Sel. Mei 21st, 2019

Permasalahan Ibu Hamil di Indonesia

A. Kondisi Ibu Hamil di Indonesia

Di Indonesia terdapat Maternal Mortality Ratio (MMR) sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup, yang tergolong diantara yang paling tinggi di Asia. Perkiraan Depkes adalah bahwa rasio ini adalah tiga sampai enam kali lipat dibanding rasio di negara- negara ASEAN lainnya, dan lebih dari 50 kali lipat dibanding rasio di negara-negara majui.

Depkes telah mengidentifikasi tiga jenis “keterlambatan” sebagai penyebab sebagian besar kematian ibu di Indonesia: (1) keterlambatan menyadari kebutuhan akan rujukan dan keterlambatan dalam pengambilan keputusan dalam mencari perawatan yang tepat; (2) keterlambatan dalam mencapai fasilitas kesehatan; dan (3) keterlambatan dalam memperoleh perawatan yang memadai pada fasilitas kesehatan. Depkes telah menentukan target untuk meningkatkan proporsi persalinan yang ditolong atau disupervisi oleh tenaga kesehatan menjadi 60%.





Hal-hal tersebut diatas bukan hanya memberi penekanan adanya kebutuhan untuk memberdayakan sistem pelayanan kesehatan yang ada serta keterampilan petugasnya, tetapi juga kebutuhan akan intervensi-intervensi guna mengurangi resiko terjadinya suatu kasus darurat obstetrik. Dengan demikian, disamping pemberdayaan sistem pelayanan kesehatan dan peningkatan perilaku mencari kesehatan dan mencari pertolongan persalinan, seyogyanya perlu dilaksanakan intervensi-intervensi yang bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi-komplikasi obstetrik yang berkaitan dengan status kesehatan yang buruk, termasuk status gizi yang buruk. Status gizi ibu hamil telah diidentifikasi oleh Depkes sebagai sebuah faktor penting yang berperan dalam terjadinya kematian ibu yang tinggi di Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia telah melaksanakan berbagai program untuk mengatasi hal ini termasuk juga program penempatan bidan terlatih di sebagian besar desa sebagai salah satu cara untuk meningkatkan akses masyarakat ke perawatan ibu hamil yang memadai.

B. Penyebab Kematian Ibu dan Hubungannya dengan Gizi

Seperti telah disebutkan di atas, beberapa faktor yang berperan sebagai penyebab kasus kematian ibu banyak diantaranya dapat dicegah. Secara global, kurang lebih 60% dari kasus kematian ibu terjadi karena faktor-faktor obstetrik langsung. Faktor tersebut termasuk perdarahan (25%), infeksi/sepsis (15%), eklampsia (12%), dan persalinan terhambat (8%). Survei Rumah Tangga Nasional Tahun 1995 melaporkan penyebab kematian ibu di Indonesia sebagai berikut:

Meskipun etiologi faktor-faktor penyebab tersebut diatas adalah kompleks, bukti yang ada menunjukkan bahwa banyak faktor penyebab dipengaruhi secara langsung ataupun tidak langsung oleh status gizi mikro.

a) Perdarahan dan Anemia

Perdarahan adalah faktor yang paling sering menyebabkan terjadinya kematian ibu di Indonesia, terjadi hampir dua kali lipat dibandingkan dengan rata-rata di tingkat dunia dan merupakan masalah yang sangat serius untuk kesehatan ibu. Seperti diuraikan secara rinci dibawah, anemia merupakan faktor resiko besar untuk kematian yang berkaitan dengan perdarahan. Akan tetapi tingginya angka kematian karena perdarahan mungkin juga berkaitan erat dengan integritas jaringan yang kurang, yang menyebabkan perdarahan secara berlebihan dan berkurangnya trombosis. Kedua proses terakhir ini lebih diperparah lagi oleh kekurangan mikronutrien seperti seng, tembaga dan vitamin B kompleks.

Anemia berkaitan dengan persalinan prematur, kematian perinatal, berat badan lahir rendah, dan partus lama akibat kelelahan. Kekurangan zat besi dianggap sebagai faktor penyebab paling umum dari anemia, tetapi kekurangan vitamin A dianggap ikut berperan. Hal ini telah dibuktikan oleh suatu penelitian pada ibu hamil di Indonesia, yang menemukan bahwa penurunan paling besar dalam prevalensi anemia dicapai dengan pemberian suplementasi dengan vitamin A dan zat besi, dibandingkan dengan salah satu jenis suplemen saja.iii

Akibat potensial dari anemia terhadap kematian ibu dan anak di Indonesia ditemukan melalui Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), anemia ditemui pada 50% ibu hamil, 30% pekerja wanita dan 20-30 % wanita dewasa

b) Pre-eklampsia

Pre-eklampsia merupakan suatu kelainan yang hanya terdapat pada ibu hamil. Gejala klinis utama adalah hipertensi dan proteinuria. Berbagai organ tubuh terlibat dalam sindroma ini, yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dan hati, perdarahan

serebral, dan kematian. Perubahan pembuluh darah pada plasenta mengakibatkan menurunnya aliran darah antara rahim dan plasenta yang pada gilirannya akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dalam rahim dan beresiko pada terjadinya morbiditas dan mortalitas perinatal. Meskipun patofisiologi pre-eklampsia belum diketahui secara tepat, kemungkinan reaksi imunologis lokal dan/atau sistemis, kerusakan pada endotel, aktivasi trombosit, dan rendahnya konsentrasi kalsium, beta-karoten (vitamin A) dan retinol (Vitamin C)iv,v semuanya ikut berperan.



c) Partus lama dan persalinan terhambat

Persalinan terhambat adalah konsekuensi dari mal-presentasi janin atau cephalo-pelvic disproportion dimana jalan lahir tidak mampu untuk dilewati kepala janin. Status gizi pre-natal yang lebih baik mungkin dapat memodulasi baik partus lama maupun persalinan terhambat dengan cara mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi akibat hormon-hormon, termasuk proses melunaknya struktur-struktur pinggul dan kelenturan jaringan lunak lainnya, yang menyebabkan pembukaan jalan lahir dengan lebih lebar. Lebih dari itu, vitamin A dan seng telah diimplikasikan sebagai zat-zat gizi yang memiliki peran sangat penting dalam metabolisma dan regulasi hormon-hormon steroid.

Postur tubuh ibu hamil yang pendek merupakan faktor resiko untuk terjadinya persalinan terhambat, yang telah diakui secara luas dan tidak diragukan lagi, dan keadaan itu disebabkan oleh terhambatnya pertumbuhan saat sang ibu sewaktu masih dalam kandungan dan/atau pertumbuhan kurang sewaktu sang ibu masih balita sebagai akibat dari pemberian makanan yang kurang memadai dan seringnya terkena infeksi. Peningkatan status gizi ibu hamil dapat memberi keuntungan jangka panjang, yaitu mengurangi terjadinya persalinan terhambat pada generasi ibu berikutnya.

d) Infeksi

Infeksi merupakan faktor penyebab sangat penting dari kematian ibu dan kesehatan bayi (baru lahir) yang buruk. Infeksi dapat terjadi selama masa kehamilan, persalinan, dan terutama dalam jangka yang pendek setelah persalinan. Baik vitamin A dan seng telah terbukti sebagai zat yang sangat penting untuk mendukung fungsi sistem imun, dan ternyata rasio kematian ibu lebih tinggi di beberapa belahan dunia dimana terdapat prevalensi kekurangan vitamin A dan seng yang tinggi.

Singkatnya, sangat mungkin terdapat hubungan antara status gizi mikro dengan penyebab-penyebab kematian ibu. Lebih dari itu, telah terkumpul bukti bahwa rendahnya status kesehatan mikronutrien pada ibu hamil dapat menyebabkan kesehatan buruk pada bayi baru lahir, berat badan lahir rendah, serta morbiditas dan mortalitas bayi yang tinggi. Hasil penelitian yang ada makin lama makin banyak yang menemukan peran-peran spesifik dari mikronutrien dalam peningkatan berbagai indikator kesehatan ibu dan anak. Bukti-bukti tersebut secara garis besar diuraikan di bawah. Bukti tersebut memberi pembenaran tambahan pada pemikiran bahwa pemberian suplementasi prenatal yang mengandung berbagai mikronutrien sangat berpotensi untuk mengoptimalkan peran perawatan prenatal dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi.


close