Sel. Mei 21st, 2019

PERBANDINGAN TARIF BERDASARKAN BIAYA SATUAN (UNIT COST), TARIF INA-CBG’s DAN TARIF RUMAH SAKIT PADA INSTALASI RAWAT INAP RSUD KABUPATEN PASANGKAYU

COMPARATIVE COST BASED ON UNIT COST, INA-CBG’s COST AND HOSPITAL COST IN INPATIENT OF GENERAL HOSPITAL PASANGKAYU DISTRICT

Ibrahim Doru1, Amran Razak2, Atjo Wahyu3

1Program Pascasarjana, Departmen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin (Email: ibrahimdoru@yahoo.co.id)

2 Departmen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin (Email:prof.amranrazak@gmail.com)

3Departmen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(Email:atjowahyu.2006@gmail.com)

 

 Alamat Korespondensi

Ibrahim Doru

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Hasanuddin

Makassar, 90242

HP:08135960547

Email: ibrahimdoru@yahoo.co.id

Abstrak

 

Perubahan pembiayaan dari Fee For Service ke INA-CBG’s membawa rumah sakit menghadapi kondisi yang bisa menjadi ancaman atau peluang. Peluang jika rumah sakit mampu memanfaatkan program JKN dengan baik sehingga mampu menyesuaikan tarif INA-CBG’s dan menjadi ancaman bagi pengelolaan keuangan rumah karena belum mampu memberikan pelayanan yang efektif dan efisien sehingga berpengaruh pada standar tarif rumah sakit yang berlaku. Tujuan penelitian ini adalah menentukan tarif rasional dan membandingkan dengan tarif INA-CBG’s serta tarif rumah sakit pada instalasi rawat inap RSUD Kabupaten Pasangkayu.Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik bersifat komparatif. Populasi penelitian adalah pasien rawat inap dengan sampel 40 responden.. Teknik pengambilan sampel dengan cara accidental sampling. Data ATP dan WTP dikumpulkan melalui wawancara dan data transaksi keuangan rumah sakit dianalisis dengan menggunakan metode double distribution. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya tarif rasional diperoleh nilai untuk Kelas VIP sebesar Rp. 407.365,- Kelas I sebesar Rp. 252.489,-, Kelas II sebesar Rp.171.859,- dan Kelas III sebesar Rp. 142.951. Tarif rasional lebih tinggi dari tarif perda rumah sakit. Akan tetapi tarif rasional per jenis tindakan lebih rendah dari tarif INA-CBG’s. Oleh karena itu dalam menentukan tarif rumah sakit perlu mempertimbangkan analisis biaya satuan, kemampuan dan kemauan membayar masyarakat sehingga dapat melakukan efisiensi pengeluaran biaya operasional rumah sakit.

Kata Kunci: Biaya satuan, tarif rumah sakit, tarif INA-CBG’s.

 

Abstract

Financing changes from Fee For Service to INA-CBG’s bring hospitals into the conditions that could be a threat or an opportunity. Opportunities if the hospital is able to utilize the JKNs program well, so that be able to adjust the cost of INA-CBG’s and become a threat for the management of house financing because it has not been able to provide the effective and efficient services that affect the applicable hospital cost standards. The study aimed to determine the rational cost and compare with the cost of INA-CBG’s and the cost of the hospital in Inpatient of General Hospital Pasangkayu District. Comparative analysis designs have been used in this research. The study population were the patients in Inpatient with a sample of 40 respondents were selected by accidental sampling. ATP and WTP data were collected through interviews and the data of hospital financial transaction were analyzed using double distribution method.The results showed that the rational value obtained for the VIP Class of Rp. 407,365, – Class I of Rp. 252.489, -, Class II of Rp.171.859, – and Class III of Rp. 142951. The rational cost is higher than the cost of local regulation of hospital. However, the rational cost per action type is lower than the cost of INA-CBG’s. Therefore, in determining the cost of the hospital needs to be consider the unit cost analysis, ability and willingness to pay of community so that it can perform the efficiency of hospital operating expenses.

Keywords: Unit cost, hospital cost, INA-CBG’s cost.



PENDAHULUAN

Rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan merupakan salah satu komponen penting bagi penyedia dan pemberi pelayanan kesehatan pada pelaksanaan program JKN. Program JKN merupakan bagian dari kebijakan publik sebagai hasil dari good will pemerintah. Keberhasilan program pemerintah dalam JKN antara lain bergantung pada sejauh mana kebijakan ini terimplementasi di rumah sakit (Thabrany, 2014). Program JKN membawa dampak besar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. dimana sebagaian besar rumah sakit selama ini menggunakan mekanisme pembayaran Fee For Service (FFS) mulai beralih ke mekanisme pembayaran dengan klaim Indonesia Case Base Groups (INA-CBG’s).(Kermenkes RI, 2016). Fenomena yang terjadi saat ini adalah biaya pelayanan kesehatan dari tahun ke tahun cenderung meningkat, terutama biaya pelayanan di rumah sakit dengan meningkatnya harga obat-obatan, reagensia dan bahan habis pakai, akibatnya terjadi berbagai problem ekonomi berkaitan dengan tarif rumah sakit. Septianis (2009). Dalam penetapan tarif pelayanan kesehatan didasarkan beberapa faktor, salah satu faktor yang penting adalah besarnya biaya satuan (unit cost) pelayanan yang dibutuhkan.(Suryaman, Amir, Arifin, & Putra, 2013). Penentuan unit cost dipengaruhi oleh pemanfaatan terhadap pelayanan rumah sakit oleh pasien, tersedianya layanan medis dan praktek dokter.(Tanakotta, Lapian, & Kaunang, 2017)

Penghitungan biaya merupakan titik tolak dalam penentuan tarif dengan menghitung rata-rata dan biaya satuan (Razak A, 2004). Biaya satuan adalah biaya yang terhitung untuk setiap satu satuan produk/pelayanan (Maidin, 2013). Untuk menghitung biaya layanan rawat inap perlu diketahui informasi dari unit-unit lain yang terkait (Razak, 2016).

Berdasarkan data awal yang dikumpulkan di RSUD Kabupaten Pasangkayu mengenai tarif yang berlaku berdasarkan pada Peraturan Daerah Kabupaten Pasangkayu no.4 tahun 2016 tentang Tarif Pelayanan Kesehatan Pada RSUD Kabupaten Pasangkayu. Adapun besaran tarif pelayanan di unit rawat inap RSUD Kabupaten Pasangkayu yaitu kelas III sebesar Rp.90.000,-, Kelas II sebesar Rp.100.000,-, Kelas I sebesar Rp.150.000,-   dan Kelas VIP sebesar Rp. 250.000,-

Menurut laporan keuangan RSUD Kabupaten Pasangkayu pada tahun 2016 dan 2017 terlihat perbandingan biaya operasional dan biaya penerimaan. Biaya operasional pada tahun 2016 sebesar Rp.13.589.899.701,- sedangkan penerimaannya sebesar Rp.3.341.450.477,- jadi terdapat selisih biaya operasional sebesar Rp.10.248.449.224,- atau 75,4%. Demikian pula pada tahun 2017 tercatat penerimaan sebesar Rp.4.309.939.945,- sedangkan biaya operasional sebesar Rp. 17.525.627.580,-. Jadi terdapat selisih biaya operasional dengan biaya penerimaan sebesar. Rp.13.215.687.635,- atau 75,4%. (RSUD Kab Pasangkayu, 2017)

Menyadari kemampuan pemerintah yang terbatas untuk mengatasi semua masalah yang dihadapi terutama masalah pembiayaan, maka perlu pelayanan rumah sakit terus ditingkatkan. Salah satu upaya yang dilakukan dalam kondisi saat ini adalah dengan analisis biaya satuan (analisis unit cost) atas pelayanan rumah sakit sehingga dapat diketahui total biaya yang dibutuhkan oleh rumah sakit. Dengan analisis biaya satuan, dapat dilakukan rasionalisasi tarif pelayanan rumah sakit yang nantinya akan dijadikan sumber informasi oleh pemerintah daerah dalam menetapkan tarif rumah sakit yang akan diberlakukan di daerah.

Agar tarif yang ditetapkan sesuai dengan kemampuan dan kemauan masyarakat untuk membeli layanan kesehatan. Hal ini penting dilakukan karena disamping dapat meningkatkan cost recovery dengan tetap melakukan pemerataan (equity), juga memberikan konsekuensi kepada pemerintah daerah terhadap besarnya subsidi.

Analisis biaya dapat memberikan gambaran mengenai besarnya biaya satuan normatif dan aktual suatu rumah sakit, tingkat pemulihan biaya (cost recovery rate), peningkatan efisiensi, subsidi silang antar kelas perawatan di mana kelas VIP dan Kelas I mensubsidi kelas III dan penentuan besarnya subsidi pemerintah, serta negosiasi rumah sakit dalam menentukan tarif rasional. Berdasarkan uraian diatas, maka untuk pengembangan pelayanan di RSUD Kabupaten Pasangkayu sangat penting dilakukan penelitian tentang analisis perbandingan tarif berdasakan Unit cost, tarif INA-CBG’s dan tarif rumah sakit saat ini khusunya di instalasi rawat inap.


BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Desain Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan pada instalasi rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Pasangkayu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik yang bersifat komparatif untuk membandingkan tarif rasional dengan tarif Indonesian Case Base Groups (INA-CBG‟s) serta tarif rumah sakit saat ini di Instalasi rawat inap RSUD Kabupaten Pasangkayu.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua transaksi keuangan yang terjadi pada RSUD Kabupaten Pasangkayu tahun 2017 sedangkan untuk analisis ATP dan WTP yang menjadi populasi adalah semua pasien yang berlaku umum di RSUD Kabupaten Pasangkayu selama jangka waktu penelitian. Sampel dalam penelitian ini untuk analisis unit cost adalah semua transaksi keuangan yang berlaku di Instalasi rawat inap RSUD Kabupaten Pasangkayu tahun 2017 dan untuk ATP dan WTP, yang menjadi sampel adalah pasien umum yang menempati ruang rawat inap di RSUD Kabupaten Pasangkayu. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara accidental sampling, artinya sampel yang diambil adalah pasien umum maupun pasien BPJS yang membayar selisih ruang perawatan dengan kriteria telah dirawat 2 X 24 jam atau lebih dan bersedia di wawancarai.

Teknik Pengumpulan Data

Data primer diperoleh melalui melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner sebagai panduan wawancara. Data Sekunder diperoleh dari laporan tahunan pada sub bagian perencanaan dan program, data asset/ inventaris diperoleh dari bagian pengelola barang dan aset rumah sakit serta laporan penggunaan anggaran diperoleh dari sub bagian keuangan sedangkan untuk data dasar output pelayanan pada pusat biaya penunjang dan pusat biaya produksi diperoleh dari masing-masing unit pelayanan.

Analisis data

Analisis data dalam penelitian dengan menggunakan metode distribusi ganda (double distribution) yaitu menghitung biaya langsung (direct cost), biaya tidak langsung (indirect cost), biaya tetap (fixed cost), biaya tidak tetap (variabel cost) dan biaya investasi. Dalam analisis metode double distribution dilakukan dengan mendistribusikan biaya secara dua tahap. Pada tahap pertama, biaya dari unit penunjang dialokasikan ke unit produksi (rawat inap). Pada tahap kedua, unit penunjang yang telah menyerap biaya dari alokasi tahap pertama dialokasikan lagi ke unit rawat inap, sehingga biaya di unit penunjang habis terbagi ke unit rawat produksi. (Razak, 2016). Analisis kemampuan dan kemauan membayar (ATP dan WTP) dilakukan dengan menghitung rata-rata kemampuan dan kemauan membayar rumah tangga pasien masing-masing kelas perawatan dalam satu tahun dengan menggunakan program SPSS for Windows.


HASIL

Biaya Tetap

Pada tabel 1 menunjukkan bahwa total biaya tetap (fixed cost) sebesar Rp. 9.489.287.591,-. Total biaya tetap (fixed cost) terbesar terdapat pada pusat biaya ruang bedah/OK yaitu sebesar Rp. 1,939,551,950,- (20.44%) dan total biaya tetap (fixed cost) terkecil berada pada pusat biaya poliklinik anak sebesar Rp. 39,895,252,- (0.42%). Sedangkan untuk komponen biaya tetap (fixed cost), investasi alat medis merupakan yang terbesar yaitu Rp. 7,753,868,082,- dan komponen biaya investasi terkecil yaitu biaya investasi kendaraan sebesar Rp. 273,451,821,-.

Biaya Semi Variable

Pada tabel 2 menunjukkan bahwa total biaya operasional tetap (semi variabel cost) sebesar Rp. 4,675,221,109,-. Total biaya operasional tetap (semi variabel cost) pada pusat biaya kantor merupakan yang terbesar yaitu Rp. 1,209,617,706,- (25.87%) dan total biaya operasional tetap (semi variabel cost) terkecil berada pada pusat biaya poliklinik anak sebesar Rp. 43,047,375,- (0.92%). Untuk Komponen biaya operasional tetap (semi variabel cost), gaji pegawai merupakan yang terbesar yaitu Rp. 4,445,421,109,-, disusul komponen biaya pemeliharaan kendaraan sebesar Rp. 107,000,000,- kemudian komponen biaya pemeliharaan gedung sebesar Rp. 65,000,000,- dan komponen biaya pemeliharaan alat non medis sebesar Rp. 32,800,000,- dan pemeliharaan alat medis merupakan yang terkecil sebesar Rp. 25,000,000,-.

Biaya Variable

Pada tabel 3 menunjukkan bahwa total biaya operasional tidak tetap (variabel cost) sebesar Rp. 1,471,364,668,-. Total biaya operasional tidak tetap (variabel cost) pada pusat biaya kelas III merupakan yang terbesar yaitu sebesar Rp. 311,688,644,- (21.18%) dan total biaya operasional tidak tetap (variabel cost) terkecil berada pada pusat biaya poliklinik anak sebesar Rp. 5,180,074,- (0.35%). Selanjutnya untuk komponen biaya operasional tidak tetap (variabel cost), komponen biaya habis pakai (BHP) non medis merupakan yang terbesar yaitu Rp. 651,930,400,-, disusul komponen biaya habis pakai (BHP) medis sebesar Rp. 477,434,268,-, kemudian komponen biaya listrik sebesar Rp. 324,000,000,- selanjutnya komponen biaya air sebesar Rp. 12,000,000,- dan komponen terkecil adalah biaya telepon sebesar Rp. 6,000,000,-.

Anlisis Tarif Rasional

Pada tabel 4 menunjukan bahwa tarif rasional untuk kelas VIP sebesar Rp.407.365,- di atas ATP (Rp.382.531,-) dan WTP (Rp.398.750,-), untuk tarif Kelas I sebesar Rp.252.489,- masih di bawah ATP (Rp.243.750,-) dan WTP (Rp.217.000,- ), untuk tarif kelas II sebesar Rp.171.859,- di atas ATP dan di bawah WTP (Rp.159.444) dan tarif kelas III sebesar Rp.142.951,-   dan masih di bawah ATP (Rp. 132.057) dan WTP (Rp. 120.769 ) per hari rawat

 Analisis Perbandingan Tarif

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa tarif INA-CBG’s pada Kelas I masih tinggi yakni sebesar Rp. 1.535.800,- dibandingkan dengan tarif perda rumah sakit sebesar Rp. 790.000,- dan tarif rasional per jenis tindakan sebesar Rp. 1,275,821,-, untuk rawat inap kelas II tarif INA-CBG’s lebih tinggi yakni sebesar Rp. 1.316.400, dibandingkan dengan tarif perda rumah sakit yakni sebesar Rp. 725.000,- dan tarif rasional per jenis tindakan sebesar Rp.1.190.94,- . sedangkan untuk rawat inap kelas III tarif INA-CBG’s sebesar Rp 1.097.000,- lebih tinggi dari tarif perda rumah sakit yakni sebesar Rp. 635.000.- tetapi lebih rendah dari tarif rasional per jenis tindakan sebesar Rp. 1.160.518,




PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini terlihat bahwa ada beberapa komponen yang mempengaruhi biaya satuan yaitu biaya tetap (fixed cost), biaya operasional tetap (semi variabel cost) dan biaya operasional tidak tetap (variabel cost).

Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah meskipun volume kegiatan berubah, atau relatif tidak dipengaruhi oleh jumlah produksi dan biaya ini tetap dikeluarkan walaupun tidak ada kegiatan pelayanan, Dikatakan tidak berubah sebab berapapun jumlah pasien yang dirawat, tidak akan mempengaruhi nilai dari biaya ini. Biaya tetap untuk rumah sakit adalah biaya pembangunan gedung, pengadaan peralatan medis dan non medis serta pengadaan kendaraan (Darmawansyah, 2017)

Besarnya komponen biaya tetap (fixed cost) gedung sangat dipengaruhi oleh luas gedung, makin luas gedung yang digunakan maka makin banyak biaya gedung yang harus ditanggung disamping itu juga dipengaruhi oleh masa pakai, sedangkan untuk alat medis, alat non medis, dan kendaraan sangat dipengaruhi oleh masa pakai (t), makin tinggi masa pakai, makin tinggi nilai barang tersebut. Dari keempat komponen biaya tetap RSUD Kabupaten Pasangkayu yaitu AIC Gedung, AIC alat medis, AIC alat non medis dan AIC kendaraan; yang terbesar adalah AIC Medis. Hal ini disebabkan biaya pengadaan alat kesehatan untuk memenuhi kebutuhan peralatan di masing-masing pusat biaya cukup besar sedangkan nilai AIC terkecil terdapat pada AIC kendaraan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Fajrin (2017) yang menyatakan bahwa salah satu komponen biaya tetap (fixed cost) yang terbesar adalah komponen investasi alat-alat medis yaitu sebesar Rp. 539.739.027 (56%) dan biaya terkecil adalah kendaraan yaitu sebesar Rp. 66.884.376 (6,9%)

Biaya gaji termasuk gaji bulanan dan insentif yang diterima oleh pegawai RSUD Kabupaten Pasangkayu, baik dokter spesialis, pegawai negeri sipil maupun tenaga honorer di rumah sakit. Besaran gaji pegawai diperuntukkan untuk tunjangan tenaga dokter ahli dan gaji pegawai honorer yang bekerja di RSUD Kabupaten Pasangkayu yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah PNS. Besarnya komponen gaji pegawai sangat erat hubungannya dengan jumlah pegawai yang bekerja, gaji pegawai yang sifatnya biaya operasional tetap (semi variabel cost) merupakan biaya yang tetap harus dikeluarkan oleh pihak rumah sakit dengan jumlah yang sama walaupun output layanan per hari rawat tidak sama atau tidak dipengaruhi kinerja rumah sakit.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Luthfi (2014) yang menyatakan bahwa gaji pegawai merupakan biaya yang paling tinggi untuk semi variabel cost di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Majene dengan nilai gaji pegawai sebesar Rp. 2.939.218.800,- dan biaya terendah terdapat pada biaya pemeliharaan alat non medis sebesar Rp. 68.750.000,-.

Biaya operasional tidak tetap (variabel cost) adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan/output, dan merupakan biaya yang dikeluarkan untuk tetap berlangsungnya suatu proses produksi. Adapun yang termasuk dalam komponen biaya operasional tidak tetap adalah biaya BHP medis, BHP non medis, biaya pemakain listrik, telepon, dan air. Biaya ini tiap tahun berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan/output, biaya operasional tidak tetap (variabel cost) berhubungan dengan jumlah pasien yang mendapat pelayanan, bila jumlah pasien meningkat maka akan berpengaruh terhadap peningkatan biaya operasional tidak tetap (variabel cost). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Nasri Cahaya (2012) yang menyatakan bahwa BHP medis merupakan biaya yang terbesar yaitu Rp. 4.591.695.173 di Rumah Sakit Umum Anatapura Palu. Biaya total (total cost) adalah jumlah keseluruhan biaya yang dibutuhkan oleh rumah sakit yang dalam penelitian ini dihitung dalam satu tahun anggaran yaitu anggaran tahun 2015. Jenis biaya total (total cost) dalam penelitian ini ada tiga yaitu TC I = FC + SVC + VC, TC II = SVC + VC, dan TC III = VC. Setelah ketiga komponen biaya diperoleh, maka dapat dihitung total biaya asli pada masing – masing pusat biaya.

Besaran nilai total dan jumlah output layanan di instalasi rawat inap akan sangat berpengaruh pada perhitungan biaya satuan. Biaya total setelah dilakukan distribusi ganda dibagi dengan jumlah output berupa jumlah hari rawat di ruang rawat inap akan menghasilkan biaya satuan masing-masing kelas perawatan.

Dengan total biaya yang besar akan mempengaruhi kondisi keuangan rumah sakit yakni membebani pasien dengan biaya tinggi, sehingga diperlukan suatu rasionalitas pengeluaran dengan memperhatikan output yang dihasilkan oleh unit pelayanan, terutama untuk biaya gaji pegawai dan variabel cost yang besarnya sangat dipengaruhi oleh output pelayanan, sehingga dengan penghematan pada komponen variabel cost akan secara langsung berpengaruh terhadap penghematan biaya satuan (unit cost).

Perhitungan biaya satuan (unit cost) merupakan hasil akhir dari perhitungan antara besarnya total biaya setelah double distribution akan dibagi dengan output pada masing– masing ruang rawat inap di RSUD Kabupaten Pasangkayu Tahun 2017. Pada penelitian ini untuk membandingkan tarif yang berlaku dengan biaya satuan (unit cost) maka akan di bandingkan dengan UC III. Hal ini dikarenakan RSUD Kabupaten Pasangkayu merupakan rumah sakit pemerintah yang pembiayaannya masih bergantung kepada bantuan dana yang bersumber dari APBN dan APBD. kemampuan rumah sakit untuk membiayai dirinya dari hasil pendapatan rumah sakit hanya mampu memenuhi biaya operasional yang sifatnya rutin dan belum mampu membayar insentif pegawai sehingga untuk pembiayaan rumah sakit tidak sepenuhnya di kelola oleh pihak rumah sakit

Tarif rasional ditetapkan atas dasar biaya satuan, kemampuan dan kemauan membayar pasien. Tanpa mengabaikan biaya tetap (FC) dan biaya semi variabel (SVC), biaya satuan yang digunakan untuk menghitung tarif rasional adalah biaya satuan hasil distribusi ganda berdasarkan rumus III (TC = VC). Asumsinya, biaya investasi (FC) dan biaya gaji pegawai (SVC) disubsidi dari pemerintah.Untuk mendapatkan tarif rasional rumah sakit berdasarkan pada kemampuan dan kemauan membayar masyarakat yang datang berobat ke rumah sakit. Asumsinya kebutuhan pelayanan kesehatan tidak dapat dipastikan waktunya (uncertainly).

Tarif pelayanan kesehatan yang diberlakukan di RSUD Kabupaten Pasangkayu berdasarkan Perda Nomor 4 Tahun 2016 yakni kelas VIP sebesar Rp.375.000,-. Kelas I sebesar Rp.180.000,-, kelas II sebesar Rp.135.000,-, kelas III sebesar Rp.100.000,- lebih rendah dari hasil perhitungan tarif rasional yakni VIP sebesar Rp.407.365,-, kelas I sebesar Rp.252.489,-, kelas II sebesar Rp.171.859,-, kelas III sebesar Rp.142.951,-. Hal ini dikarenakan tarif perda belum berdasarkan perhitungan unit cost dan hanya berdasarkan pada perbandingan tarif rumah sakit yang terdekat. oleh karena itu, tarif pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Pasangkayu sebaiknya perlu disesuaikan dengan kondisi saat ini disebabkan telah terjadi kenaikan harga yang berakibat pada naiknya harga barang dan alat medis sehingga rumah sakit dapat mengurangi ketergantungan pada subsidi pemerintah untuk biaya operasional.

. Perbandingan tarif dilakukan untuk membedakan antara unit cost, tarif rumah sakit dan tarif INA-CBgG’s. Tarif yang telah diketahui melalui perhitungan biaya satuan (unit cost) akan dibandingkan dengan tarif INA-CBG’s dan tarif yang berlaku di rumah sakit berdasarkan Perda. Tarif Indonesian Case Based Groups yang selanjutnya disebut Tarif INA-CBG’s adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan atas paket layanan yang didasarkan kepada pengelompokan diagnosis penyakit dan prosedur.

Tarif INA-CBG’s merupakan tarif paket yang meliputi seluruh komponen sumber daya rumah sakit yang digunakan dalam pelayanan baik medis maupun non medis. Tarif rawat inap di rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan diberlakukan tarif INA-CBG’s sesuai dengan kelompok tarif yang diberlakukan. Khusus untuk RSUD Kabupaten Pasangkayu, kelompok tarif yang diberlakukan adalah kelompok tarif rumah sakit pemerintah kelas D. Adapun besaran tarif berdasarkan kelas perawatan yang digunakan untuk menghitung besaran tarif INA-CBG’s ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 tentang Standar tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional.

Untuk dapat menurunkan besarnya biaya satuan (unit cost), maka hal yang dapat dilakukan oleh pihak rumah sakit adalah meningkatkan jumlah output (jenis tindakan/pasien), sehingga besarnya biaya tetap dan biaya operasional dapat ditanggung bersama oleh pasien. Disamping itu penggunaan biaya operasional tidak tetap harus diusahakan seefisien mungkin seperti penggunaan, BHP medis, BHP non medis dan penggunaan listrik.

Tarif tindakan yang merupakan harga dari pelayanan belum mampu meningkatkan nilai pengembalian biaya produksi atau masih di bawah biaya satuan. Kondisi ini terjadi karena dasar dalam penentuan tarif rumah sakit belum mengacu kepada perhitungan biaya satuan (unit cost). Olehnya itu penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan oleh pihak rumah sakit dalam penentuan tarif di instalasi rawat inap, yang diharapkan dapat menutupi biaya operasional tidak tetap yang dikeluarkan dengan mempertimbangkan kemampuan dan kemauan membayar masyarakat.


KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan atas data yang dikumpulkan, maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah besarnya biaya satuan (unit cost) dengan menggunakan metode double distribusi ganda untuk kelas VIP yaitu sebesar Rp. 428.000,- (tarif perda Rp.375.000,-), kelas I sebesar Rp. 266.778,- (tarif perda Rp.180.000,-), kelas II sebesar Rp. 180.905,- (tarif perda Rp.135.000,-) dan kelas III sebesar Rp. 150.474,- (tarif perda Rp.100.000,-), besarnya tingkat kemampuan membayar pasien di RSUD Kabupaten Pasangkayu yakni pada ruang kelas VIP sebesar Rp.382.531,-, Kelas I sebesar Rp.243.750,-, kelas II sebesar Rp.177.555,- dan kelas III sebesar Rp.132.057,-. Sedangkan rata-rata kemauan membayar pasien yakni ruang kelas VIP sebesar Rp.398.570,-, kelas I sebesar Rp.252.439,-, kelas II sebesar Rp.171.859,-, kelas III sebesar Rp.142.951,-. Hal ini masih tinggi dibandingkan dengan tarif perda yang berlaku di rumah sakit, besarnya tarif rasional yang sebaiknya ditetapkan oleh RSUD Kabupaten Pasangkayu berdasarkan hasil analisis biaya satuan, kemampuan dan kemauan membayar pasien yaitu untuk kelas VIP sebesar Rp.407.365,- Kelas I sebesar Rp.,252.489,-, Kelas II sebesar Rp.171.859,- dan Kelas III sebesar Rp.142.951,- dan tarif INA-CBG’s lebih tinggi dibandingkan dengan tarif rasional dan perda rumah sakit akan tetapi tarif perda rumah sakit lebih rendah dari tarif rasional per jenis tindakan.

Saran dalam penelitian ini adalah dalam menetapkan tarif rumah sakit perlu mempertimbangkan analisis biaya satuan (unit cost), kemampuan dan kemauan membayar pasien sebagai pengguna layanan kesehatan, untuk dapat menekan komponen total biaya maka pihak rumah sakit perlu melakukan efisiensi terhadap pengeluaran biaya terutama biaya operasional tetap dan biaya operasional tidak tetap terutama dalam pemakaian bahan habis pakai medis dan non medis serta pembayaran insentif pegawai. dan perlu dilakukan penyesuaian tarif untuk menyeimbangkan antara tarif INA-CBG’s dengan tarif rasional sehingga dapat membantu peningkatan pendapatan rumah sakit



DAFTAR PUSTAKA

Darmawansyah. (2017). Bahan Ajar Sistem Pembiayaan Kesehatan FKM Unhas.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 52 tahun 2016 Tentang Standar Tarif Pelayanan Dalam Penyelenggaran JKN (2016).

Luthfi, A. (2014). Analisis Penetapan Tarif Rawat Inap Dalam Rangka Implementasi Pola Pengelolaan Keuangan BLUD Di RSUD Kabupaten Majene. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Maidin, A. (2013). Ekonomi dan Pembiayaan Kesehatan. Makassar: Masagena Press.

Nasri Cahaya. (2012). Tarif Rasional Berdasarkan Biaya Satuan (Unit Cost), Ability to Pay (ATP), Willingness to Pay (WTP) dan Forced to Pay (FTP) di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Anutapura Palu Makassar.

Razak, A. (2016). Ekonomi Layanan Rumah Sakit. Makassar: Edukasi Mitra Grafika.

Razak A. (2004). Dimensi Tarif Rasional Rumah Sakit: Kalam Media Pustaka Makassar.

Laporan Keuangan RSUD Kabupaten Pasangkayu Tahun 2017 (2017).

Septianis, D. d. (2009). Perbandingan Biaya Pelayanan Tindakan Medik Operatif Terhadap Tarif INA-DRG pada Program Jamkesmas di RSUP dr. Mohammad Hosein Palembang pada Kuartal I Tahun 2009.

Suryaman, R., Amir, M., Arifin, M., & Putra. (2013). Analisis biaya satuan (unit cost) perjenis tindakan berdasarkan relative value unit (RVU) pada bagian persalinan RSUD Ajjapange Kabupaten Soppeng tahun 2011. Jurnal Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Indonesia, 2(01).

Tanakotta, P. N., Lapian, S. J., & Kaunang, W. P. (2017). Analisis Perbandingan Perhitungan Tarif Sectio Caesarea Berdasarkan Perhitungan Rumah Sakit Dengan Perhitungan Menggunakan Activity Based Costing Bagian Obstetri Dan Ginekologi RSUP Prof. Dr. Rd Kandou Manado. ikmas, 2(5).

Thabrany, H. (2014). Jaminan Kesehatan Nasional. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tabel 1. Rekapitulasi Biaya Tetap (Fixed cost) masing-masing Pusat Biaya di RSUD Kabupaten Pasangkayu Tahun 2018.

NO Nama Pusat Biaya Biaya Tetap (Investasi) Total Biaya
AIC gedung AIC Alat Non Medis AIC Alat Medis AIC Kendaraan Jumlah %
1 Kantor 140,706,146 45,183,746 0 65,050,213 250,940,105 2.64%
2 Farmasi/ Apotek 94,562,057 26,444,836 0 21,683,404 142,690,298 1.50%
3 Instalasi Gizi 73,684,720 22,102,802 0 16,864,870 112,652,391 1.19%
4 Laundry 12,280,787 118,402,654 0 4,818,534 135,501,975 1.43%
5 Bedah / OK 72,211,026 918,383 1,853,171,572 13,250,969 1,939,551,950 20.44%
6 IGD 64,053,379 9,536,153 222,894,248 19,274,137 315,757,918 3.33%
7 Radiologi 95,790,136 1,404,419 915,926,631 4,818,534 1,017,939,720 10.73%
8 Laboratorium 81,728,635 6,182,784 715,935,242 8,432,435 812,279,097 8.56%
9 UTD RS 24,358,585 4,137,858 205,503,325 3,613,901 237,613,668 2.50%
10 ICU 69,238,653 4,031,867 564,286,420 4,818,534 642,375,474 6.77%
11 Poli Obgyn 101,209,885 16,779,173 1,011,633,329 36,139,007 1,165,761,394 12.29%
12 VIP 42,498,890 29,599,809 132,168,907 9,637,069 213,904,675 2.25%
13 Kelas I 20,051,772 29,599,809 231,554,744 9,637,069 290,843,394 3.06%
14 Kelas II 20,051,772 13,671,595 326,794,005 14,455,603 374,972,974 3.95%
15 Kelas III 110,720,841 10,018,847 605,656,603 18,069,504 744,465,795 7.85%
16 Poli Umum 13,291,460 1,198,146 43,961,253 3,613,901 62,064,759 0.65%
17 Poli KIA/KB 13,291,460 1,315,670 452,359,654 2,409,267 469,376,052 4.95%
18 Poli Interna 13,291,460 1,018,157 27,714,392 4,818,534 46,842,543 0.49%
19 Poli Anak 13,291,460 1,329,389 24,069,769 1,204,634 39,895,252 0.42%
20 Poli bedah 13,291,460 918,383 73,226,925 3,613,901 91,050,669 0.96%
21 Poli Fisioterapi 13,291,460 926,117 256,839,958 3,613,901 274,671,436 2.89%
22 Poli gigi 13,291,460 1,059,587 90,171,103 3,613,901 108,136,051 1.14%
TOTAL 1,116,187,504 345,780,184 7,753,868,082 273,451,821 9,489,287,591 100%

 

Tabel 2. Rekapitulasi Biaya Semi Variabel (SVC) masing-masing Pusat Biaya di RSUD Kabupaten Pasangkayu Tahun 2018

NO Nama Pusat Biaya Biaya Pemeliharaan Gaji Pegawai Total Biaya
AIC Gedung AIC Alat Medis AIC Alat Non Medis AIC Kendaraan Jumlah %
1 Kantor 12,017,465 0 4,418,588 25,453,744 1,167,727,909 1,209,617,706 25.87%
2 Farmasi/ Apotek 3,425,173 0 2,586,081 8,484,581 474,933,600 489,429,436 10.47%
3 Instalasi Gizi 2,935,863 0 2,161,467 6,599,119 229,836,000 241,532,448 5.17%
4 Laundry 489,310 0 11,578,776 1,885,463 59,755,200 73,708,749 1.58%
5 Bedah / OK 2,877,145 5,974,991 1,044,918 5,185,022 174,948,000 190,030,076 4.06%
6 IGD 4,110,208 718,655 932,555 7,541,850 297,210,000 310,513,268 6.64%
7 Radiologi 3,816,621 2,953,128 137,340 1,885,463 74,472,000 83,264,552 1.78%
8 Laboratorium 2,691,207 2,308,316 604,624 3,299,559 175,299,600 184,203,307 3.94%
9 UTD RS 1,174,345 662,583 404,647 1,414,097 45,396,000 49,051,673 1.05%
10 ICU 4,442,939 1,819,371 394,282 1,885,463 96,871,200 105,413,255 2.25%
11 Poli obgyn 7,143,933 3,261,705 1,640,861 14,140,969 254,277,600 280,465,068 6.00%
12 VIP 1,399,428 426,139 2,894,611 3,770,925 130,009,200 138,500,302 2.96%
13 Kelas I 1,712,587 746,578 1,336,966 3,770,925 151,149,600 158,716,656 3.39%
14 Kelas II 1,712,587 1,053,648 925,131 5,656,388 190,284,000 199,631,754 4.27%
15 Kelas III 7,104,788 1,952,756 979,758 7,070,485 233,208,000 250,315,787 5.35%
16 Poli Umum 1,135,200 141,740 117,168 1,414,097 76,512,000 79,320,205 1.70%
17 Poli KIA/KB 1,135,200 1,458,497 128,661 942,731 68,630,400 72,295,490 1.55%
18 Poli Interna 1,135,200 89,357 99,567 1,885,463 140,692,800 143,902,387 3.08%
19 Poli Anak 1,135,200 77,606 130,003 471,366 41,233,200 43,047,375 0.92%
20 Poli Bedah 1,135,200 236,098 89,810 1,414,097 121,310,400 124,185,605 2.66%
21 Poli Fisioterapi 1,135,200 828,103 90,566 1,414,097 121,022,400 124,490,366 2.66%
22 Poli gigi 1,135,200 290,729 103,619 1,414,097 120,642,000 123,585,645 2.64%
TOTAL 65,000,000 25,000,000 32,800,000 107,000,000 4,445,421,109 4,675,221,109 100%

 

Tabel 3. Rekapitulasi Biaya Operasional Tidak Tetap (Variabel cost) Pada masing-masing Pusat Biaya di RSUD Kabupaten Pasangkayu Tahun 2018

NO Nama Pusat Biaya Biaya Total Biaya
BHP Medis BHP Non Medis Biaya Listrik Biaya Telepon Biaya Air Jumlah %
1 Kantor 0 79,388,937 27,780,442 6,000,000 32,765 113,202,144 7.69%
2 Farmasi/ Apotek 0 11,763,227 40,507,926 0 10,922 52,282,074 3.55%
3 Instalasi Gizi 0 6,476,494 15,750,440 0 8,495 22,235,429 1.51%
4 Laundry 0 3,282,221 11,299,229 0 2,427 14,583,877 0.99%
5 Bedah / OK 71,251,298 5,518,212 11,451,407 0 183,243 88,404,160 6.01%
6 IGD 92,510,835 15,133,395 31,767,192 0 2,016,888 141,428,311 9.61%
7 Radiologi 8,795,041 7,291,244 4,593,878 0 697,173 21,377,337 1.45%
8 Laboratorium 155,570,489 6,245,015 21,770,989 0 2,766,850 186,353,343 12.67%
9 UTD RS 50,768,888 4,967,305 19,650,006 0 29,732 75,415,930 5.13%
10 ICU 0 5,286,733 15,883,596 0 3,641 21,173,969 1.44%
11 poli obgyn 10,753,418 15,596,354 2,587,029 0 183,243 29,120,044 1.98%
12 VIP 8,719,923 61,648,664 42,971,310 0 178,389 113,518,286 7.72%
13 Kelas I 8,302,065 75,323,418 23,188,148 0 270,011 107,083,642 7.28%
14 Kelas II 10,352,793 61,000,351 16,340,131 0 316,732 88,010,006 5.98%
15 Kelas III 32,389,819 256,872,034 21,190,810 0 1,235,981 311,688,644 21.18%
16 Poli Umum 692,020 4,967,305 2,587,029 0 507,863 8,754,217 0.59%
17 Poli KIA/KB 1,380,306 4,647,878 2,587,029 0 115,892 8,731,105 0.59%
18 Poli Interna 1,933,120 3,282,221 2,587,029 0 1,422,258 9,224,628 0.63%
19 Poli Anak 26,400 2,323,939 2,587,029 0 242,706 5,180,074 0.35%
20 Poli bedah 14,908,878 6,971,817 2,587,029 0 1,146,180 25,613,904 1.74%
21 Poli Fisioterapi 3,993,195 4,967,305 1,745,293 0 285,180 10,990,973 0.75%
22 Poliklinik gigi 5,085,781 8,976,329 2,587,029 0 343,429 16,992,568 1.15%
TOTAL 477,434,268 651,930,400 324,000,000 6,000,000 12,000,000 1,471,364,668 100%

 

Tabel 4. Hasil Perhitungan Tarif Rasional Berdasarkan Kelas Perawatan di RSUD Kabupaten Pasangkayu Tahun 2018

Kelas Perawatan UC3 ATP WTP Tarif Rasional
Rp/ (Hari) (Rp) (Rp) (Rp)/ Hari
VIP  428.805  382.531  398.750 407.365
Kelas I  265.778  243.750  217.000 252.489
Kelas II  180.905  177.555  159.444 171.859
Kelas III  150.474  132.057  120.769 142.951

 

Tabel 5. Perbandingan Tarif Rasional per Jenis Tindakan, Tarif INA-CBG’s dan Tarif Perda di RSUD Kabupaten Pasangkayu Tahun 2018

Kelas Perawatan Tarif Rasional per Jenis Tindakan Tarif INA-CBG’s Tarif Perda
Kelas I 1.275.821 1.535.800 790.000
Kelas II 1.190.948 1.316.400 725.000
Kelas III 1.160.518 1.097.000 635.000