Ming. Jun 16th, 2019

THE ADOLESCENT PERCEPTION ABOUT SEXUAL BEHAVIOR IN PRE MARRIAGE SMA 1 AND SMK 3 IN BENTENG DISTRICT OF SELAYAR ISLANDS IN SOUTH SULAWESI

PERSEPSI REMAJA TENTANG PERILAKU SEKSUAL PRA NIKAH DI SMA1 DAN SMK 3 DI KECAMATAN BENTENG KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PROV. SULAWESI SELATAN

THE ADOLESCENT PERCEPTION ABOUT SEXUAL BEHAVIOR IN PRE MARRIAGE SMA 1 AND SMK 3 IN BENTENG DISTRICT OF SELAYAR ISLANDS IN SOUTH SULAWESI

Ahmad riadi 1, Mappeaty Nyorong 2, Masni 3

 

 

¹ Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

(email :ahmadriadi41@gmail.com)

2 Bagian Promosi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(email: mapp.pkip@gmail.com)

3 Bagian Biostatistik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

 

 

 

 

 

 

 

 

Alamat Korespondensi:

 

Ahmad riadi

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Hasanuddin MakassarTelp: 085255300293

Email: ahmadriadi41@gmail.

 

 

 





ABSTRAK

Remaja merupakan tahapan kehidupan yaitu dengan banyaknya kecenderungan perilaku menyimpang pada diri remaja, salah satunya adalah perilaku seksual pra nikah. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecenderungan remaja adalah persepsi perilaku seksual pra nikah yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi remaja di SMA 1 dan SMK 3 Kabupaten Kepulauan Selayar . Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenmenologi. Pemilihan informan dengan menggunakan purposive dengan jumlah informan 25 orang. Data di analisis dengan menggunakan metode analisis konten kualitatif yang dilakukan dengan tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan yang disajiakan dalam bentuk narasi. Hasil penelitian menunjukkan aspek pengetahuan tentang perilaku seksual pra nikah baik namun tidak berdampak positif pada perilaku. Persepsi pada aspek religiutas juga baik namun tidak berdampak positif pada perilaku. Persepsi aspek budaya yang di kenal siri baik dan berdampak positif pada perilaku.persepsi pada aspek lingkungan keluarga baik dan berdampak positif pada perilaku remaja.

Kata Kunci : Persepsi,Perilaku seksual,Pengetahuan,Religiutas, Lingkungan kelurga.

 

ABSTRACT

 

Adolecents is one form of life. Factors that reflect adolescence are bad perceptions. This study aims to determine the perception of adolescents in SMA 1 and SMK 3 in Selayar Islands Regency. This research uses qualitative design with phenmenology approach. The selection of informants using purposive with the number of informants is 25 people. Data is processed by using qualitative content analysis method which is done with data collection stage, data reduction, data presentation and conclusion presented in narrative form. Research results are aspects related to sexual behavior and do not have a positive impact on behavior. Perception on religious aspects is also good but does not have a positive impact on behavior. Perceptions of cultural aspects that are known to the good siri and have a positive impact on the behavior. Perceptions on aspects of the family environment good and do positive on adolescent behavior.

Keywords: Perception, Sexual Behavior, Knowledge, Religiutas, Kerosene Environment.

 

PENDAHULUAN

Remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10 – 18 tahun,menurut perturan menteri kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014 remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10 -18 dan belum menikah. Jumlah kelompok usia 10-18 tahun di Indonesia menurut sensus penduduk 2010 sebanyak 43,5 juta atau sekitar 18 % dari jumlah penduduk. Didunia di perkirakan kelompok remaja berjumlah sekitar 1,2 milliyar atau 18% dari jumlah penduduk dunia (WHO,2014)

Saat ini di Indonesia terjadi perubahan struktur piramida penduduk, pola yang muncul di Indonesia mirip dengan struktur piramida penduduk di negara maju. Pola ini menggambarkan adanya pengecilan jumlah dan proporsi penduduk yang berusia anak-anak tetapi diikuti dengan membengkaknya penduduk remaja dan penduduk lanjut usia. Sebuah keuntungan bagi bangsa Indonesia karena memiliki jumlah remaja yang sangat besar. Berdasarkan proyeksi penduduk pada tahun 2015 menunjukan bahwa jumlah remaja (usia 10-18 tahun) indonesia mencapai lebih dari 66,0 juta atau 25 % dari jumlah Penduduk Indonesia 255 juta (Bappenas, BPS, UNFPA 2013).

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenisnya.Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu dan bersenggama, objek seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam hayalan atau diri sendiri (Sarwono, 2011).

Hasil survey yang dilakukan secara umum oleh Lembaga Perlindungan Anak (LPA) pada 12 provinsi di Indonesia tahun 2017, khususnya pada kota-kota besar menunjukkan hasil yang cukup mencegangkan dimana 93,7 % anak SMP dan SMU telah melakukan hubungan seksual petting (menempelkan alat kelamin ), ciuman oral seks (seks melalui mulut ), 62,7 5 anak SMP sudah tidak perawan , 21,2 % remaja SMA telah melakukan aborsi atau sekitar 97 % pelajar SMP dan SMA sering menonton film porno

Penelitian Pastor (2017) Menyimpulkan bahwa Pengalaman dengan hubungan seksual pertama sebelum 15 tahun dikonfirmasi oleh 16% anak laki-laki dan 19,4% anak perempuan. Usia rata-rata melakukan hubungan seksual pada kedua jenis kelamin paling sering berkisar antara 14 dan 15 tahun. Sejak tahun 2006, anak laki-laki memiliki usia yang jauh lebih rendah secara koheren. Sejak 2010 jumlah remaja Cheska dari kedua jenis kelamin melakukan hubungan seksual pertama sebelum usia 15 tahun telah meningkat secara signifikan. Namun, kenaikan rata-rata usia sekitar enam tahun pada kedua jenis kelamin terjadi pada tahun 2014.

Data di Humas Polda Sulsel (2017) menunjukkan di Kabupaten Kepulauan Selayar angka kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja yang disertai dengan kasus aborsi pada Januari sampai Agustus berjumlah 7-10 orang. Hal ini cukup menjadi perhatian masyarakat ,bagaimana mungkin angka tersebut tinggi sementara di lingkungan pendidikan telah di kenal sex education sejak dini. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan sex sejak dini tidak mempunyai dampak yang signifikan terhadap pergaulan remaja yang cukup meprihatinkan saat ini . Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi remaja tentang perilku seksual pra nikah di SMA 1 dan SMK 3 Kecamatan Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar .





BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA 1 dan SMK 3 Kecamatan Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Jenis penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.

Populasi dan Sampel

Populasi dari penelitian ini adalah remaja di SMA 1 dan SMK 3 Informan dipilih menggunakan tekhnik snowball sebanyak 25 orang yang telah memenuhi kriteria yakni remaja pria dan wanita berusia 16-18 tahun.

Metode Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data menggunakan pendekatan wawancara mendalam kepada informan. Selain itu, dilakukan juga triangulasi sumber dengan wawancara kepada informan pendukung yakni orang tua informan dan juga informan kunci yakni petugas kelurahan dan kader setempat.

Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi yakni tekhnik yang digunakan untuk menarik kesimpulan dengan cara mereduksi data kemudian menyajikan data dalam bentuk teks yang bersifat naratif dengan menggunakan fakta yang diperoleh di lapangan.

 

 

 

 

HASIL PENELITIAN

Katareristik informan

Informan berjumlah 25 orang yang di pilih dengan mengunakan tehnik snowball,informan di SMA 1 berjumlah 15 orang terdiri atas 7 orang berjenis kelamin laki-laki dan 8 orang berjenis kelamin perempuan sementara di SMK 3 berjumlah 10 orang terdiri atas 4 orang berjenis kelamin laki-laki dan 6 orang.

Persepsi perilaku seksual di tinjau dari aspek pengerahuan

Hasil wawancara dengan informan di tentang persepsi perilaku seksual sebagai berikut : :

maksudnya a goco’ klo itu kutau ki kukurasa setiap laki- laki juga sering melakukannya munafik klo tidak pernah ” (Ab 18 tahun)

yang kutau itu a coli ,nonton film bokep ,pegang –pegang daerah sensitive pacar paha ,payudara a kemudian di bawa ke kamar kost nah sudahmak juga melkukan hubungan seksual tapi bukan dengan pacarku , orang lainnji “ (Aw 18 tahun )

dikasih muncrat di luarki toh nda di kasih keluar didalam biasa” (Al 18 tahun )

pake ki kondom ,enakji juga biar nda di kasih masuk kasih sentuh-sentuh sj ala kelminnya nah ada juga obat KB tapi susah dapatnya   (Rt 17 tahun

Ada namanya senggama terputus bisa juga pake kondom nda hamilki ada juga perhitungan masa subur dan tidak subur tapi tidak kutahuki namanya sj kuatahu “  (Fb 18 tahun )

Persepsi perilku seksual di tinjau dari aspek religiutas

Hasil wawancara dengan informan tentang bagaimana kepercayaan mempengaruhi perilaku seksual informan dalam kehidupannya ,informan tahu mana yang baik dan mana yang buruk namun sebagian besar inforoman tidak yakin bahwa dengan beribadah dengan baik dapat mencegah dari perilaku seksual yang menyimpan. Berikut pernyataan informan :

“iya biar bagus ibadah belum tentu terhindar dari perbuatan zina tapi bisa juga sih tapi nda yakin ka sy aka godaannya besar “ (As 18 tahun)

ah biar bagus ibadahta tergoda jaki juga” (Bm 17 tahun )

Namun sebagian kecil informan juga masih percaya bahwa ketika kita dekat dengan Tuhan mampu mencegah kita dari perbuatan yang tidak baik sebut saja disini melakukan perzinahan atau hubungan seksual pra nikah. Berikut pernyataan informan :

klo bagus agama ta jelas mi bisa ki terhindar dari perbuatan itu ka takutki pasti melakukan “ (Ad 17 Tahun)

iya In sha Allah klo bagus ibadah ta ,bagus juga sikap dan tingkah laku ta mampuki hindari hal-hal seprti itu” (Ah 18 Tahun)

Hasil wawancara tersebut mampu meberikan gambaran bahwa ada keraguan dalam diri tiap informan tentang pengaruh dari taat terhadap Tuhan mampu mencegah kita dari perbuatan yang menyimpang seperti hubungan seksual di luar nikah maupun perilaku seksual seperti masturbasi atau onani namun mereka juga mempunyai keyakinan bahwa itu semua tergantung dari individu yang melaksanakannya.

Persepsi perilaku seksual di tinjau dari aspek budaya.\

Hasil wawancara dalam penelitian ini terkait dengan pengaruh budaya terhadap perilaku seksual informan mempunyai pengaruh yang sangat signifikan. Mereka sebagian percaya bahwa budaya membentuk pola perilaku seksual mereka sebagai contoh budaya siri” yang masih mengakar dalam diri mereka. Berikut pernyataan informan :

“ jelas malu ki klo hamil di luar nikah ki pacar ta ,orang tua juga pasti malu kan orang nabilang paka siri’-siri” na kasih hamil anaknya orang “ (Ad 18 Tahun)

iya klo saya malu ka iya ,teman ku saja klo ada yang hamil di luar nikah pasti kita juga ikut malu tapi nda berarti harus di hindari “ (As 16 Tahun )

Berikut pernyataan informan ketika di tanya tentang keperawanan

y sebenarnya klo ada yang tahu kita sering a goco pasti malu ki tapi itu nu bukan mi lagi rahasia tapi siri-siri ki memang klo na tahu temanta” ( Gh 18 tahun)

Adapun pernyataan yang berbeda dari informan lain dimana informan tersebut tidak terlalu peduli dengan status baik perawan atau tidak perawan ,lelaki yang baik atu buruk tapi tergantung dimana mereka menyukainya walaupun itu buruk. Berikut pernyataannya :

“y tidak apaji sering di kasih begitu orang yang penting mau ji juga klo ku ajkki berhubungan badan “( Ca 18 Tahun ).

klo ada temanku hamil di luar nikah nda apaji juga ,kutemani ji iya yang penting saya tidak ikut-ikutan kyak gtu toh nah sering sj dibilangi klo itu salah dan tidak malu ja berteman sama orang kyak gtu “ (Ga 18 Tahun )

Kesimpulan dari wawancara tentang pengaruh budaya terhadap persepsi perilaku seksual sebagian besar informan masih menyimpang budaya siri dalam masyarakat yakni budaya malu ketika melanggar moral yang tidak sesuai dengan tatanan nilai social yang melekat selama ini di masyarakat..

Persepsi perilku seksual di tinjau dari aspek Lingkungan Keluarga

Hasil wawancara ini memberikan gambaran perilaku dari lingkungan keluarga utamanya orang tua dalam menanamkan nilai-nilai terhadap anaknya dalam pergaulan social dimana anak sendiri mengungkapkan pelajaran yang sering di ajarkan leh orang tuanya. Berikut pernyataan informan :

orang tua jelas melarang melakukan hal yang tidak baik sebut saja berhubungan badan maupun onani tapi mau di apa klo pengaruh teman lebih besar dalalm hal itu ,klo natauki orang tuaki marahki iya ( As 18 Tahun)

y di dimarahi ki iya tapi nabiarkan ja pacaran yang penting sewajarnya tidak melakukan hal-hal di luar kewajaran misanya klo Cuma pegangan tangan tidak apa-apa tapi klo sampai remas dada ,atau ciun ciuman atau ML y orang tua jelas marah ’’     (Ag 17 Tahun)

“pernahmaka berhubungan seksual tapi orang tua ku tidak tau y klo mereka natau ki pasti marahki”    (Fg 18 Tahun )

Lingkungan pertemanan juga mempengaruhi persepsi siswa terhadap perilaku seksual dimana mereka mendapatkan akses untuk dari teman dan di akses melalui internet,mereka mengatakan melakukan onani setelah menonton video porno[ dari hp teman maupun dari hp sendiri. Berikut pernyataan reponden :

“kemarin barusanka nonton film porno mia khalifa ,biasanya nonton bareng sama teman ,klo udh y biasanya kita coli (onani) sendiri di kamar”      ( Hj 18 Tahun)

“klo menurut saya memang penting orang tua dalam mengontrol setiap pergaulan anaknya tapi orang tua ku acuh tak acuh ji jadi nda peduli klo saya pegang anaknya orang ,nonton film porno”

Kesimpulan dari wawancara ini informan memimilki keyakinan yang kuat bahwa lingkungan keluarga sangat penting dalam menentukan perilaku seksual mereka. Kelurga menjadi alasan yang kuat untuk tidak melakukan hubungan seksual di luar nikah, keluarga berperan penting dalam kontrol,pola asuh dan





PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan mempunyai peran yang sangat penting dalam membentuk opini remaja di kedua sekolah, informan remaja di SMA 1 juga memilki pengetahuan tentang perilaku seksual namun terbatas pada teorinya namun dari segi aksi informan remaja SMK 1 lebih berani. Informan SMK 1 lebih berani karena mengetahui cara mengatasi dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan sebut saja melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis mereka tahu cara mencegah kehamilan sehingga berani untuk aksi sedangkan remaja di SMA 1 takut untuk melakukannnya karena tidak mengetahui cara untuk meminimalisir resiko misalnya cara mencegah kehamilan

Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh kann ( 2017) bahwa remaja yang memilki pengetahuan yang baik tentang perilaku seksual cenderung untuk melakukan hubungan seksual, mereka yang mengetahui tentang kondom misalnya mencoba untuk melakukan hubungan seksual tanpa berpikir resikonya .

Penelitian ini juga sejalan dengan Parkers (2015) remaja yang mendaptkan pengetahuan informasi seksual mempunyai keingina yang kuat untuk melakukan hubungan seksual pra nikah.

Hasil penelitian bahwa informan dari SMA 1 dan SMK 3 sama memiliki persepsi yang baik tentang pentingya mengamalkan nilai-nilai religiutas dalam berperilaku seksual. informan meyakini bahwa jika seseorang mengamalkan nilai-nilai religiutas dengan baik akan terhindar dan menunda berperilaku seksual pra nikah sebaliknya yang religiutasnya rendah akan cenderung untuk melakukan perialku seksual pra nikah.

Penelitaan oleh Fieder (2016) menyimpulkan bahwa orang yang berafiliasi dengan agama memiliki keyakinan akan medapatkan keturunan yang lebih baik setelah pernikahan nanti. Hal ini mereka lakukan sejak masa sebelum menikah sehingga mereka mempunyai keyakinan bahwa ketika menikah akan mendapatkan anak yang lebih baik

Penelitian yang sama oleh rostoky (2017) menunjukkan bahwa religiutas berpengaruh untuk menunda hubungan seksual dini. remaja .Remaja yang menjadi anggota dari religiutas gereja mempunyai dorongan yang kuat untuk mencegah diri dari seksual dini.

Penelitian oleh Longest (2017) menunjukkan agama individu pencegah paling konsisten untuk memulai hubungan seksual dan memiliki banyak pasangan hubungan seksual. Partisipasi dalam kegiatan keagamaan dikaitkan dengan kemungkinan lebih rendah dari penyesalan seksual, tetapi ikatan dengan orang dewasa dalam satu kongregasi religius dikaitkan dengan peningkatan penyesalan seksual.

Hasil penelitian menemukan bahwa informan meyakini peran penting budaya dalam berperilaku seksual. informan menyebut budaya yang di kenal dengan siri-siri, budaya ini membuat mereka membatasi ,menunda atau bahkan membuat mereka tidak berperilaku seksual pra nikah.

Penelitian oleh Rahman (2014) Seksualitas dalam masyarakat yang pada awalnya dipahami sebagai sesuatu yang sakral sehingga sangat dijaga keberadaannya sebagai bagian dari harkat dan martabat keluarga telah mengalami pergeseran makna utamanya bagi generasi muda masyarakat Bugis itu sendiri. Pergeseran tersebut tidak terlepas dari pengaruh gaya hidup yang terbingkai dalam arus faktor penyebab terjadinya liberalisasi seksual baik pria maupun perempuan. Menghadapi fenomena seperti ini, tentunya amatlah penting untuk merevitalisasi kembali nilai-nilai budaya, utamanya siri sebagai bagian dari nilai budaya.

Hal ini pun sejalan dengan penelitian Dune (2017) menyimpulkan hanya dengan mempertahankan nilai budaya positif yang tertanam dahulu mampu untuk membuat seseorang membangun, mengalami dan memahami berbagai aspek kesehatan seksual yang baik..

Hasil penelitian di menunjukkan informan SMA 1 dan SMK 3 memiliki persepsi yang lebih baik akan pentingnya lingkungan keluarga yang harmonis dan pola asuh orang tua yang baik terhadap mereka yang membuat mereka tidak berperilaku seksual pra nikah.

Penelitian yang dilakukan Silva R ( 2018) menunjukkan bahwa hubungan berkualitas tinggi antara remaja dan orang tua mereka, terutama antara ibu dan anak perempuan, dapat membantu melindungi terhadap inisiasi seksual dini, orang tua dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan perilaku seksual yang sehat.

Penelitian yang dilakukan oleh Overbeek G (2018) menemukan bahwa pengasuhan khusus seksualitas oleh keluarga dapat menentukan perilaku seksual remaja diantaranya komunikasi orang tua yang lebih sering dari norma-norma seksual yang berorientasi pada cinta-dan-hormat dikaitkan dengan sikap seksual yang kurang permisif dengan perilaku seksual yang kurang maju dan peningkatan perilaku seksual berisiko yang kurang cepat pada laki-laki namun pada perempuan komunikasi terstruktur mampu mengubah pola perilaku terkait seksual pada perempuan.

Penelitian juga dilakukan oleh Winston (2015) menemukan bahwa komunikasi yang baik antara remaja dengan orang tuanya akan membentuk persepsi seksula yang positif. Remaja lebih percaya untuk terbuka dalam mebicararakan setiap masalah dengan ibu mereka daripada ayah disebabkan timbul kesan bahwa ibu merupakan insan yang penyayang sementara ayah dipandang sangat tegas dan menakutkan untuk membicarakan hala-hal seperti seksualitas.

 

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa persepsi dari siswa SMA 1 dan SMK 3 yang baik terhadap pengetahuan , religiutas , budaya dan lingkungan keluarga yang membuat mereka tidak berperilaku seksual pra nikah. Faktor lingkungan keluraga dan budaya adalah faktor yang lebih dominan menentukan persepsi dari informan sebaliknya faktor pengetahuan dan kepercayaan tidak mempunyai dampak yang signifikan terhadap perilaku mereka.

 

DAFTAR PUSTAKA

BAPPENAS, BPS dan UNFPA.( 2013). Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Jakarta: BPS

Dune.(2017). Culture Clash? Investigating constructions of sexual and reproductive health from the perspective of 1.5 generation migrants in Australia using Q methodology.

Fieder.(2016). The association between religious homogamy and reproduction.

Fit nawati.2013.Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Sikap Siswa-Siswi SLTA Terhadap Hubungan Seksual Pranikah di Kota Samarinda. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

Green,j & Thorogood,N (2009).Qualitive Methodes for Health Research Second Edition,Grey Britain,SAGE

Jalaluddin. (2008). Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada

Kann.(2017). Youth Risk Behavior Surveillance

Kyle C. Longest.(2017). Moral Communities and Sex: The Religious Influence on Young Adult Sexual Behavior and Regret. North Dakota State University.

Lembaga Perlindungan Anak (LPA). (2013). Kumpulan catatan Penanganan kasus di LPA DIY. Yogyakarta: LPA DIY (tidak terbit)

Overbeek G1.(2017). Buffer or Brake? The Role of Sexuality-Specific Parenting in Adolescents’ Sexualized Media Consumption and Sexual Development.

Pastor.(2017). Trends in Sexual Behaviour in Czech Schoolchildren between 2002-2014.

Rahman .(2014).seksualitas dan kearifan dalam budaya bugis.Fakultas ilmu sosial.Universitas Negeri Makassar

Rostosky.(2018). The Impact of Religiosity on Adolescent Sexual Behavior. University of Nebraska

Tashakori A.(2017). Lessons learned from the study of masturbation and its comorbidity with psychiatric disorders in children: The first analytic

Sarwono, S. W. Psikologi Remaja Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2012

Silva R.(2018). Mother- and Father-Adolescent Relationships and Early Sexual Intercourse.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Winstons.(2015).Prevalence of sexually transmitted infections including HIV in street-connected adolescents in western Kenya.

World Health Organization (WHO) (2014). Commission on Ending Childhood Obesity. Geneva, World Health Organization, Departement of Noncommunicable disease surveillance.