Sel. Mei 21st, 2019

PENGARUH SASARAN KESELAMATAN PASIEN TERHADAP PENGALAMAN PASIEN INSTALASI RAWAT INAP RSUD LABUANG BAJI

PENDAHULUAN

Organisasi pelayanan kesehatan dituntut untuk berfokus kepada patient centered care, hal ini mendorong organisasi pelayanan kesehatan terkhusus rumah sakit untuk lebih memperhatikan bagaimana konsep pelayanan pasien selama dirawat. Pengimplementasian aplikasi patient centered care dapat diketahui melalui pengalaman pasien tentang apa dan bagaimana yang mereka rasakan selama menjalani perawatan di rumah sakit. Pelayanan rumah sakit diperlukan oleh setiap orang untuk keperluan kesehatannya, maka diharapkan kualitas pelayanan yang baik dapat menumbuhkan dan mempengaruhi keputusan dan kepercayaan pasien demi menimbulkan kepuasan pasien untuk menggunakan jasa layanan kesehatan (Santoso, 2012).

Pengalaman pasien adalah prioritas utama untuk pelaksana pelayanan kesehatan berkaitan dengan mutu klinis, pengurangan biaya dan banyak isu lainnya. Terdapat lima prioritas utama organisasi pelayanan kesehatan dan yang menempati urutan pertama adalah : patient experience (70%), selanjutnya diikuti mutu/patient safety (63%), manajemen biaya (37%), EMRS/IT (35%) dan kepuasan pegawai (22%) (Health Leaders Media Industry Survey, 2013).

Hasil penelitian mengenai The Moderating Role of Hospital Size on The Relationship between Patient Experience and Patient Safety menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengalaman pasien dengan keselamatan pasien dengan hasil uji p = 0,02 (p<0.05) , penelitian ini menunjukkan bahwa aspek keselamatan pasien yang baik atau buruk berpengaruh terhadap pengalaman pasien selama mereka dirawat, dimana semakin menurunnya angka insiden keselamatan pasien dirumah sakit maka membentuk pula pengalaman pasien yang semakin baik (Silvera, 2017).

Istilah pengalaman pasien telah menghasilkan banyak definisi. Pengalaman pasien adalah observasi langsung secara personal tentang pelayanan kesehatan yang diterima. Ekspektasi dari pengalaman termasuk kebersihan, informasi pelayanan, kenyamanan dan ketepatan waktu pelayanan, tepat waktu pemeriksaan, dokter dan pegawai yang membantu, penjelasan dokter yang jelas dan mudah dimengerti, terlibat dalam keputusan pengobatan, dokter yang menghormati, menerima saran tentang kondisi kesehatan, kondisi manajemen dan informasi tentang manfaat atau efek dari pengobatan, serta menerima peluang untuk diskusi masalah (Bowling et all., 2013). Definisi lain menyebutkan bahwa pengalaman pasien adalah berbagai interaksi yang pasien miliki dengan sistem perawatan kesehatan, termasuk perawatan mereka dari rencana kesehatan, dari dokter, perawat, dan staf di rumah sakit, praktek dokter, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya (Harrison et al., 2015).

Keselamatan pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Permenkes RI No.11, 2017).

Adapun pengukuran sasaran keselamatan pasien dapat kita ukur melalui enam sasaran keselamatan pasien yang meliputi: 1) Mengidentifikasi pasien dengan benar, 2) Meningkatkan komunikasi yang efektif, 3) Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai, 4) Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar, 5) Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan, 6) Mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh (KARS, 2012).

Berdasarkan data kepuasan pasien di RSUD Labuang Baji persentasi kepuasan pasien selama tiga tahun terakhir mengalami fluktuasi dan masih belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal kepuasan pasien rawat inap yaitu ≥ 90% (Permenkes RI No.129, 2008). Adapun untuk data insiden Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di Instalasi Rawat Inap RSUD Labuang Baji tahun 2017 ditemukan sebesar 2,56 % infeksi jarum suntik (phlebitis), 1,4 % infeksi luka lama berbaring (decubitus) dan 0,86 % untuk infeksi luka operasi (ILO).

Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yang berkaitan dengan bagaimana pengaruh sasaran keselamatan pasien terhadap pengalaman pasien di RSUD Labuang Baji, mengingat bahwa masih terdapatnya angka kejadian yang tidak diinginkan (KTD) serta kepuasan pasien dirumah sakit tersebut masih jauh dari batas standar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sasaran keselamatan pasien terhadap pengalaman pasien di Instalasi Rawat Inap RSUD Labuang Baji.

 

BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Rancangan

Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat Inap RSUD Labuang Baji Makassar, Sulawesi Selatan. Jenis penelitian yang dilakukan adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional study.

 Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah pasien Instalasi Rawat Inap RSUD Labuang Baji. Sampel sebanyak 100 orang dipilih secara purposive sampling dengan kriteria inklusi yaitu pasien bedah atau pasien yang telah melakukan operasi.

Metode Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang berisi pernyataan yang harus diisi oleh responden. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala likert. Kuesioner yang peneliti gunakan yaitu kuesioner oleh Scottish Inpatient Patient Experience Survey (2014) yang berjumlah 46 pertanyaan dengan 6 dimensi yang diukur, serta kuesioner sasaran keselamatan pasien yang berpedoman kepada panduan wawancara pasien atau keluarga tentang sasaran keselamatan pasien menurut Komite Akreditasi Rumah Sakit (2012) yang berjumlah 26 pertanyaan dengan 5 dimensi yang diukur.

Analisis Data

Data dianalisis menggunakan program SPSS. Untuk melihat pengaruh sasaran keselamatan pasien terhadap pengalaman pasien dengan menggunakan uji regresi logistik.

 

HASIL

Karakteristik Sampel

Pada tabel 1 memperlihatkan karakteristik pasien di Instalasi Rawat Inap RSUD Labuang Baji yaitu sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebesar 63,0 %, usia terbanyak 46-55 tahun sebesar 28%, pendidikan terakhir pasien sebagian besar yaitu SMA/SMK sebesar 39% , perkerjaan terbanyak yaitu wiraswasta sebesar 31%, adapun jarak rumah pasien menuju RSUD Labuang Baji sebagian besar pasien berasal dari daerah dengan jarak tempuh > 5 KM sebesar 55%.

Pengaruh Sasaran Keselamatan Pasien terhadap Pengalaman Pasien

Pada tabel 2 hasil uji regresi logistik diperoleh tiga sasaran keselamatan pasien berpengaruh terhadap pengalaman pasien yaitu : kepastian tepat lokasi-tepat prosedur-tepat pasien operasi (p=0,032<0,05), pengurangan risiko infeksi (p=0,001< 0,05) dan pengurangan risiko pasien jatuh (p=0,003<0,05) Serta dua sasaran keselamatan pasien tidak berpengaruh terhadap pengalaman psien yaitu: ketepatan identifikasi pasien (p=0,154>0,05) dan peningkatan keamanan obat (p=0,200>0,05).

PEMBAHASAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa sasaran keselamatan pasien berpengaruh terhadap pengalaman pasien di Instalasi Rawat Inap RSUD Labuang Baji Makassar. Untuk sasaran keselamatan pasien yang berpengaruh diantaranya : kepastian tepat lokasi-tepat prosedur-tepat pasien operasi hal ini disebabkan karena proses operasi merupakan hal yang sangat penting yang berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa pasien, didukung oleh pengalaman pasien yang pernah melaksanakan operasi sebelumnya oleh karena itu pasien menjadi jauh lebih kritis dan lebih banyak mengetahui terkait dengan prosedur operasi sehingga mempengaruhi pasien didalam membentuk pengalaman baik atau buruk selama mereka dirawat.

Selain itu karena pasien dalam keadaan khawatir dan cemas saat memasuki ruangan operasi sebagian besar responden merasa tim operasi tidak memberikan dukungan dan rasa tenang kepada pasien sehingga membentuk pengalaman yang buruk selama mereka dirawat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jones (2017) yang menyatakan bahwa dukungan dan kepercayaan yang diberikan oleh seluruh tim operasi memberikan pengaruh terhadap terbentuknya pengalam pasien selama dirawat.

Pada sasaran keselamatan pasien yang berpengaruh selanjutnya yaitu pengurangan risiko infeksi disebabkan karena penggunaan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan menjadi suatu hal mendasar yang biasanya terlihat di semua rumah sakit, sehingga berdasarkan wawancara pasien mengaku resah apabila perawat tidak menggunakan alat pelindung diri karena mereka khawatir akan tertular bahaya bakteri, sehingga hal itu dapat mempengaruhi pengalaman mereka selama dirawat. Pasien merupakan observer sekaligus klien yang telah merasakan dan mengalami penerapan keselamatan pasien yang dilakukan perawat maupun petugas medis lain terhadap dirinya selama 24 jam dalam seharinya (Ashcroft et all., 2005).

Pada sasaran keselamatan pasien yang berpengaruh selanjutnya yaitu pengurangan risiko pasien jatuh hal ini disebabkan karena berdasarkan wawancara beberapa pasien yang beresiko jatuh menyatakan bahwa fasilitas kamar yang ada di RSUD Labuang Baji masih belum memadai, berdasarkan observasi, peneliti menemukan tidak terpasangnya segitiga kuning atau merah penanda risiko jatuh baik pada pintu kamar ataupun tempat tidur pasien serta tidak terpasangnya gelang berwarna kuning pada pasien ditambah lagi pada beberapa WC kelas perawatan I,II,III tidak terpasang tiang pengamanan untuk pasien berjalan sehingga bagi pasien yang ingin menggunakan fasilitas WC sangat kesulitan terlebih jika mereka adalah pasien beresiko jatuh, hal ini tentu sangat berbahaya bagi keselamatan pasien sehingga timbul ketidakpercayaan dari pasien terhadap keamanan rumah sakit yang sangat berpengaruh didalam membentuk pengalaman pasien.

Pemberian tanda beresiko pada tempat tidur pasien dan pelatihan pada para staf merupakan intervensi yang paling efektif untuk mengurangi kejadian pasien jatuh. Lebih lanjut dalam proses implementasi intervensi-intervensi di atas, dibutuhkan struktur organisasi yang baik, infrastruktur keamanan yang baik, budaya keselamatan pasien, kerja tim dan leadership

Untuk sasaran keselamatan pasien yang tidak berpengaruh yaitu ketepatan identifikasi pasien hal ini disebabkan karena hampir sebagian besar pasien tidak mengetahui standar atau prosedur yang benar dalam hal ketepatan identifikasi pasien, disebabkan karena tidak adanya edukasi yang diberikan oleh perawat kepada pasien saat pemasangan gelang identitas tentang manfaat dan pentingnya dalam melakukan identifikasi pasien. Mereka juga menganggap bahwa dengan perawat menyebutkan nama pasien dengan benar itu sudah cukup, sehingga pasien tidak mempermasalahkan jika ketepatan identifikasi pasien yang dilakukan oleh perawat masih belum tepat seperti tidak menyebutkan tanggal lahir atau umur pasien, pasien juga sudah merasa percaya dengan pelayanan yang ada tidak akan membahayakan keselamatannya, sehingga tidak mempengaruhi mereka didalam membentuk pengalaman yang buruk. Edukasi pasien mengenai pentingnya identifikasi pasien sebelum dilakukan tindakan atau asuhan oleh perawat merupakan hal yang perlu dilakukan agar pasien paham akan pentingnya identifikasi pasien dengan tepat (Utami, 2017).

Selain itu berdasarkan observasi peneliti gelang identitas yang digunakan oleh pasien tidak seragam, sebab ada yang menggunakan nama dan umur, ada juga yang lengkap menggunakan nama, tanggal lahir dan nomor rekam medis selain itu gelang identitas masih ditulis secara manual, sehingga dikhawatirkan perawat tidak bisa membaca secara benar nama atau identitas pasien yang akan menyebabkan kesalahan didalam mengidentifikasi.

Informasi yang tercantum pada gelang identitas yang tidak informatif akan menyulitkan perawat dalam melakukan verifikasi data pasien (Chinta, 2016).

            Pada sasaran keselamatan pasien yang tidak berpengaruh selanjutnya yaitu peningkatan keamanan obat hal ini disebabkan karena sebagian besar responden tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang obat yang diberikan, termasuk tidak mengetahui bagaimana etiket pemberian label obat yang baik, serta sebagian responden walaupun mengaku pernah mengalami reaksi alergi obat akan tetapi perawat segera memberi instruksi untuk menghentikan konsumsi obat, sehingga hal tersebut tidak dipermasalahkan dan dianggap masih dalam batas wajar oleh sebagian responden sehingga tidak mempengaruhi pasien didalam membentuk pengalaman yang buruk.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Iswati (2017) bahwa tidak ada hubungan antara budaya keselamatan pasien dengan kepuasan pasien yang menyatakan bahwa penerapan keselamatan pasien tidak termasuk dalam ekspektasi yang diinginkan oleh pasien selama menjalani rawat inap, tuntutan atau harapan pasien adalah ingin segera sembuh dan segera keluar dari rumah sakit, sehingga pasien tidak terlalu peduli dengan tindakan keselamatan pasien yang bertujuan untuk menjamin keamanan dalam memberikan pelayanan.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Alyani (2017) juga menyatakan bahwa tidak ada pengaruh antara mutu pelayanan resep terhadap kepuasan pasien, yang menjadi perhatian khusus oleh pasien yaitu bagaimana kecepatan penyediaan obat ke pasien, disamping itu kebanyakan pasien tidak mengetahui bagaimana standar pelayanan di rumah sakit sehingga indikator yang masih kurang tersebut tidak terlalu mempengaruhi kepuasan pasien.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah ada pengaruh sasaran keselamatan pasien yaitu: kepastian tepat lokasi-tepat prosedur-tepat pasien operasi (p=0,032), pengurangan risiko infeksi (p=0,001) dan pengurangan risiko pasien jatuh (p=0,003) terhadap pengalaman pasien. Serta tidak ada pengaruh sasaran keselamatan pasien yaitu: ketepatan identifikasi pasien (p=0,154) dan peningkatan keamanan obat (p=0,200) terhadap pengalaman pasien. Oleh karena itu disarakan kepada pihak rumah sakit agar manajemen atau komite keselamatan pasien rumah sakit melakukan evaluasi dan monitor secara rutin terhadap pelaksanaan sasaran keselamatan pasien di RSUD Labuang Baji untuk membudayakan kepada petugas agar keselamatan pasien dapat menjadi budaya yang biasa dilakukan oleh petugas.

DAFTAR PUSTAKA

Alyani, D. (2017). Mutu Pelayanan Resep dan Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Jalan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Dr. Fl Tobing Sibolga (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Ashcroft, D. M., Morecroft, C., Parker, D., & Noyce, P. R. (2005). Safety Culture Assessment in Community Pharmacy: Development, Face Validity, and Feasibility of The Manchester Patient Safety Assessment Framework. Journal Quality and Safety in Health Care. 14(6). 417–421.

Bowling, A., Rowe, G., & Mckee, M. (2013). Patients ’ Experiences of Their Healthcare in Relation to Their Expectations and Satisfaction : A Population Survey. Royal Society of Medicine, 6(1), 143–149.

Chinta, G. (2016). Analisis Pelaksanaan Identifikasi Pasien Dalam Rangka Keselamatan Pasien di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(4), 43–48.

Santoso, S. (2012). Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Kelas III pada RS. Roemani Muhammadiyah Semarang (Skripsi). Semarang: Universitas Diponegoro.

Harrison, R., Walton, M., Manias, E., Smith-Merry, J., Kelly, P., Iedema, R., & Robinson, L. (2015). The Missing Evidence: A Systematic Review of Patients’ Experiences of Adverse Events in Health Care. International Journal for Quality in Health Care, 27(6), 424–442.

Health Leaders Media Industry Survey. (2013). Survey Strategic Imperatives for an Evolving Industry Turning Data into Decisions. Diakses 2 Maret 2018. Available from: http://www.healthleadersmedia.com/report/intel/2013-industry-survey-strategic-imperatives-evolving-industry

Iswati. (2017). Budaya Keselamatan Pasien dan Kepuasan Pasien. Adi Husada Nursing Journal, 3(2), 20-31.

Jones, C. H., O’Neill, S., McLean, K. A., Wigmore, S. J., & Harrison, E. M. (2017). Patient Experience and Overall Satisfaction After Emergency Abdominal Surgery. BMC Surgery, 17(1), 1–8.

Komisi Akreditasi Rumah Sakit. (2012). Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien. Jakarta.

Miake-Lye, I. M., Hempel, S., Ganz, D. A., & Shekelle, P. G. (2013). Inpatient Fall Prevention Programs as a Patient Safety Strategy. Annals of Internal Medicine, 158(5), 390–397.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 129. (2008). Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11. (2017). Keselamatan pasien. Jakarta: Kementerian Kesehatan.

Scottish Government. (2014). Scottish Inpatient Patient Experience Survey 2014 Volume 1. National Results. Scotland.

Silvera, G. A. (2017). The Moderating Role of Hospital Size on The Relationship between Patient Experience and Patient Safety. Quality Management in Health Care, 26(4), 210–217.

Utami. (2017). Gambaran Pelaksanaan Ketepatan Identifikasi Pasien oleh Perawat di Instalasi Rawat Inap Kelas III RSUD Pasar Minggu Tahun 2017 (Skripsi). Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

 

 

 

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien di Instalasi Rawat Inap RSUD Labuang Baji Makassar Tahun 2018

Karakteristik Responden n %
Jenis Kelamin

Laki-laki

Perempuan

 

37

63

 

37,0

63,0

Usia

17 – 25 tahun

26 – 35 tahun

36 – 45 tahun

46 – 55 tahun

> 55 tahun

 

9

15

21

28

27

 

9,0

15,0

21,0

28,0

27,0

Pendidikan
SD

SMP

SMA/SMK

D3/S1/S2

18

20

39

23

18,0

20,0

39,0

23,0

Pekerjaan
< 5 km

> 5 km

45

55

45,0

55,0

 

Tabel 2. Pengaruh Sasaran Keselamatan Pasien terhadap Pengalaman Pasien di Instalasi Rawat Inap RSUD Labuang Baji Makassar Tahun 2018

No. Variabel Sig. (P value)
1. Ketepatan Identifikasi Pasien 0,154
2. Peningkatan Keamanan Obat 0,200
3. Kepastian Tepat Loksi-Tepat Prosedur-Tepat Pasien Operasi 0,032
4. Pengurangan Risiko Infeksi 0,001
5. Pengurangan Risiko Pasien Jatuh 0,003