Ming. Jun 16th, 2019

SULFUR DIOXIDE (SO2) EXPOSURE RISK ASSESMENT AGAINST IMPAIRED LUNG CAPACITY ON CITIZENS AROUND PT SEMEN BOSOWA DISTRICT

RISIKO KESEHATAN PAJANAN SULFUR DIOKSIDA (SO2)

TERHADAP GANGGUAN KAPASITAS PARU PENDUDUK

DI SEKITAR PABRIK PT SEMEN BOSOWA KABUPATEN MAROS

 

 

SULFUR DIOXIDE (SO2) EXPOSURE RISK ASSESMENT

AGAINST IMPAIRED LUNG CAPACITY ON CITIZENS

AROUND PT SEMEN BOSOWA DISTRICT

 

Andi Muhammad Ilham1, Anwar Daud2, Hasan Hasyim3

 

 

1Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

                                                  (email : amuhilham19@gmail.com )

2Bagian Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan masyarakat, Universitas Hasanuddin

(Email : anwardaud66@gmail.com )

3Bagian Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin

 

 

 

 

 

 

 

Alamat Korespondensi :

 

Andi Muhammad Ilham

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Hasanuddin

Makassar

HP : 082188869272

Email : amuhilham19@gmail.com

 

 

 

 

ABSTRAK

Sulfur dioksida

Kata Kunci : ARKL, SO2 dan kapasitas paru

ABSTRACT

Sulfur dioxide (SO2) is one of the emission gasses produced by the cement plant. This substances can cause health problems such as respiratory disorders and impaired lung capacity. That is being an underlie of this study which analyzes SO2 exposure to impaired lung capacity in people living around the PT Semen Bosowa Plant in Maros Regency. This study is a quantitative study that uses the design of Environmental Health Risk Analysis (ARKL) to examine the potential risk of SO2 concentration exposure to impaired lung capacity in residents living around the PT Semen Bosowa plant in Maros Regency. A total of 48 research participants were measured at 6 points of outdoor environment and 24 indoor environment points. Spearman Rho test used to analyzed the relationship between SO2 exposure to lung capacity disfunction and several other factors. The results showed that the potential risk of SO2 exposure which exposed both inside and outside the house has RQ value < 1. This indicates that the concentration of SO2 both inside and outside the house unpotentially affect to the citizens lung capacity disfunction who living around the factory PT. Semen Bosowa on Maros District. The study also found that there was no significant relation between SO2 concentration and lung capacity (p = 0,115), length of stay (p = 0,197), IMT (p = 0,713) and age (p = 0,464) in all participants.

Keywords: ARKL, SO2 and lung capacity

 

 

 

 



PENDAHULUAN

Perkembangan kebutuhan gedung dan perumahan berdampak pada peningkatan produksi bahan baku perumahan khususnya semen yang diolah dari bahan bukit karst. Kondisi tersebut menimbulkan perubahan lingkungan di sekitar pabrik yang dapat berdampak pada gangguan terkait risiko yang ditimbulkannya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Salah satu pabrik semen yang berada di Sulawesi Selatan adalah pabrik Semen Bosowa yang terletak di Kabupaten Maros. Pabrik ini merupakan pabrik semen terintegrasi dan berada di lokasi tempat penambangan batu kapur yang merupakan bahan baku utama pembuatan semen.

Semen adalah bahan hidrolis yang dihasilkan dengan cara menggiling klinker semen, terutama yang terdiri atas kalsium silikat yang bersifat hidrolis dan digiling bersama-sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat dan dapat ditambah dengan bahan lain. Dengan bahan mentah berupa material alami antara lain batu kapur, tanah liat, pasir silica, pasir besi sebagai umpan proses raw mill. Efek emisi gas yang ditimbulkan salah satunya adalah sulfur dioksida (SO2). (Kementrian Perindustrian RI, 2015).

Beberapa penelitian membuktikan bahwa penggunaan bahan bakar industri memberikan dampak terhadap gangguan kesehatan masyarakat akibat emisi gas buang. Negara Cina yang menggunakan bahan baku energi batubara menyebabkan hampir semua kota di Cina melebihi standar ambien dan berdampak pada meningkatnya gangguan kesehatan. Korelasi signifikan terutama dengan SO2 berdasarkan analisis statistik (WHO-UNDP, 2001). Data penelitian yang mengukur variabel batuk dan belerang (Groneberg-Kloft, et al. 2006) menemukan adanya hubungan antara paparan SO2 dan gangguan gejala pernapasan seperti batuk kronis dan morbiditas. Penelitian yang dilakukan oleh Mehraj et al. (2013), terkait risiko kesehatan di kawasan industri semen di Khrew, Kashmir, India, menemukan bahwa konsentrasi SO2 di beberapa titik bervariasi, antara 101,1-129,34 µg/m3 (konsentrasi rata-rata 115,82 µg/m3). Konsentrasi ini diatas nilai ambang batas yang ditetapkan oleh Central Pollution Control Board of India (CPCB) India, yakni 80 µg/m3. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap kondisi kesehatan. Penelitian di Afrika Selatan (Oyewale et. Al., 2017) menunjukkan pajanan kronis SO2 menghasilkan HQ/RQ) > 1 yang berarti masyarakat beresiko terpajan SO2 yang tentunya akan menimbulkan efek negatif bagi kesehatan.

Dari profil Dinas Kesehatan Kab. Maros selama tiga tahun, terdapat 3 penyakit gangguan pernafasan yang masuk ke dalam pola 10 penyakit utama. Penyakit tersebut meliputi batuk, ISPA dan influenza. Data terakhir menunjukkan jumlah penderita ISPA 756 kasus, influenza 670 kasus, batuk 618 kasus (Profil Kesehatan Kab. Maros, 2016). SO2 menyebabkan reaksi dengan efek kelembaban di mata, paru-paru, dan membran mukosa lainnya, membentuk asam yang sangat mengganggu. Paparan juga memperparah pernafasan atau penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya. (Hill, Marquita. 2004). SO2 merupakan gas buangan yang larut dalam air yang langsung dapat terabsorbsi di dalam hidung dan sebagian besar saluran ke paru-paru. (Mallongi, 2015)

Analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) adalah sebuah proses yang dimaksudkan untuk menghitung atau memprakirakan risiko pada kesehatan manusia. Analisis ini juga mengidentifikasi keberadaan faktor ketidakpastian, penelusuran pada pajanan tertentu, memperhitungkan karakteristik yang melekat pada agen yang menjadi perhatian dan karakteristik dari sasaran yang spesifik. Tingkat risiko (risk quotient [RQ]) merupakan besarnya risiko yang dinyatakan dalam angka tanpa satuan yang merupakan perhitungan antara intake dengan dosis/ konsentrasi referensi dari suatu agen risiko non karsinogenik serta dapat juga diinterpretasikan sebagai aman/tidak amannya suatu agen risiko terhadap organisme, sistem, atau sub/populasi (Daud,A dan Dullah,A. 2013) Penelitian ini mencoba melihat pada dua aspek, yakni sumber pencemar sulfur dioksida di luar rumah (ambient). Selain itu juga menganalisa hubungan kualitas udara dalam ruang akibat paparan SO2 terhadap pengaruhnya bagi kesehatan (penurunan kapasitas paru) pada lokasi desa Barugayya dan desa Tukamasea Kab. Maros. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan dalam bentuk wawancara kepada masyarakat diketahui bahwa sering tercium bau. Hal ini mengindikasikan pada daerah tersebut terdapat polutan pencemar udara yang berasal dari aktivitas industri semen.

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko paparan SO2 dan kejadiannya terhadap penurunan kapasitas fungsi paru (FEV1 dan FVC) pada masyarakat yang bermukim di sekitar pabrik PT Semen Bosowa Kabupaten Maros. Analisis terhadap pajanan SO2 kaitannya terhadap perbedaan lokasi terpajan, masa tinggal, indeks massa tubuh, serta usia responden penelitian termasuk dalam tujuan khusus penelitian ini.

 <script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-5087777004446855″
data-ad-slot=”6925839301″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Rancangan Penelitian

Lokasi Penelitian adalah pemukiman yang berbatasan langsung dengan pabrik semen PT Bosowa Kab. Maros, meliputi Desa Baruga dan Desa Tukamasea kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan rancangan penelitian “cross-sectional” dan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL).

 

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi objek adalah rumah tinggal yang berada di dalam wilayah Desa Baruga dan Desa Tukamasea. Sedangkan populasi subjek adalah masyarakat dengan keluhan gangguan pernapasan. Sampel lingkungan dalam penelitian ini adalah konsentrasi SO2 sebanyak 6 titik di luar dan 24 titik dalam rumah, sedangkan sampel manusia sebanyak 48 orang yaitu 24 orang setiap desa di sekitar wilayah Industri Semen Bosowa.. Setiap rumah dipilih 2 sampel/responden. Penentuan besaran sampel dalam penelitian ini berdasarkan purposive sampling. Kriteria inklusi sampel, yaitu :

  1. Rumah responden merupakan rumah tinggal yang tidak memiliki fungsi ganda (fungsi usaha maupun fungsi jasa)

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan peralatan yang digunakan untuk mendapatkan data sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini peralatan yang digunakan dalam pengambilan data pendukung adalah :

  1. Alat tulis yang digunakan untuk mencatat data penelitian.

Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer untuk pengukuran konsentrasi emisi SO2 dilakukan dengan pengukuran impinger, data mengenai sumber paparan SO2 diketahui berdasarkan wawancara langsung menggunakan kuisioner.

Analisis Data

Data dianalisis secara statistik dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) Versi 20.00. Analisa data hasil penelitian dilakukan dalam beberapa cara. Langkah pertama yaitu analisis univariat yang dilakukan dengan mendeskripsikan karakteristik sampel dari setiap variabel yang diukur. Data skala kategorik dianalisis dengan tabel distribusi frekuensi, sedangkan data dengan skala numerik dianalisis dengan ukuran pemusatan dan penyebaran data. Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis bivariat untuk   menganalisis hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Analisis dilakukan dengan analisis korelatif menggunakan uji korelasi pearson   dan uji statistik lainnya yang sesuai. Interpretasi uji dengan membandingkan nilai p < α (α = 0,05).

HASIL

Karakteristik sampel

Tabel 2 memperlihatkan karakteristik responden yang diteliti dalam penelitian ini. Dari dua desa yakni Desa Baruga dan Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung, masing-masing 24 responden dari 24 rumah. Tingkat pendidikan responden tamatan SD (29,2%), tamatan SLTP (12,5%), SLTA (33,3%, S1 (20,8%) dan tidak sekolah (4,2%). Karakteristik responden yang diduga merupakan subyek terdampak atas gangguan fungsi paru. Adapun distribusi karakteristik berdasarkan umur antara 36 – 43 tahun, rata-rata 39,21 tahun (SD = 11,9). Untuk indeks massa tubuh (IMT) rata-rata 24,32 (SD = 3,9) dan lama tinggal rata-rata 28,42 tahun (SD = 14,7).

Hasil pengukuran kadar konsentrasi SO2 (Tabel 3) pada lingkungan luar tertinggi di titik 1 (43,109 µg/Nm3) yang berada di desa Tukamasea, sedangkan konsentrsi terendah di titik 6 (1,053 µg/Nm3) di desa Baruga. Sedangkan untuk di dalam rumah pada 24 rumah yang diukur menunjukkan nilai tertinggi adalah rumah 5 (7,389 µg/Nm3) dengan 7 rumah tidak terdeteksi (0).

Kapasiatas fungsi paru

Hasil pengukuran kapasitas paru menggunakan spirometri diketahui kondisi distribusi responden yang masih normal (50%), restriksi ringan (16,7%) restriksi sedang (14,6%) dan restriksi berat (18,7%). Sedangkan nilai hasil korelasi gangguan kapasitas paru dengan umur ( p = 0,464), sementara dengan lama tinggal dihasilkan (p = 0,197) dan status gizi (IMT) dengan nilai (p = 0,713). Secara statistik menunjukkan ketiga variabel tidak ada yang menunjukkan hubungan terhadap gangguan kapasitas paru.

Analisi Risiko Kesehatan

Pada tabel 2 mengukur nilai risiko (RQ) dengan merata-ratakan kadar konsentrasi di luar dan dalam rumah untuk mengukur konsentrasi dan intake yang ditimbulkan. Dari hasil pengukuran diketahui 24 rumah yang dianalisis 24 rumah dengan 48 responden menunjukkan nilai 1 < RQ, dengan nilai tertinggi pada responden 1 sebesar 0,048.

Analisis Ekologi

Hasil pengukuran nilai risiko ekologi pada 6 lokasi ambien dengan nilai tertinggi pada lokasi titik 1 sebelah timur pabrik PT Semen Bosowa Kabupaten maros.

PEMBAHASAN

baik bagi hewan maupun tumbuhan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan yang bisa diperoleh dari penelitian ini bahwa hasil pengukuran parameter SO2 baik di luar maupun di dalam rumah masih di bawah ambang batas baku mutu yang dipersyaratkan. Adanya gangguan fungsi paru pada lokasi penelitian tidak ada hubungan yang bermakna dengan konsentrasi SO2, status gizi, lama tinggal dan umur responden. Upaya pemantauan dan penyampaian hasil pengukurannya oleh pemerintah perlu senantiasa diinformasikan ssecara berkala dan terbuka kepada masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Daud,   A., dan Dullah, A. AM. (2013). Perspektif Analisis Risiko Lingkungan dan Kesehatan. Yogyakarta : CV Writing Revolution.

 

 

 

 

Tabel 2. Distribusi karakteristik umum responden di sekitar pabrik PT Semen Bosowa Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros Tahun 2018

 

Karakteristik Jumlah (n) Persentese (%)
Desa/Kelurahan

Desa Baruga

Desa Tukamasea

 

24

24

 

50

50

T o t a l 48 100
Pendidikan Terakhir

Tidak Sekolah

Tamat SD/Sederajat

Tamat SLTP

Tamat SLTA

Tamat S1

 

 

2

14

6

16

10

 

4.2

29.2

12.5

33.3

20.8

T o t a l 48 100
Jenis Kelamin

Laki – Laki

Perempuan

 

24

24

50

50

T o t a l 48 100
Status Pekerjaan

PNS

Wiraswasta

Petani

Buruh

Tidak Bekerja

Lainnya

3

4

3

13

22

3

6.25

8.34

6.25

27.08

45.83

6.25

   T o t a l 48 100

Sumber : Data Primer, 2018.

 

Tabel 3. Hasil pengukuran kadar Sulfur dioksida (SO2) titik di luar rumah pada pemukiman sekitar pabrik PT Semen Bosowa Kabupaten Maros tahun 2018

Lokasi Hasil Ukur (µg/m3) Baku mutu (µg/m3) Konversi

(ppm)

Kategori
Titik 1 43,109 900 0.0165 MS
Titik 2 6,677 900 0.0026 MS
Titik 3 3,514 900 0.0013 MS
Titik 4 5,526 900 0.0021 MS
Titik 5 2,347 900 0.0009 MS
Titik 6 1,053 900 0.0004 MS

Sumber : Data Primer 2018