Ming. Jun 16th, 2019

PERBANDINGAN CAKUPAN DAN KEPATUHAN KONSUMSI MAKANAN TAMBAHAN BISKUIT IBU HAMIL KURANG ENERGI KRONIS (KEK)  DI KOTA PAREPARE

PERBANDINGAN CAKUPAN DAN KEPATUHAN KONSUMSI MAKANAN TAMBAHAN BISKUIT IBU HAMIL KURANG ENERGI KRONIS (KEK)  DI KOTA PAREPARE

 

 

Agustina Uta Tabang Kalua1, A. Razak Thaha2, Suriah3

 

1Program Pascasarjana, Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin (Email: agustinauta79@gmail.com)

2Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(Email: arthaha@gmail.com)

3Departemen Promosi dan Ilmu PerilakuBagian Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin (Email: suriah74@yahoo.com)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alamat Korespondensi :

 

Agustina Uta Tabang Kalua

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

Makassar, 90154

Hp.                 : 082187662992

Email             : agustinauta79@gmail.com

 

ABSTRAK

Salah satu program intervensi untuk perbaikan gizi ibu hamil adalah pemberian makanan tambahan (PMT). Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh kepatuhan ibu hamil terhadap program tersebut. Tujuan Penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi kepatuhan ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) dalam pemberian PMT biskuit di Kabupaten Parepare tahun 2018. Desain penelitian ini Mixed Method yakni menggabungkan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif untuk mengetahui cakupan konsumsi makanan tambahan biskuit ibu hamil KEK yang diperoleh dari form pemantauan konsumsi biskuit ibu hamil per hari selama intervensi sedangkan data kualitatif untuk memperdalam hasil kuantitatif yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan. Penentuan informan dalam penelitian dilakukan dengan Purposive sampling. Informan kunci penelitian adalah ibu hamil KEK yang menerima makanan tambahan biskuit, Informan pendukung adalah petugas gizi, bidan dan kader. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas usia responden adalah 19-29 tahun yakni sebanyak 35 ibu (70%), mayoritas pekerjaan responden adalah Ibu Rumah Tangga (IRT) yaitu sebanyak 38 orang (76%), mayoritas pendidikan responden memiliki pendidikan terakhir SMA sebanyak 17 orang (34%). dari 50 responden terdapat 5 responden yang konsumsi MT biskuit ≥ 80% tetapi tidak patuh dan 45 responden yang konsumsi MT biskuit <80% juga tidak ada responden yang patuh sesuai aturan konsumsi. Berdasarkan hasil kualitatif, diketahui bahwa kepatuhan konsumsi ibu hamil dipengaruhi dukungan sosial yang masih kurang dan ketersediaan PMT. Disarankan dilakukan pemberdayaan kader posyandu serta adanya komitmen dan koordinasi dari pemangku kepentingan dalam mengembangkan pendekatan multidisiplin untuk menyelesaikan permasalahan dalam pelaksanaan PMT biskuit ibu hamil.

 

Kata Kunci: Kepatuhan, Ibu Hamil KEK, PMT biskuit.

ABSTRACT

One of the intervention programs for nutrition improvement of pregnant women is supplementary food consumption (SFC). The success of this program is determined by the compliance of pregnant women to the program. The purpose of this research is to obtain information about compliance of pregnant mother of Chronic Energy Deficiency (CED) in giving of biscuit SFC in Parepare 2018. Design of this research uses Mixed Method design that combine quantitative and qualitative. Quantitative data was collected to understand the coverage of supplementary biscuits suplementary food consumption of CED pregnant women obtained from monitoring form of biscuit consumption pregnant mother per day during intervention while qualitative data to explore more information from quantitative results through in-depth interview with informant. Determination of informant in research was done by Purposive sampling. The results of the research showed that the majority of respondent’s age was 19-29 year as much as 35 mothers (70%), majority of respondent’s job was housewife (IRT) as much as 38 people (76%), majority of respondent’s education was high school as much as 17 respondents (34%). Among 50 respondents there were 5 respondents who consumed supplementary biscuit ≥ 80% but not obedient and 45 respondents who consumed MT biscuit <80% also no respondents who obedient according to consumption rules. Based on qualitative results, there were several factors that influence non-compliance of pregnant women such as social support was still lacking and availability of PMT. It is suggested to empower integrated health pos cadres and coordinate with other LS in developing a system to assist the implementation program of supplementary biscuit of pregnant mother.

 

Keywords: Compliance, Pregnant Women KEK, PMT biscuit.

 

 

 

PENDAHULUAN

Kepatuhan didefinisikan sebagai tingkatan perilaku seseorang yang mendapatkan pengobatan, mengikuti diet dan melaksanakan gaya hidup sesuai dengan rekomendasi pemberi pelayanan kesehatan (WHO, 2003). Tingkat kepatuhan individu dalam menjalani terapi dipengaruhi oleh faktor-faktor perilaku pada klien diantaranya usia, jenis kelamin, lama menderita penyakit, pemahaman informasi, penghargaan yang diberikan seseorang terhadap dirinya, disiplin diri, stress dan depresi, hubungan antara pasien dengan petugas kesehatan, dukungan dari pihak keluarga serta faktor lingkungan (Niman, 2017).

Menilai efektifitas suatu program kesehatan, bisa dikaitkan dengan tingkat kepatuhan pasien dalam melaksanakan program intervensi yang diberikan. Penilaian perilaku kepatuhan yang akurat diperlukan untuk perencanaan pengobatan, terapi yang efektif dan efisien serta untuk memastikan hasil dari pengobatan dan terapi yang diberikan.

Di Indonesia kecukupan energi dan zat gizi ibu hamil masih rendah. Hasil Pemantauan Status Gizi pada tahun 2016 menunjukkan 53,9% ibu hamil defisit energi tingkat berat, 13,1% ibu hamil defisit energi tingkat ringan dan hanya 26,3% ibu hamil cukup energi. Kekurangan energi pada ibu hamil dalam kurun waktu yang lama akan mengakibatkan ibu hamil menderita kurang energi kronis (KEK) (Kementerian Kesehatan RI, 2017).

Ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis akan mengalami penurunan kekuatan otot pada proses persalinan sehingga terjadi partus macet dan perdarahan pasca persalinan dan efek gagal tumbuh pada janin, lahir BBLR. Bayi yang lahir dengan berat lahir rendah berisiko menjadi stunting, apabila dewasa berisiko mengalami penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes mellitus (Kementerian Kesehatan RI, 2015).

Ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi kronis berisiko 4 kali untuk melahirkan bayi BBLR. BBLR salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal (Sumiati and Restu, 2016).

Riskesdas 2013, melaporkan bahwa di Indonesia ibu hamil kurang energi kronis (KEK) 38,5%. Hasil Survei Pemantauan Status Gizi (PSG), menunjukkan ibu hamil kurang energi kronis mengalami penurunan dari tahun 2016 ke 2017 masing-masing 16,2% menjadi 14,8%. Meski data menunjukkan penurunan prevalensi ibu hamil kurang energi kronis (KEK) akan tetapi dampak kurang gizi yang sangat luas maka perlu upaya penanggulangan gizi ibu hamil (Kementerian Kesehatan RI, 2018).

Adanya situasi masalah tersebut sehingga pemerintah melaksanakan program penanggulangan ibu hamil KEK dengan pemberian makanan tambahan yang bertujuan untuk memperbaiki status gizi ibu hamil. Pemberian makanan tambahan (PMT) ibu hamil adalah pemberian makanan tambahan pemulihan, yang fokus pada ibu hamil kurang energi kronis, yang diberikan untuk dikonsumsi setiap hari selama 90 hari baik makanan tambahan lokal maupun makanan tambahan pabrikan (biskuit). Pemberian makanan tambahan pemulihan bagi ibu hamil KEK dimaksudkan sebagai tambahan bukan sebagai pengganti makanan utama sehari–hari (Kementerian Kesehatan RI, 2010a).

Hasil penelitian dilakukan oleh Amareta (2015) mengungkapkan bahwa pemberian makanan tambahan pemulihan dapat meningkatkan pertambahan berat badan ibu hamil KEK. Hal ini juga dikemukakan oleh Nurina (2016) bahwa program pemberian makanan tambahan yang dilakukan di Karawang dapat memperbaiki status gizi ibu hamil. Hasil penelitian Zulaidah, dkk 2014) menyatakan pemberian makanan tambahan terbukti secara signifikan berpengaruh terhadap berat lahir bayi.

Meski program intervensi pemberian makanan tambahan telah dilaksanakan diseluruh wilayah Indonesia namun pengoptimalan program makanan tambahan masih kurang. Hal ini tergambar melalui hasil Pemantauan Status Gizi (2017), bahwa ibu hamil KEK mendapat makanan tambahan sangat rendah yaitu 37,4%. Data ini juga hanya menggambarkan distribusi makanan tambahan biskuit, belum menggambarkan konsumsi makanan tambahan biskuit ibu hamil KEK sesuai anjuran yang diberikan oleh petugas kesehatan. Konsumsi makanan tambahan biskuit sesuai dengan anjuran sangat terkait dengan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam menjalankan intervensi tersebut. Hal ini menjadi tantangan program dalam menyelesaikan masalah gizi pada ibu hamil KEK.

Penelitian yang dilakukan Nugrahini et al. (2014), tentang program PMT-Pemulihan di puskesmas kota Surabaya menunjukkan bahwa makanan tambahan mampu merubah status gizi ibu hamil kurang energi kronis menjadi normal walaupun secara statistik tidak bermakna. Hal ini disebabkan salah satunya adalah kepatuhan ibu hamil dalam konsumsi makanan tambahan.

Kota Parepare, Provinsi Sulawesi Selatan adalah salah satu daerah yang telah melaksanakan program pemberian makanan tambahan (PMT) pada ibu hamil kurang energi kronis. Meskipun intervensi pemberian makanan tambahan telah dilaksanakan, tetapi masalah gizi pada kelompok ibu hamil masih ditemukan di kota Parepare. Hasil Survei Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017, melaporkan ibu hamil KEK di kota Parepare sebesar 12,5% sedangkan ibu hamil KEK yang mendapat makanan tambahan biskuit masih rendah hanya 35,3% (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas program makanan tambahan biskuit untuk ibu hamil terhadap status gizi kesehatan ibu dan bayi yang dilahirkan.

METODE

Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kota Parepare, pada 6 wilayah kerja puskesmas yakni puskesmas Madising, puskesmas Lakassi, puskesmas Lapadde, puskesmas Lumpue, puskesmas Lompoe dan puskesmas Cempae.

Desain dan Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode campuran atau mixed method sequential dengan desain sequential explanatory. Desain sequential explanatory adalah metode penelitian kombinasi yang menggabungkan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif secara berurutan, dimana pada tahap pertama penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dan pada tahap kedua dilakukan dengan metode kualitatif. Desain penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis yang bertujuan untuk mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia tentang suatu fenomena tertentu.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang ikut dalam penelitian payung di kota Parepare sebanyak 328 orang dimana 232 ibu hamil yang tidak KEK dan 96 ibu hamil KEK. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang termasuk kategori ibu hamil kurang energi kronis (KEK) yang mendapatkan makanan tambahan biskuit dan ikut dalam penelitian payung di kota Parepare sebanyak 50 orang, yang tersebar di enam puskesmas yaitu puskesmas Lakessi 18 orang, puskesmas Madising 8 orang, puskemas Lapade 2 orang, puskesmas Cempae 6 orang, puskesmas Lompoe 15 orang dan puskesmas Lumpue 1 orang.

Pengumpulan Data

Pengumpulan data menggunakan sumber sekunder yang diperoleh dari penelitian payung yaitu data karateristik ibu hamil KEK (nama, umur, pendidikan, pekerjaan, besar keluarga, ukuran LILA, alamat ibu hamil). Data jumlah biskuit yang diberikan kepada ibu hamil didapat dari buku register distribusi PMT biskuit di puskesmas. Data cakupan konsumsi serta tingkat kepatuhan konsumsi makanan tambahan biskuit ibu hamil KEK diperoleh dengan menggunakan form pemantauan yang berisi banyaknya biskuit yang dikonsumsi ibu hamil per hari selama Intervensi.

Pengumpulan data penelitian kualitatif dilakukan dengan cara penggalian data dari berbagai sumber data untuk menjernihkan informasi di lapangan. Adapun data yang diperoleh adalah data primer. Pengambilan data primer yang diperoleh melalui Wawancara mendalam (Indepth Interview).

Analisis Data

Analisis data penelitian kuantitatif menggunakan univariat untuk mendeskripsikan karateristik responden, cakupan konsumsi makanan tambahan biskuit dan kepatuhan responden, analisis ini disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase dari setiap variabel. Analisis data penelitian kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.

 

HASIL

Karakteristik Responden

Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas usia responden adalah 19-29 tahun yakni sebanyak 35 ibu (70%). Sementara berdasarkan pekerjaan ibu, mayoritas responden adalah Ibu Rumah Tangga (IRT) yaitu sebanyak 38 orang (76%). Selanjutnya berdasarkan pendidikan ibu, mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir SMA sebanyak 17 orang (34%).

Ditribusi Responden Berdasarkan Jenis Biskuit yang Diterima

Tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas responden menerima biskuit kemasan lama yakni sebanyak 41 atau sekitar 82%, hanya 3 (6%) responden yang menerima biskuit kemasan baru dan 6 responden atau sekitar 12% yang menerima dua jenis biskuit yaitu biskuit kemasan lama dan biskuit kemasan baru.

Distribusi Kepatuhan konsumsi makanan tambahan biskuit

Tabel 3 menunjukkan bahwa semua responden (100%) tidak patuh mengonsumsi makanan tambahan biskuit.

Distribusi Cakupan Konsumsi Biskuit Terhadap Kepatuhan Responden Mengonsumsi MT Biskuit Ibu Hamil KEK

Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 50 responden terdapat 5 responden yang konsumsi MT biskuit ≥ 80% tetapi tidak patuh dan 45 responden yang konsumsi MT biskuit <80% juga tidak ada responden yang patuh sesuai aturan konsumsi.Berdasarkan hasil kuantitatif diketahui bahwa dari 50 responden ibu hamil KEK yang mendapat intervensi MT biskuit, tidak ada yang patuh sesuai dengan anjuran dalam menjalakan intervensi yang diberikan. Untuk itu ditelusuri faktor-faktor yang mempengaruhi hal tersebut.

Kepatuhan seseorang juga dipengaruhi oleh dukungan sosial selain dari suami dan keluarga terdekat. Hanya satu informan mendapatkan dukungan selain suami, dan petugas juga dari yaitu kader. Bentuk dukungan yang diberikan kader, yaitu memberikan semangat kepada informan agar mengonsumsi makanan tambahan biskuit, kader juga mengantar informan mengambil biskuit di puskesmas. Seperti kutipan wawancara berikut ini:

…. Kader biasa jee na tanyaka bilang makan itu biskuitmu…itu kurusmu e …pernah juga na temani pergi ambil biskuit waktuna mau kaa ambil lagi ( Edg, 25 tahun)

 

Hal ini diperkuat dengan pernyataan kader, berikut kutipanya:

 

… Iyee biasa itu saya kasi tau…suruh makan biskui’na…Apa kurus sekaliii…tapi tidak mau mendengar....jadi malaski rasa... (Sdw, 45 tahun)

 

Informan lainya tidak mendapat dukungan dari kader. Seperti hasil wawancara mendalam berikut.

Tidak ada yang terlibat cuma petugas saja.. kader juga tidak pernah

(Hsr, 30 tahun; Mft, 24 tahun; Nst, 26 tahun;

Arp, 28 tahun; Haz, 32 tahun; Dnr, 19 tahun; Hsn, 21 tahun; Nhk, 27 tahun; Crt, 33 tahun; Rst 31 tahun)

 

Selain dari dukungan sosial, faktor ketersediaan juga mempengaruhi kepatuhan seseorang. Terkait dengan ketersediaan, ada dua hal yang dikaji dalam penelitian ini yaitu tempat dan jumlah makanan tambahan biskuit yang diterima serta kendala dalam mendapatkan makanan tambahan biskuit.

Tempat informan mengambil biskuit di puskesmas. Jumlah makanan tambahan biskuit yang diterima informan berbeda-beda. Hal ini disebabkan ada puskesmas yang kehabisan stock, ada informan yang sengaja tidak ambil karna tidak suka, ada yang masih mau tetapi tidak diberi lagi sama petugas dan ada yang tidak ambil karna belum waktunya untuk pengambilan berikutnya.

Seperti yang terungkap dari wawancara mendalam berikut.

Pertama saya dapat satu pak plastik yang untuk konsumsi satu minggu… pemberian kedua saya dikasi lagi satu dos pas datang periksa bulan berikuitnya… sama petugas gizi

(Crt, 33 tahun)

 

Petugas bidan yang kasi satu pak satu dos.. sekaligus saya ambil

(Arp, 28 tahun)

 

…Dapatnya satu dos saja dari bidan di puskesmas

(Rst, 31 tahun; Dnr, 19 tahun; Hsr, 30 tahun; Mft, 24 tahun; Nst, 26 tahun; Rhn, 27 tahun; Hsy, 22 tahun)

 

Dikasika dua dos, dua kali ka kepuskesmas ambil diruangan KIA

(Edg, 25 tahun)

 

Hanya dapat satu pak saja dari bidan puskesmas

(Hsn, 21 tahun; Nhk, 27 tahun)

 

Beberapa informan mengaku tidak ada kendala dalam mendapatkan biskuit. Mereka ada yang tidak suka sehingga biskuit tidak habis dan tidak mengambil biskuit lagi. seperti hasil wawancara berikut.

Tidak ada kendala.. memang tidak suka jadi tidak minta lagi

(Nst, 26 tahun; Arp 28 tahun; Crt, 33 tahun;

Rhn, 27 tahun; Rst, 31 tahun)

 

Malu-maluki mau minta lagi… apa masih adaji biskuit ta

(Hsr, 30 tahun; Mft, 24 tahun; Edg, 25 tahun;

Hsy, 22 tahun)

 

…. Na kasi jaki asal habismi biskuita… saya masih ada biskuitku jadi tidak minta (Hsi, 28 tahun; Hlm, 33 tahun)

 

PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini terdapat 50 responden yang mendapatkan PMT biskuit namun seluruh responden tidak ada yang patuh dalam mengonsumsi makanan tambahan biskuit. Untuk itu ditelusuri faktor-faktor yang mempengaruhi hal tersebut.

Salah satu strategi untuk meningkatkan kepatuhan minum obat adalah adanya mitra kepatuhan atau seseorang yang diminta untuk memberi pengingat, dorongan dan dukungan khusus lainnya untuk membantu kepatuhan. Dukungan sosial dalam penelitian ini adalah dukungan dari masyarakat selain keluarga seperti kader. Jika kader turut memberikan dukungan terhadap ibu hamil maka dapat meningkatkan kepatuhan mengonsumsi PMT biskuit.

Namun berdasarkan hasil penelitian di Parepare, hampir semua informan menyatakan bahwa tidak adanya dukungan dan peran serta kader terhadap intervensi PMT biskuit ini. Hanya satu orang informan yang mendapatkan dukungan yang positif dari kader yaitu, dengan memberikan semangat kepada informan agar mengonsumsi makanan tambahan biskuit, juga mengantar informan mengambil biskuit di puskesmas.

Selain dukungan petugas dan keluarga, dukungan sosial dari masyarakat seperti dari kader juga tak kalah pentingnya dalam mempengaruhi tingkat kepatuhan ibu hamil. Seharusnya kader memberikan dukungan dalam bentuk perhatian, sugesti, motivasi, transportasi, pemberi informasi serta pendamping atau pengingat konsumsi makanan tambahan biskuit. Akan tetapi dalam penelitian ini, bentuk-bentuk dukungan tersebut tidak diberikan oleh kader. Karena itulah tingkat kepatuhan ibu hamil juga rendah.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Penelitian yang dilakukan Ahrari, Moshki & Bahrami tahun 2014 menyatakan bahwa faktor yang menyebabkan ketidakpatuhan dalam pembatasan nutrisi dan cairan pada pasien penyakit ginjal kronik diantarnya adalah dukungan sosial yang kurang.

Dalam penelitian ini ada tiga aspek yang diteliti terkait ketersediaan MT biskuit, diantaranya adalah tempat mendapatkan MT biskuit, jumlah MT biskuit yang diterima dan kendala yang ibu hamil hadapi atau rasakan selama intervensi MT biskuit.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Kiki Agustin Fatmala tahun 2016 bahwa ada hubungan antara ketersediaan obat dengan kepatuhan minum obat penderita kusta. Sejalan dengan penelitian oleh Dian Ramawati, dkk tahun 2008 dan Namchar Kautshar tahun 2013 bahwa faktor yang berhubungan dengan kepatuhan konsumsi tablet fe pada ibu hamil salah satunya adalah ketersediaan tablet Fe.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan bahwa tempat mendapatkan MT biskuit adalah di puskesmas yang diberikan oleh bidan puskesmas dan petugas gizi. Adapun jumlah yang diterima bervariasi. Untuk intervensi biskuit lama, ada informan yang mendapatkan lima dos, ada yang menerima dua dos, satu dos bahkan ada yang mendapat hanya satu pak saja. Sementara untuk intervensi biskuit baru yang dilakukan oleh petugas gizi, informan hanya mendapatkan satu dos pada satu kunjungan. Jika biskuit telah habis, maka akan diberikan lagi satu dos pada kunjungan berikutnya. Namun jika biskuit belum habis maka petugas gizi tidak akan memberikan biskuit baru lagi pada kunjungan selanjutnya.

Adapun kendala informan dalam memperoleh MT biskuit adalah beberapa informan mengaku tidak kesulitan mendapat MT biskuit hanya kurang suka jadi biskuit masih ada tersisa sehingga tidak meminta biskuit lagi. Beberapa informan mengaku malu untuk meminta dan petugas juga tidak bertanya apa biskuit informan sudah habis atau tidak. Ada juga informan yang meminta biskuit tapi stok di puskesmas habis.

Dengan demikian, cakupan kepatuhan konsumsi MT biskuit pada ibu hamil KEK di Parepare masih rendah karena adanya variasi jumlah yang diberikan oleh petugas dan biskuit masih tersedia di puskesmas tapi ibu hamil tidak lagi meminta biskuit karna tidak suka rasanya, biskuit belum habis dan ada yang malu meminta dan kehabisan stok.

Hal ini sejalan dengan penelitian Rai et al. (2014) bahwa kepatuhan konsumsi suplemen gizi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan suplemen dan Menurut Ahmed et al., (2015) kepatuhan menjalankan terapi dipengaruhi oleh ketersediaan logistik.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa semua ibu hamil tidak patuh mengonsumsi biskuit. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan ibu hamil diantaranya dukungan sosial yang masih kurang dan ketersediaan PMT. Disarankan untuk dilakukan pemberdayaan kader Posyandu serta adanya komitmen dan koordinasi dari pemangku kepentingan dalam mengembangkan pendekatan multidisiplin untuk menyelesaikan permasalahan dalam pemberian PMT biskuit ibu hamil.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmed, E. B. et al. (2015). ‘Assessment of iron and calcium supplements compliance among pregnant women attending antenatal care unit of Al- Sabah Banat primary health care unit in Ismailia , Egypt’, J. Med. Bio. Sci. Res, 1(3), pp. 24–29.

Amareta, D. I. (2015) ‘Hubungan Pemberian Makanan Tambahan-Pemulihan dengan Kadar Hemoglobin dan Kenaikan Berat Badan Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Jelbuk Kabupaten Jember)’, Jurnal iImiah Inovasi, 15(2), pp. 1–8.

Kementerian Kesehatan RI (2010a) Pedoman Gizi Ibu Hamil dan Pengembangan Makanan Tambahan Ibu Hamil Berbasis Pangan Lokal. Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat.

Kementerian Kesehatan RI (2018) Buku Saku Pemantauan Status Gizi (PSG) Tahun 2017.

Niman, S. (2017) Ilmu Dasar Keperawatan 1: Pengantar Ilmu Gizi untuk Perawat. Jakarta: CV Trans Info Media.

Nugrahini, E. Y. et al. (2014) ‘Asupan Energi dan Protein Setelah Program Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Ibu Hamil Kurang Energi Kronik di Puskesmas Kota Surabaya’, IJEMC, 1(1), pp. 41–48.

Nurina, R. (2016) ‘Program Pemberian Makanan Tambahan untuk Peningkatan Status Gizi Ibu Hamil dan Balita di Kecamatan Cilamaya Kulon dan Cilamaya Wetan , Karawang’, Jurnal CARE, 1(1), pp. 44–49.

WHO (2003) Adherence to Long-term Therapies. Evidance for Action. Geneva: WHO.

Rai, S. S. et al. (2014) ‘Effect of knowledge and perception on adherence to iron and folate supplementation during pregnancy in Kathmandu, Nepal’, Journal of the Medical Association of Thailand, 97, pp. S67–S74.

Zulaidah, H. S., Kandarina, I. and Hakimi, M. (2014) ‘Pengaruh pemberian makanan tambahan ( PMT ) pada ibu hamil terhadap berat lahir bayi’, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 11(2), pp. 61–71.

 

 

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Ibu Hamil KEK

Di Kota Parepare

Karakteristik Responden n %
Umur

16-18 tahun

19-29 tahun

30-49 tahun

 

3

35

12

 

6

70

24

Pekerjaan Ibu

IRT

Pegawai Swasta

Wiraswasta

PNS

Lainnya

 

38

1

1

5

5

 

76

2

2

10

10

Pendidkan Ibu

SD

SMP

SMA

Perguruan Tinggi

Tidak Sekolah

 

6

11

17

15

1

 

12

22

34

30

2

Sumber: Data Primer, 2018    

 

 

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Biskuit yang Diterima
Kemasan Biskuit Frekuensi (n) Persentase (%)
Lama 41 82
Baru 3 6
Lama + Baru 6 12
Total 50 100
Sumber: Data Primer, 2018    

 

 

Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Kepatuhan konsumsi makanan tambahan biskuit
Kepatuhan Frekuensi (n) Persentase (%)
Patuh

Tidak patuh

0

50

0

100

Total 50 100
Sumber: Data Primer, 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

Tabel 4. Distribusi Cakupan Konsumsi Biskuit Terhadap Kepatuhan Responden Mengonsumsi MT Biskuit Ibu Hamil KEK
Persentase Konsumsi Kepatuhan
Patuh Tidak Patuh
n (%) n (%)
≥ 80% 5 10
<80% 45 90
Total 50 100

 

 

     

 

 

 

Sumber: Data Primer, 2018