarkan besarnya satuan diameter zona hambatan di sekitar paper disk (Ditjen POM, 1995). Daya hambat antibakteri ekstrak kasar menggunakan analisis deskriptif berdasarkan besarnya daya hambat tiap sampel terhadap bakteri uji yang digunakan. Perbedaan uji daya hambat ekstrak metanol dan klorofom terhadap bakteri patogen pada udang vaname dianalisis dengan menggunakan metode one-way Anova (Sudjana, 1989) yang diolah dengan bantuan program software SPSS release 16,0



 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini, karang lunak yang dikoleksi dari perairan perairan Kepulauan Spermonde merupakan lokasi yang masih cukup baik, karang lunak yang diperoleh disimpan dalam media pelarut metanol dan kloroform hingga terendam, kemudian ditransportasikan dalam keadaan dingin.

Ekstraksi merupakan suatu metode pemisahan yang didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak bercampur (Khopar, 2003). Dalam pemilihan pelarut, faktor yang harus diperhatikan antara lain daya melarutkan, titik didih, sifat toksik, mudah tidaknya terbakar dan sifat korosif terhadap peralatan ekstraksi. Pelarut yang digunakan pada penelitian adalah metanol (polar) Penggunaan kedua pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda ini bertujuan untuk mengekstrak komponen bioaktif dalam karang lunak sesuai dengan tingkat kepolaran sehingga zat aktif dapat diekstrak secara optimal pada salah satu pelarut yang digunakan.

Proses ekstraksi terdiri dari beberapa tahap yaitu penghancuran bahan, penimbangan, perendaman dengan pelarut, penyaringan dan pemisahan bahan aktif dengan pelarutnya. Penghancuran sampel dalam tahap ekstraksi bertujuan untuk mempermudah komponen-komponen bioaktif terekstrak didalam pelarut. Prinsip pelarutan yang dipakai pada metode ini adalah like dissolve like artinya pelarut polar akan melarutkan senyawa polar dan pelarut non polar akan melarutkan senyawa nonpolar (Khopar, 2003). Selanjutnya dilakukan maserasi denga tujuan agar terjadi tumbukan antara partikel yang dapat memperbesar kemungkinan pengikatan dan pemecahan sel sehingga komponen bioaktif dapat keluar dari jaringan dan larut dalam pelarut.

Tahap selanjutnya adalah pemisahan dengan penyaringan dan evaporasi. penyaringan dilakukan untuk memisahkan sampel karang lunak dengan pelarut yang telah mengandung komponen aktif sedangkan evaporasi bertujuan untuk memisahkan bahan aktif dengan pelarutnya dengan cara menguapkan pelarutnya dalam keadaan vakum. Suhu yang digunakan berkisar antara 300-400C karena suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan senyawa aktif sampel (Harbone, 1984).

Hasil pengukuran diameter zona hambatan ekstrak metanol terhadap bakteri Vibrio harveyi dan Aeromonas caviae dapat dilihat pada tabel 1.

Uji kualitatif ini menunjukkan bahwa ekstrak karang lunak dengan pelarut metanol dapat menghambat pada kedua bakteri. Jika dibandingkan bakteri Vibrio harveyi lebih sensitif daripada bakteri dibandingkan Aeromonas caviae terhadap senyawa senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh isolat-isolat bakteri yang berasosiasi dengan karang lunak Litiphyton sp, Lobophytum sp, Sinularia sp dan Sarcophyton sp. Hal ini ditunjukkan dengan lebih besarnya diameter hambatan isolat bakteri yang mampu menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi.

Perbedaan sensitivitas oleh jenis bakteri yang berbeda disebabkan oleh karena adanya perbedaan kemampuan bakteri untuk mempertahankan diri atau perbedaan kemampuan adaptasi molekular (Gambar 1 dan 2). Menurut Conception et al (1994) setiap bakteri mempunyai kemampuan pertahanan diri yang berbeda-beda. Sehingga suatu bakteri yang dihadapkan pada paparan suatu senyawa bioaktif akan bereasksi untuk menetralisir senyawa tersebut.

Menurut Conception et al (1994) setiap bakteri mempunyai kemampuan pertahanan diri yang berbeda-beda. Sehingga suatu bakteri yang dihadapkan pada paparan suatu senyawa bakteri akan bereaksi untuk menetralisir senyawa tersebut. Bakteri yang tidak mampu menetralisir senyawa bioaktif tersebut akan mati atau terhambat pertumbuhannya. Masing – masing bakteri mempunyai mekanisme khusus untuk menetralisir senyawa antibakteri.

Hal ini dilakukan supaya bakteri tersebut menjadi resisten terhadap senyawa antibakteri dan mampu bertahan hidup dilingkungannya. Ada berbagai mekanisme yang menyebabkan suatu populasi bakteri menjadi resisten terhadap antibakteri diantaranya adalah : mikroorganisme dapat memproduksi enzim yang dapat merusak daya kerja obat, terjadinya perubahan permiabilitas bakteri terhadap antibakteri tertentu ; terjadinya perubahan pada tempat tertentu didalam sel kelompok mikroorganisme yang menjadi target dari antibakteri, terjadinya perubahan pada metabolic pathway yang menjadi target antibakteri dan dapat juga menyebabkan terjadinya perubahan enzimatik sehingga bakteri meskipun masih dapat hidup dengan baik tapi kurang sensitif terhadap antibakteri.

Dilihat dari efektivitasnya menghambat pertumbuhan bakteri, antibakteri digolongkan menjadi dua yaitu broad spectrum antibacteria yaitu antibakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram positif maupun gram negatif dan narrow spectrum antibacteria yaitu antibakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram positif atau negatif saja (Lay, 1994). Hasil penelitian isolat bakteri (berasal dari karang lunak lunak Lobophytum sp 1, Sinularia sp 2 dan Sarcophyton sp 2) menunjukkan daya hambat pada ektrak metanol terhadap Vibrio harveyi dan Aeromonas caviae (bakteri gram negatif). Penelitian Inayah (2010) yang menguji Lobophytum sp, Sinularia sp dan Sarcophyton sp juga menunjukkan daya hambat pada ektrak metanol dan klorofom terhadap Escherichia coli (bakteri gram positif) berarti senyawa antibakteri karang lunak penelitian bersifat broad spectrum antibacteria

Menurut Brocks daan Madigan (1991) diameter zona hambatan yang terbentuk disekitar paper disk dipengaruhi oleh sifat fisika kimia dari suatu senyawa bakteri yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme. Sifat – sifat ini selanjutnya akan berpengaruh terhadap laju difusi. Laju difusi molekul senyawa antibakteri didalam media agar dipengaruhi oleh berat molekul dan aksi terhadap agar. Zat dengan berat molekul yang lebih besar memiliki laju difusi yang lebih besar dibandingkan dengan zat yang mempunyai berat molekul yang lebih kecil, sedangkan beberapa senyawa antibakteri laju difusinya akan terhambat dengan adanya media agar.

Berdasarkan uji kuantitatif diperoleh hasil zona hambatan yang berbeda-beda didapatkan daya hambat terbesar ekstrak metanol terhadap Vibrio harveyi pada Sinularia sp 2 : 2,22 mm. Sedangkan daya hambat terbesar terhadap Aeromonas caviae didapatkan pada ekstrak metanol Lobophytum sp 1 : 1,63 mm

Selain itu dari hasil pengamatan tampak adanya fenomena perubahan diameter zona hambatan dengan bertambahnya waktu inkubasi (gambar 3 dan 4). Penurunan diameter zona hambatan yang terjadi dapat dimungkinkan karena lemahnya daya antibakteri yang dihasilkan, sehingga enzim yang diproduksi oleh bakteri uji dapat merusak daya kerja senyawa antibakteri tersebut. Diduga senyawa antibakteri ini termasuk dalam golongan bakteriostatik.

Menurut Djiwoseputro (1989) senyawa yang bersifat bakteriostatik adalah senyawa yang hanya mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan tidak membunuhnya, sehingga jika bahan antibakterinya hilang atau sudah rusak maka bakteri uji akan dapat tumbuh lagi. Hal ini akan menyebabkan daerah yang semula jernih disekitar paper disk (tidak ditumbuhi bakteri uji) akan keruh (ditumbuhi bakteri uji) akibatnya terjadi penurunan diameter zona hambatan.

Berdasarkan hasil analisis ragam, jenis karang, jenis bakteri, interaksi jenis karang dengan pelarut, jenis karang dengan bakteri berpengaruh nyata terhadap diameter daya hambat yang dihasilkan oleh senyawa aktif karang (p < 0,05). Tetapi jenis pelarut yang digunakan tidak berbeda nyata. Diameter tertinggi yang dihasilkan oleh ekstrak karang lunak Lobophytum sp 1 yaitu 2,67 mm dan terendah Sinularia sp 1 yaitu 0,52 mm.

Hasil uji Tukey jenis karang karang lunak sinularia sp 3, Lobophytum sp 2, Sarcophyton sp 1, Sarcophyton sp 2, Sarcophyton sp 3 berbeda nyata antar karang lunak namun tidak berbeda nyata dengan jenis karang lunak lainnya. Hasil uji t terhadap jenis bakteri menunjukkan, jenis bakteri Vibrio harveyi dengan Aeromonas caviae berbeda nyata (P<0,05). Efek penghambatan tertinggi dari ekstrak karang lunak diperoleh pada jenis bakteri Vibrio harveyi yaitu 2,67 mm dan Aeromonas caviae yaitu 1,63 mm

Pada isolat yang menunjukkan fenomena peningkatan diameter zona hambatan, dimungkinkan karena senyawa antibakteri yang dihasilkan bersifat sangat kuat potensi antibakterinya, sehingga bisa meningkat dengan bertambahnya waktu pengamatan. Luas daerah jernih disekitar paper disk ini, menunjukkan kekuatan daya kerja antibakteri dan juga merupakan indikasi kepekaan mikroorganisme terhadap antibakteria. Selain itu diameter zona hambatan juga dipengaruhi oleh kecepatan berdifusi senyawa antibakteri dalam medium. Dwijoseputro (1989) menggolongkan senyawa ini sebagai senyawa antibakteri yang mempunyai sifat bakterisida, karena dapat membunuh bakteri. Proses bakterisida ini berjalan searah yaitu bakteri yang telah mati tidak dapat tumbuh lagi meskipun bahan bahan antibakterinya telah hilang atau rusak. Menurut Lay (1994) berbagai faktor mempengaruhi penghambatan mikroorganisme antara lain kepadatan populasi organisme, kepekaan terhadap bahan antimikroba, lama waktu mikroorganisme terpapar bahan antimikroba, konsentrasi bahan antimikrobial, suhu dan kandungan bahan organik.

Ekstrak yang menunjukkan aktivitas antimikroba kemudian dilanjutkan dengan pemisahan senyawa secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Pada KLT, ekstrak metanol eluen yang digunakan adalah n-heksana : etil asetat (3 :1) hasilnya diperoleh penampakan beberapa noda (tabel 2) dengan penampak noda sinar UV 245 nm dan 366 nm.

Komponen kimia dapat terpisah-pisah disebabkan perbedaan kelarutan tiap – tiap komponen kimia dalam eluen tidak sama karena daya elusi dari eluen yang bervariasi sesuai dengan kepolaran eluen (efek elusi naik dengan kenaikan kepolaran). Selain itu juga disebabkan karena perbedaan daya serab absorben terhadap tiap – tiap komponen kimia tidak sama. Adanya perbedaan ini menyebabkan komponen kimia bergerak dengan kecepatan berbeda-beda dan hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan. Senyawa – senyawa yang terpisah mempunyai warna tersendiri tergantung pada golongan senyawa tersebut. Pemisahan terjadi menurut kepolaran senyawa. Untuk campuran senyawa polar, pemisahan dilakukan dengan menggunakan eluen dan penyerap yang polar atau hidrofilik dan untuk campuran senyawa non polar digunakan eluen penyerap yang non polar atau lipofobik.

Untuk mengetahui komponen senyawa yang bersifat antimikroba yang terdapat dalam ekstrak karang lunak maka digunakan perekasi semprot yang akan menampakkan warna atau fluoresensi tertentu untuk komponen senyawa tertentu. Perekasi yang digunakan aadalah perekasi Dragendrof untuk alkaloid, perekasi H2S04 untuk flavanoid dan perekasi Liebermann Burchard untuk terpenoid. Hasil positif ditunjukkan oleh ketiga perekasi dimana noda yang berpotensi berubah warna menjadi warna coklat jingga oleh perekasi Dragendrof, warna ungu kecoklatan oleh pereaksi H2S04 dan warna merah keunguan oleh perekasi Liebermann Burchard. Jadi dapat disimpulkan bahwa komponen yang bersifat antimikroba yang terdapat dalam karang lunak Lobophytum sp 1 (ekstrak metanol ; plavanoid dan alkaloid) Sinularia sp 2 (ekstrak metanol ; plavanoid) sedangkan Sarcophyton sp 2 (ekstrak metanol ; plavanoid, alkaloid dan) (Tabel 2).

Karang lunak merupakan sumber yang kaya akan senyawa bioaktif, seperti terpenoid, steroid dan steroid glikosida (Rashid, 2000). Komponen-komponen bioaktif ini dihasilkan dari metabolisme primer dan sekunder dengan kekhasan tersendiri. Metabolit primer dihasilkan dari tubuh untuk menunjang kinerja metabolisme tubuh (growth associated) seperti hormon, enzim dan pigmen sedangkan metabolit sekunder merupakan substansi yang terbentuk dengan tujuan antara lain melindungi diri dari predator serta membantu proses pencernaan dan degradasi nutrien.



 

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan data dan hasil yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pelarut yang digunakan didapatkan ekstrak metanol dapat menghambat bakteri patogen Vibrio cholerae dan Aeromonas caviae dari udang vaname. Berdasarkan hasil karang lunak Litophyton sp, Lobophytum sp 1, Lobophytum sp 2, Lobophytum sp 3, Sinularia sp 1, Sinularia sp 2, Sinularia sp 3, Sarcophyton sp 1, Sarcophyton sp 2, Sarcophyton sp 3 dapat menghambat bakteri patogen Vibrio cholerae dan Aeromonas caviae dari udang vaname. Hasil uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) pemisahan komponen kimia ekstrak metanol dengan eluen n-heksana : etil asetat (3 :1) dan kloroform dengan eluen kloroform : metanol (3 : 1) dengan penampak noda sinar UV 245 nm dan 366 nm dengan perekasi Dragendrof diperoleh senyawa dari golongan alkaloid pada ekstrak metanol Lobophytum sp 1dan ektrak metanol Sarcophyton sp 2. Senyawa dari golongan terpen hanya ditemukan pada ekstrak metanol Sarcophyton sp 2. Sedangkan senyawa dari golongan plavanoid ditemukan pada semua ekstrak metanol Lobophytum sp 1, Sinularia sp 2 dan Sarcophyton sp 2

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonimous. 2003b. Budidaya Udang Windu (palaemonidae/penaeidae). www.iptek.net.id/ind/warintek/budidayaperikanan_idx.phd.doc=3b1. Edisi 21 Agustus 2003.

Brock, T.D, and M.T. madigan. 1991. Biology of Microorganisms. 6th ed. New Jersey : Prentice Hall

Coll, J.C. and P.W. Sammarco, 1988. Soft Coral: Chemistry and Ecology. Oceanus. Woods Hole Oceanographyc Institution.

Concepcion, G.P., Caraan, G.B. and Lazaro, J.E., 1994. Biological Assays for Screening of Marine Samples. Workbook Strategies in The Quest for Natural Bioactive Compound from The Sea. Marine Science Institute, University of The Philippines. 52 pp.

Ditjen POM. 1986. Sediaan Galenik. Edisi II. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Bhakti Husada. Jakarta. (Hal : 4-30).

Dwijoseputro. 1989. Diktat Penggunaan Fungisida, Jakarta

Fatuchry, S. 2005. Tambak Udang di Jawa Ambang Kenangan, Majalah Demersal Vol. 1 : 8 – 11.

Haliman, R, W. dan S. D. Adijaya. 2005. Udang Vannamei (Pembudidayaan dan Prospek Pasar Udang Putih yang Tahan Penyakit). Penebar Swadaya, Jakarta.

Harborne, JB. 1984. Metode Fitokimia. Penuntun Cara Modern Mengekstraksi Tumbuhan. Edisi II. Penerbit ITB. Bandung. (Hal : 13, 16).

Haris, A.2001. Hubungan Karateristik Lingkungan Dengan Ciri khas Kimiawi Senyawa Terpen Karang Lunak Sinularia flexibilis Quoy & Gaimard (Octocorallia: Alcyonacea) di Perairan Pulau Barrang Lompo Sulawesi .Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana/S3. IPB. Bogor.

Inayah. 2010. Uji Daya Hambat Antibakteri Patogen Ekstrak Karang Lunak (Octocorallia : Alcyonacea) dari Kepulauan Spermonde, Kota Makassar. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Khopkar SM. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press.

Lay, B, W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Manuputty, A. E.W., 1990. Senyawa Terpen dalam Karang lunak (Octocorallia: Alcyonacea). Oseana, Volume XV, Nomor 2: 77-84. Puslitbang Oseanologi-LIPI Jakarta

Raharjo et. al. 2003. Studi Komoditas Unggulan Perikanan Laut di Jawa Barat. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB.

Siddhanta AK, Mody KH, Ramavat BK, Chauhan VD, Garg HS, Goel AK, DossMJ, Srivastava MN, Patnaik GK, Kamboj VP (1997). Bioactivity of marineorganisms: Part VIII. Screening of some marine flora of western coast of India. Indian J. Exp. Biol. 36: 638-643

Sudjana. 1989. Metoda Statistika. Cetakan ke-5. Bandung:

Zainuddin, E, N. 2006. Chemical and biological investigations of selected cyanobacteria (Blue-Green Algae). PhD Thesis, University Greifswald.

 

 

Tabel 1.   Hasil uji diameter zona hambatan ekstrak metanol terhadap bakteri Vibrio harveyi dan Aeromonas caviae

 

 

Kode Sampel

Rata-Rata Daya Hambat (mm)
Vibrio harveyi Aeromonas caviae
Metanol Metanol
Litophyton sp 0,90 0,67
Lobophytum sp 1 1,66 1,47
Lobophytum sp 2 0,70 0,59
Lobophytum sp 3 1,95 0,84
Sinularia sp 1 1,84 1,24
Sinularia sp 2 1,93 0,71
Sinularia sp 3 1,60 0,77
Sarcophyton sp 1 0,70 0,73
Sarcophyton sp 2 1,02 0,64
Sarcophyton sp 3 0,57 0,59

      

 

Tabel 2. Hasil Uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Ekstrak Metanol dan Ekstrak Kloroform

 

Sampel

Karang Lunak

Pelarut Golongan Senyawa
Plavanoid Alkaloid Terpen
Lobophytum sp 1 Metanol  
Sinularia sp 2 Metanol    
Sarcophyton sp 2 Metanol

 

 


close