Sel. Mei 21st, 2019

PENGARUH PMT BISKUIT KEMENKES DAN EDUKASI PMBA TERHADAP PERTUMBUHAN ANAK KURUS USIA 6-18 BULAN DI MAKASSAR

PENGARUH PMT BISKUIT KEMENKES DAN EDUKASI PMBA TERHADAP PERTUMBUHAN ANAK KURUS USIA 6-18 BULAN DI MAKASSAR

 

THE EFFECT OF PMT MINISTRY OF HEALTH BISCUITS AND EDUCATION OF PMBA ON GROWTH OF WASTING CHILDREN AGED 6-18 MONTHS IN MAKASSAR

 

1Ika Muzdalia, 2Healthy Hidayanty, 3Anna Khuzaimah

1Program Pascasarjana, Departmen Gizi Kesehatan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(email: ika.muzdaliah@gmail.com)

2 Departmen Gizi Kesehatan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(email: hhidayanty@yahoo.com)

3Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alamat Korespondensi

 

Ika Muzdaliah

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Hasanuddin

Makassar, 90242

HP: +6285299256254

Email: ika.muzdaliah@gmail.com


ABSTRAK

Salah satu upaya untuk mengatasi anak kurus dengan pemberian makanan tambahan yang nilai gizinya sudah terukur agar kebutuhan gizinya dapat terpenuhi.. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian biskuit PMT kemenkes dan edukasi PMBA terhadap pertumbuhan pada anak kurus usia 6-18 bulan di makassar. Penelitian ini adalah quasi experimental. Penelitian ini dilakukan di wilayah binaan Puskesmas Patingalloang sebagai kelompok intervensi, sedangkan untuk kelompok kontrol dilakukan di wilayah binaan Puskesmas Sudiang. Populasi dalam penelitian ini adalah semua baduta di wilayah binaan Dinas kesehatan Makassar usia 6-18 bulan yang berada di wilayah Puskesmas Pattingaloang dan Puskesmas Sudiang dengan jumlah 60 anak kurus. Sampel dalam penelitian ini adalah anak kurus usia 6-18 bulan diambil setelah melakukan screening sesuai kriteria inklusi yang telah ditentukan. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Analisis data dengan menggunakan uji t berpasangan dan tidak berpasangan serta uji Mann Whitney dan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan berat badan, tinggi badan dan status gizi anak kurus usia 6-18 bulan sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok (p<0.005). Selain itu, Ada perbedaan signifikan asupan makro (energi dan lemak) sebelum dan setelah intervensi pada kelompok kontrol (p<0.005) dan tidak signifikan pada kelompok intervensi (p>0.005), serta tidak ada perbedaan pertumbuhan dan rata-rata asupan mikro (Vit A, Zat besi dan Zink) sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok (p> 0.005). Penelitian ini menyarankan Program Pemberian Makanan tambahan terus dilakukan menanggulangi masalah gizi kurang untuk mengejar nilai normal dari anak-anak gizi kurang.

Kata Kunci        : PMT, edukasi PMBA, Biskuit Kemenkes, pertumbuhan, anak kurus

 

ABSTRACT

An effort to overcome wasting is Supplementary Feeding Program where its nutritional value has been measured . The purpose of this study was to determine the effect of PMT biscuits on health and PMBA education on growth in wasting aged 6-18 months in Makassar. This research is a quasi experimental study. This research was conducted in the target area of Patingalloang Health Center as an intervention group, while for the control group it was carried out in the Sudiang Community Health Center. The population in this study were all students in the target area of Makassar Health Office aged 6-18 months in Pattingaloang Health Center and Sudiang Health Center with 60 thin children. The samples in this study were thin children aged 6-18 months taken after screening according to the specified inclusion criteria. The sampling technique was taken by using purposive sampling method. Data analysis using paired and unpaired t-test and Mann Whitney test and Wilcoxon test. The results showed that there were differences in weight, height and nutritional status of underweight children aged 6-18 months before and after intervention in both groups (p <0.005). In addition, there were significant differences in macro intake (energy and fat) before and after intervention in the control group (p<0,005) and not significant in the intervention group (p>0,005), and there was no difference in growth and average micro intake (Vit A, Substance iron and Zink) before and after intervention in both groups (p> 0.005). This study suggests to feeding Program will be continued to tackle the problem of malnutrition to pursue the normal value of undernourished children

.

Keywords: PMT, PMBA education, Ministry of Health Biscuits, growth, wasting

 

 



PENDAHULUAN

Masalah kurus atau wasting adalah kegagalan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal, diukur berdasarkan BB/TB (berat badan menurut tinggi badan.1 Pada tahun 2013, data global menunjukkan bahwa prevalensi stunting, berat badan rendah, dan wasting adalah masing-masing 37%, 15% dan 8%. Kekurangan gizi dilaporkan lebih tinggi di Asia dan Afrika daripada di Eropa; di Afrika prevalensi stunting dan berat badan kurang meningkat selama 23 tahun terakhir.2

Secara global pada tahun 2016, terdapat 155 juta anak di bawah usia lima tahun yang mengalami stunting, 52 juta wasting dan 41 juta mengalami obesitas. Prevelensi tertinggi adalah stunting (34%) di Wilayah Afrika dan Wilayah Asia Tenggara. Keduanya merupakan prevalensi tertinggi prevalensi wasting (15,3%) dan jumlah anak-anak wasting (27 juta) ditemukan di South East Kawasan Asia.3

Pada tahun 2013, secara nasional prevalensi kurus pada anak balita masih 12,1 %, yang artinya. Masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Sedangkan Prevalensi sangat kurus secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu 5,3 %. Prevalensi gizi kurang naik sebesar 0,9% dari tahun 2007 dan tahun 2013, sedangkan tingkat provinsi Sulawesi Selatan menempati urutan kesepuluh dari 33 provinsi prevelensi gizi kurang diatas angka prevelensi nasional yaitu sekitar 21,2-33,1%. (KEMENKES RI, 2013). Dan jika dilihat dari besarnya tingkat permasalahan dari segi kesehatan masyarakat, kekurusan di Indonesia termasuk dalam kategori yang serius.4

Berdasarkan data Penilaian Status Gizi (PSG) menunjukkan bahwa masalah gizi di Propinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Indeks Berat Badan menurut tinggi badan ( wasting) dari tahun 2015 ke tahun 2017 mengalami peningkatan, dimana untuk kategori kurus dari 7,8% di tahun 2015 menjadi 8,3% ditahun 2016 dan meningkat ditahun 2017 menjadi 9,9%. Sedangkan untuk kategori sangat kurus naik dari tahun 2015 ke tahun 2016 yaitu 2,2% menjadi 2,7% dan menurun pada tahun 2017 menjadi 2.4%. Sesuai dengan standar WHO, Suatu wilayah dikatakan mengalami masalah gizi akut bila prevalensi balita kurus 5% atau lebih. Dan ini merupakan masalah kesehatan.5

Masalah gizi kurang muncul karena berbagai faktor salah satunya yaitu asupan gizi yang tidak adekuat. (Darnton-Hill & Samman, 2015). Tingginya prevalensi kejadian anak kurus tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor resiko seperti: faktor asupan nutrisi, pendapatan keluarga, riwayat penyakit infeksi, status kelengkapan imunisasi, dan pemberian ASI eksklusif. Kejadian wasting juga dapat diakibatkan oleh kesalahan dalam penatalaksanaan yang memfokuskan pada pengobatan serta rehabilitasi terhadap penderita wasting bukan lebih kepada upaya preventif terhadap kejadian wasting, hal ini wasting baru dianggap sebagai masalah keasehatan setelah berada pada kategori wasting berat.6

World Health Organization melaporkan lebih dari tiga jutaanak balita (di bawah usia 5 tahun)meninggal akibat kekurangan gizi setiap tahunnya. Mengakhiri semua bentuk kekurangan gizi pada tahun 2030 merupakan salah satu sasaran tujuan pembangunan berkelanjutan sebagaimana dilaporkan dalam Global Nutrition Report 2015.7

Presentase balita kurus yang mendapat makanan tambahan di tahun 2016 sebanyak 36,8 % meningkat di tahun 2017 sebanyak 59,1 %. Sulawesi Selatan hanya sebesar 38,4 % yang mendapatkan makanan tambahan di tahun 2017. Masih berada di bawah rata-rata nasional.8

Salah satu strategi untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia adalah dengan memperluas cakupan pemberian makan bagi bayi anak sesuai standar yaitu melalui pelatihan PMBA (Pemberian Makanan Pada Bayi dan Anak) .9. Pemberian makanan tambahan khususnya bagi kelompok rawan merupakan strategi suplementasi dalam mengatasi masalah gizi. Penelitian Kristiamsson, et all, 2016 berdasarkan hasil analisis data 31 negara memperlihatkan suplementasi makanan menunjukan adanya kenaikan berat badan pada keluarga kurang mampu. Demikian halnya anak-anak usia 6 – 23 bulan yang diberikan makanan tambahan selama 6 bulan menunjukan kenaikan berat badan, selanjutnya ketika MT diberikan bersama edukasi gizi dan intervensi berbasis pangan lokal maka kenaikan berat badan menjadi lebih besar. Pemberian makanan komplementer yang sesuai, dengan atau tanpa pendidikan gizi, dan konseling gizi ibu saja menyebabkan peningkatan berat badan dan tinggi .10 Untuk mendukung pelaksanaan pemberian suplementasi gizi berupa makanan tambahan bagi kelompok sasaran tersebut perlu disusun standar makanan tambahan. Dan sesuai dengan acuan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia, acuan untuk pengukuran status gizi anak balita yang paling baik adalah berat badan menurut tinggi badan ditambah tanda klinis. Pada penelitian yang dilakukan hosang didapatkan peningkatan status gizi setelah 90 hari PMT menjadi normal pada 56 orang (80%).11 Tambhakan tujuan penelitian di sini…..

 

BAHAN DAN METODE
Penelitian ini adalah penelitian quasi experimental. Menggunakan dua kelompok yaitu kelompok intervensi terdiri atas kelompok PMT Kemenkes (Grup 1).Kelompok kontrol adalah kelompok tanpa PMT dengan pola edukasi rutin PMBA yang dilakukan di posyandu area terpilih (Grup 2). Penelitian ini dilakukan di wilayah binaan Puskesmas Patingalloang sebagai kelompok intervensi, sedangkan untuk kelompok kontrol dilakukan di wilayah binaan Puskesmas Sudiang pada bulan Mei sampai juli tahun 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah semua baduta di wilayah binaan Dinas kesehatan Makassar usia 6-18 bulan yang berada di wilayah Puskesmas Pattingaloang dan Puskesmas Sudiang dengan jumlah 60 anak kurus. Sampel dalam penelitian ini adalah anak kurus usia 6-18 bulan diambil setelah melakukan screening sesuai kriteria inklusi yang telah ditentukan. Teknik pengambilan sampel diambil dengan menggunakan metode purposive sampling. Analisis data dengan menggunakan uji t berpasangan dan tidak berpasangan serta uji Mann Whitney dan uji Wilcoxon.



HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Sebaran jenis kelamin anak merata antara kelompok intervensi dan kontrol dimana pada kelompok intervensi yaitu laki-laki sebesar 56.7% perempuan 43.3% sedangkan pada kelompok kontrol laki-laki sebesar 56.7% dan kontrol sebesar 43.3% dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan jenis kelamin antara kelompok intervensi dan kontrol. Untuk status kesehatan hampir sebagian besar anak pada kelompok intervensi sakit 42.9% sedangkan pada kelompok kontrol 40% dari hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada keompok intervensi dan kontrol p > 0.05. Praktek pemberian makanan pada kelompok intervensi yang baik sebesar 33.3%, cukup 26.7 dan kurang 40%. Sedangkan untuk kelompok kontrol baik sebesar 26.7%, cukup 33.3 dan kurang 40% (Tabel 1).

Karakteristik keluarga anak terdiri dari pendidikan ibu, hubungan pengasuh dan jenis keluarga. Pada latar belakang pendidikan ibu, pendidikan lulus SD merupakan mayoritas pada kelompok intervensi (33.3%) sedangkan untuk pendidikan lulus diploma S1 mayoritas pada kelompok kontrol yaitu (33.3%). Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan signifikan pada pendidikan antara kelompok intervensi dan kontrol. Untuk karakteristik hubungan pengasuh responden, hubungan pengasuh terdiri dari ibu, tante dan nenek dimana ibu merupakan dominan pengasuh pada sampel penelitian baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol ( 96.7%). Dari hasil uji statistik menunjukan tidak ada perbedaan yang signifikan hubungan pengasuh antara kelompok intervensi dan kontrol nilai p > 0.05. Jenis keluarga pada kelompok intervensi lebih dominan pada keluarga besar sebesar 66.7%, dibandingkan keluarga inti 33.3%. pada kelompok kontrol lebih dominan keluarga inti 70% dibandingkan keluarga besar 30% (Tabel 2).

Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa dari hasil pengukuran memperlihatkan peningkatan pada kelompok intervensi berat badan rata-rata sebelum (7.07± 0.74) menjadi (8.31±0.86) dengan perubahan berat badan (1.32±0.423) sedangkan pada kelompok kontrol berat badan rata-rata(7.126±0.91) menjadi (7.88±0.84) dengan perubahan berat badan (0.77±0,445) dari hasil uji statistik dikedua kelompok menunjukkan ada perbedaan berat bedan yang signifikan sebelum dan setelah intervensi p<0.05 dengan perubahan berat badan yang secara statistik bermakna dan tidak ada perbedaan signifikan pada berat badan sebelum intervensi pada kelompok intervensi dan kontrol p>0.05 (Tabel 3).

Pada kelompok intervensi panjang badan rata-rata (71.38± 3.59) menjadi (75.63±3.77) dengan perubahan panjang badan (4.383±1,55) sedangkan pada kelompok kontrol panjang badan (71.84±4.63) menjadi (75.32±4.29) dengan perubahan panjang badan (3.48±1,28. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan signifikan pada panjang badan sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok p<0.05 dengan perubahan panjang badan secara statistik menunjukkan ada perbedaan signifikan. Dan tidak ada perbedaan signifikan pada panjang badan sebelum intervensi pada kelompok intervensi dan kontrol p<0.05. Untuk status gizi pada kelompok intervensi (-2.39± 0.29) menjadi (-1.57± 0.63) sedangkan pada kelompok kontrol (-2.38±0.25) menjadi –(2.121±0.69) dan dari hasi uji statistik menunjukan ada perbedaan signifikan sebelum dan setelah intervensi baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol <0.05 (Tabel 3).

Pada kelompok intervensi asupan energi rata-rata pada saat pre test (665.70±259.68) menjadi (740.57±232.48) dengan perubahan asupan energi (74.8±286.1) sedangkan pada kelompok kontrol asupan energi rata-rata pada saat pre test (593.00±206.79) menjadi (706.28±214.51) dengan perubahan asupan energi (113.2±175.1) dari hasil uji statistik pada kelompok intervnsi menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada asupan energi sebelum dan setelah sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan ada perbedaan asupan energi sebelum dan setelah intervensi p<0.05 dengan perubahan asupan energi yang secara statistik tidak bermakna dan tidak ada perbedaan yang signifikan pada asupan energi baik sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok p>0.05 (Tabel 4)

Pada kelompok intervensi asupan protein rata-rata pada saat pre test (20.03± 10.31) menjadi (24.24±10.21) saat post test dengan perubahan asupan protein (4.211±10.68) sedangkan pada kelompok kontrol asupan protein rata-rata pada saat pre test (19.77±10.78) menjadi (24.12±9.72) dengan perubahan asupan energi (4.35±10.12) dari hasil uji statistik dikedua kelompok menunjukkan bahwa ada perbedaan asupan protein sebelum dan setelah intervensi p<0.05 dengan perubahan asupan protein yang secara statistik tidak bermakna dan tidak ada perbedaan yang signifikan pada asupan protein baik sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok p>0.05 (Tabel 4)

Adapun pada kelompok intervensi asupan lemak rata-rata pada saat pre test (25.43± 10.96) menjadi (27.42± 12.20) saat post test dengan perubahan asupan lemak (1.99±-13.91) sedangkan pada kelompok kontrol asupan lemak rata-rata pada saat pre test (20.13±10.55) menjadi (23.58±10.03) dengan perubahan asupan lemak (3.45±8.58) dari hasil uji statistik pada kelompok intervensi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan asupan lemak sebelum dan setelah intervensi p>0.05 sedangkan pada kelompok kontrol terdapat perbedaan signifikan p<0.05 dengan perubahan asupan lemak yang secara statistik tidak bermakna dan tidak ada perbedaan yang signifikan pada asupan lemak baik sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok p>0.05 (Tabel 4)

Pada kelompok intervensi asupan vitamin A rata-rata pada saat pre test (301.86±178.30) menurun menjadi (256.06±174.8) saat post test dengan perubahan asupan vitamin A (-45.79±206.89) sedangkan pada kelompok kontrol asupan vitamin A rata-rata pada saat pre test (323.98±232.41) menjadi (362.73±213.82) dengan perubahan asupan vitamin A (38.74±210.02) dari hasil uji statistik dikedua kelompok menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan asupan vitamin A sebelum dan setelah intervensi p>0.05 dengan perubahan asupan vitamin A yang secara statistik tidak bermakna dan tidak ada perbedaan yang signifikan pada asupan vitamin A baik sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok p>0.05 (Tabel 5).

Asupan Zat Besi rata-rata pada kelompok intervensi saat pre test (3.61±3.06) menjadi (2.95±2.68) saat post test dengan perubahan asupan Zat Besi (-663±3.112) sedangkan pada kelompok kontrol asupan Zat Besi rata-rata pada saat pre test (4.47±4.07) menjadi (4.4±3.82) dengan perubahan asupan Zat Besi (0.145±3.42) dari hasil uji statistik dikedua kelompok menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan asupan Zat Besi sebelum dan setelah intervensi p>0.05 dengan perubahan asupan Zat Besi yang secara statistik tidak bermakna dan tidak ada perbedaan yang signifikan pada asupan Zat Besi baik sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok p>0.05 (Tabel 5).

Pada kelompok intervensi asupan Zink rata-rata pada saat pre test (2.49±1.55) menjadi (2.62±1.35) saat post test dengan perubahan asupan Zinc (0.127±1.233) sedangkan pada kelompok kontrol asupan Zinc rata-rata pada saat pre test (3.09±2.39) menjadi (3.24±2.26) dengan perubahan asupan Zinc (0.151±2.609) dari hasil uji statistik dikedua kelompok menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan asupan Zinc yang signifikan sebelum dan setelah intervensi p>0.05 dengan perubahan asupan Zat Besi yang secara statistik tidak bermakna dan tidak ada perbedaan yang signifikan pada asupan Zinc baik sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok p>0.05 (Tabel 5).




Pembahasan

Pertumbuhan

Menurut Depkes dalam keadaan gizi baik dan sehat (seimbang) pertumbuhan seorang anak akan normal. Sebaliknya bila anak dalam keadaan gizi anak akan kurang seimbang maka pertumbuhan anak akan terganggu seperti anak akan kurus, pendek atau gemuk.12

Pertumbuhan merupakan indikator sensitif kesehatan anak, status nutrisi dan latar belakang genetiknya. Penyimpangan dari rata-rata tinggi dan berat badan dapat menunjukkan adanya masalah kesehatan pada anak. Misalnya, kurang gizi pada anak dapat meningkatkan resiko kematian, menghambat perkembangan kognitif, dan mempengaruhi status kesehatan pada usia remaja dan dewasa.13

Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan berat badan, tinggi badan dan status gizi sebelum dan setelah diberikan perlakuan diperoleh P value < 0.005 hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh pemberian biskuit Kemenkes terhadap pertumbuhan anak kurus usia 6-18 bulan.

PMT biskuit kemenkes merupakan suplementasi gizi berupa makanan tambahan dalam bentuk biskuit dengan formulasi khusus dan difortifikasi dengan vitamin dan mineral yang diberikan kepada bayi dan anak balita usia 6-18 bulan dengan kategori kurus

Konsumsi biskuit PMT merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan berat badan pada balita gizi kurang, selain itu biskuit PMT memiliki nilai kandungan gizi. Setiap bungkus PMT Balita terdiri dari 12 keping biskuit atau 540 kalori (45 kalori per biskuit).

Pada penelitian ini ditemukan ada peningkatan berat badan pada kelompok intervensi berat badan sebelum (7.07) menjadi (8.31) dan pada kelompok kontrol (7.12) menjadi (7.88) dimana ada perbedaan berat badan sebelum dan setelah intervensi. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna p<0.05 dengan perubahan yang bermakna p Value 0.000.

Hasil ini sejalan dengan peneltian yang dilakukan di daerah Tamilandu, india pada pemberian suplementasi biskuit kentang kaya nutrisi dimana berdampak baik dalam peningkatan berat badan anak.14 Hal yang sama dalam penelitian yang dilakukan octaviana bahwa ada perbedaan yang bermakna pada berat badan setelah pemberian bolu tepung tempe.dan biskuit PMT pada balita gizi kurang. Sejalan juga dengan penelitian tentang produk bahan makanan campuran tempe untuk perbaikan gizi balita juga menunjukkan bahwa terjadi peningkatan berat badan rata-rata berturut-turut sebesar 1,28 (pada kelompok BMC tempe), 0,92 (Pada kelompok BMC tempe-telur) dan 0,86 (pada kelompok BMC lele) .15 Sama hal dalam penelitian juhartini mengatakan bahwa dengan Pemberian PMT BMC kelor dapat memberi pengaruh terhadap kenaikan BB.16

Sejalan dengan penelitian megawati B dengan judul pengaruh pemberian makanan tambahan pada balita kurang energi protein (KEP) menunjukkan bahwa pemberian makanan pabrikan juga dapat memperbaiki kenaikan berat badan dan panjang badan.

Hasil analisis data 31 negara yang dilakukan oleh Kristiamsson, et al, memperlihatkan bahwa suplementasi makanan mempengaruhi kenaikan berat badan pada keluarga kurang mampu. Demikian halnya anak-anak usia 6 – 23 bulan yang diberikan makanan tambahan selama 6 bulan menunjukan kenaikan berat badan, selanjutnya ketika Makanan tambahan diberikan bersama edukasi gizi dan intervensi berbasis pangan lokal maka kenaikan berat badan menjadi lebih besar. Pemberian makanan komplementer yang sesuai, dengan atau tanpa pendidikan gizi, dan konseling gizi ibu saja menyebabkan peningkatan berat badan dan tinggi. .12

Biskuit PMT kaya akan vitamin dan mineral. Pada balita, selain vitamin kebutuhan mineral mikro antara lain berupa zat besi untuk proses reaksi oksidasi-reduksi, metabolism aerobik dan pembawa oksigen dalam darah: yodium sebagai bagian integral dari hormone tiroksin untuk mengatur pertumbuhan untuk sintesis kolesterol darah, dan aktivasi vitamin A serta zink untuk proses metaboisme.

Hasil uji beda menunjukkan bahwa antara tinggi badan sebelum dan sesudah pemberian PMT biskuit kemenkes menunjukkan ada perbedaan yang bermakna (p<0,05). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh octaviana bahwa ada perbedaan bermakna pada tinggi badan setelah pemberian PMT bolu tepung.

Hasil penelitian yang sama dilakukan oleh farida bahwa PMT-P selama 2 bulan memberikan pengaruh terhadap perubahan status gizi berdasarkan BB/TB. Sebelum mendapatkan biskuit PMT status gizi balita yang dinilai berdasarkan BB/TB berada pada status gizi anak kurus

Status gizi dalam penelitian ini menunjukkan ada perbedaan signifikan sebelum dan setelah intervensi baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol pValue <0.05. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh imas 2017 bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna perubahan status gizi balita sebelum dan sesudah PMT-P pada indeks antropometri BB/TB diperoleh nilai p=0,055.1 7

Status gizi seseorang dipengaruhi oleh jumlah dan mutu pangan yang dikonsumsi serta keadaan seseorang yang dapat menyebabkan gangguan penyerapan gizi atau infeksi penyakit parasite (Suhardjo. 2012). Untuk responden dengan pertumbuhan tidak normal dengan status gizi kurus pada kelompok intervensi sebanyak 6 orang (37.5%) sedangkan pada kelompok kontrol sebanyak 16 orang (68.2%). Hal ini disebabkan karena pada kelompok kontrol tidak mendapatkan biskuit PMT kemenkes sehingga lebih banyak responden yang masih dalam kategori kurus sedangkan pada kelompok intervensi mendapatkan biskuit PMT. Meskipun pertumbuhan normal tetapi masih dalam status gizi kurus. Namun bila pertumbuhannya terus membaik maka status gizinnya akan berpindah ke status gizi normal.

Asupan zat gizi makro dan mikro anak baduta usia 6-18 bulan diperoleh melalui food recall 24 jam yang dilakukan selama 3 hari tidak beruruta. Asupan zat gizi makro berupa energy, protein dan lemak sedangkan mikro berupa vitamin A, zat besi dan zink.

Asupan zat gizi idealnya harus mengandung cukup energi dan semua zat gizi lain yang sesuai kebutuhan sehari-hari (Sulistyoningsih, 2011). Semakin bertambahnya usia anak, kebutuhan energi juga akan semakin banyak. Jika energi ini tidak terpenuhi, maka pertumbuhan anak akan berhenti atau melambat (Direktorat Bina Gizi, 2011).

Pada hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan asupan energi setelah dilakukan intervensi. Asupan rata-rata sebelum (665±259.8) menjadi (740.57±232.4). Hal ini sesuai bahwa biskuit PMT mengandung nilai gizi yang tinggi. Setiap bungkus PMT Balita terdiri dari 12 keping biskuit atau 540 kalori (45 kalori per biskuit). Namun hasil uji statitik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kelompok intervensi. Hal ini dikarenakan pada kelompok intervensi biskuit yang diberikan sebanyak 8 keping untuk usia 6-11 bulan dan 12 keping usia 12-24 bulan merupakan jumlah yang begitu banyak sehingga anak-anak merasa bosan dan tidak patuh dalam mengkonsumsi biskuit yang telah dianjurkan.

Sedangkan kelompok kontrol sebelum diberikan edukasi PMBA asupan rata-rata (593±206.79) dan meningkat setelah diberikan edukasi (706.28±214.51) dengan hasil statistik signifikan hal ini dikarenakan anak-anak yang berada dkelompok kontrol lebih mengoptimalkan makanan lokal sehingga asupan gizi terpenuhi dan dapat dikaitkan bahwa Ibu yang berada dikelompok kontrol memiliki pendidikan yang tinggi dibandingkan kelompok intervensi. Sehingga ibu dengan pendidikan yang lebih tinggi akan lebih mudah menerima informasi dari luar, dibandingkan dengan ibu yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya bahwa Dengan pemberian makanan pendamping (konsling gizi) dan konseling gizi saja dapat mempengaruhi pertumbuhan (Imdad,et.all. 2011).

Pada asupan protein dari hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan signifikan sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok. Jenis kelamin berkaitan dengan kebutuhan energi. Umumnya laki-laki memiliki berat dan panjang badan lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang menyebabkan laki-laki memiliki kebutuhan energi dan protein yang lebih tinggi dan lebih berisiko untuk terkena gizi buruk dibandingkan perempuan (Gaboulaud, 2007)

Sebanyak (70%) ditemukan masih banyak responden yang tidak menghabiskan biskuit yang diberikan walaupun sejak awal penelitian para ibu dan kader sudah diberi motivasi dalam memastikan konsumsi biskuit PMT Kemenkes maksimal. Pada kelompok intervensi adanya ketidak patuhan dalam menkonsumsi biskuit dikarenakan biskuit terlalu banyak sehingga kemungkinan anak menjadi bosan.

Protein adalah salah satu zat gizi makro yang penting karena fungsinya secara umum untuk pertumbuhan selain sebagai sumber energi. Protein merupakan sumber asam amino esensial untuk pertumbuhan dan pembentukan serum, hemoglobin, enzim, hormone, serta antibodi; mengganti sel-sel tubuh yang rusak; memelihara keseimbangan asam basa cairan tubuh, serta sumber energi.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa asupan zat gizi secara langsung akan mempengaruhi status gizi seseorang, artinya jika jumlah asupan zat gizi yang berasal dari makanan yang dikonsumsi meningkat, maka status gizi pun akan meningkat pula.

Pada hasil penelitian dikedua kelompok baik kelompok intervensi maupun kontrol tidak menunjukkan perubahan signifikan pada asupan mikro (Vit A, Zat besi dan zink). Pada penelitian menunjukkan adanya penurunan asupan zat besi dan vit A pada kelompok intervensi hal ini terjadi karena adanya keragaman makanan. Pada waktu melakukan screening bertepatan dengan musim buah-buahan dan ketika itu anak-anak lebih sering mengkonsumsi buah buahan daripada makanan pokok. Dan pada saat pengukuran terakhir sudah tidak lagi musim buah sehingga hal inilah yang menyebabkan asupan vit A dan zat besi menurun. Pada penelitian ini juga didapatkan anak yang sakit pada kelompok intervensi 50% sedangkan pada kelompok kontrol 40%.

Pada kondisi kekurangan zat gizi, absorbsi zat gizi akan lebih efisien sehingga utilisasi zat gizi di dalam tubuh lebih optimal. Disisi lain, Fe dan Zn mampu memperbaiki imunitas tubuh. Zn sendiri berfungsi memperbaiki indra pengecap, sehingga memperbaiki nafsu makan. Zn juga merupakan komponen penting dalam pembentukan enzim ALA dehidratase, yaitu enzim kunci dalam biosintesis Heme. Dengan meningkatnya uptake Fe ke dalam eritrosit, maka sirkulasi dan penggunaan zat gizi di dalam tubuh lebih optimal. Sebagai salah satu outputnya adalah asupan zat gizi membaik, berat badan bertambah.

Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kartika yang memberikan hasil bahwa Pemberian MP-ASI formula pabrik dengan kandungan energi 197 kkal dan 4,8 g protein per hari pada anak umur 5 bulan selama 4 bulan dapat meningkatkan berat badan yang bermakna sebesar 1,30 kg. Terdapat perbedaan yang bermakna pada nilai skor z berdasarkan indeks BB/U, PB/U dan BB/PB berdasarkan baku WHO/NCHS pada sampel yang diberi MP-ASI formula pabrik selama 4 bulan. Rata-rata nilai skor z untuk ketiga indek masih berada pada batas berat badan normal (>-2 SD) sedangkan pada kelompok kontrol sudah berada pada batas berat badan kurang/kurus. Terdapat perbedaan yang bermakna pada asupan energi, protein dan zat besi pada kelompok sampel yang diberi MP-ASI formula pabrik selama 4 bulan. Tingkat kecukupan asupan energi, protein dan zat besi sudah sesuai dengan tingkat kecukupan yang dianjurkan yaitu lebih besar dari 80% sedangkan pada kelompok kontrol hanya 60%.18

 



KESIMPULAN DAN SARAN

            Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan berat badan, tinggi badan dan status gizi anak kurus usia 6-18 bulan sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok (p<0.005). selain itu, Ada perbedaan signifikan asupan makro (energi dan lemak) sebelum dan setelah intervensi pada kelompok kontrol (p<0.005) dan tidak signifikan pada kelompok intervensi (p>0.005), serta tidak ada perbedaan pertumbuhan dan rata-rata asupan mikro (Vit A, Zat besi dan Zink) sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok (p> 0.005). Penelitian ini menyarankan perlunya kontrol dalam pemberian biskuit PMT Kemenkes melalui pendekatan personal kepada orang tua.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. (2010). Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010, 1–60. https://doi.org/351

 

LAMPIRAN

Tabel 1 Distribusi karakteristik anak berdasarkan kelompok

Karakteristik anak

Tabel 2 Karakteristik keluarga anak berdasarkan kelompok

Karakteristik keluarga Intervensi Kontrol  

P Value

n % n %
Pendidikan
Tidak sekolah 1 3.3
Tidak lulus SD 6 20
Lulus SD/MI 10 33.3 2 6.7 0.001
Lulus SMP/MTS 8 26.7 8 26.7
Lulus SMA/MA 4 13.3 9 30
Lulus diploma S1 1 3.3 10 33.3
Lulus S1 1 3.3
Hubungan pengasuh
Ibu 29 96.7 29 96.7 0.368
Tante 1 3.3
Nenek 1 3.3
Jenis keluarga
Keluarga inti 10 33.3 21 70 0.005
Keluarga besar 20 66.7 9 30

Sumber : Data primer, 2018                                                uji chi square

 

 

 

 

 

Tabel 3 Distribusi Responden Berdasarkan rata-rata berat badan, panjang badan dan Z-Score Status Gizi (BB/PB) sebelum dan setelah intervensi pada Kedua kelompok

 

Variabel Pre test Post test ∆ mean P value
  Mean ±SD Mean ± SD Mean ±SD  
Berat Badan  
Intervensi 7.07±0.74

7.126±0.91

0,794ᵇ

8.31±0.86

7.88±0.84

0,056ᵇ

1.32±0,423 0.000ª
Kontrol 0.77±0,445 0.000ª

 

P value 0.000ᵈ  
Panjang badan    
Intervensi 71.38± 3.59 75.63±3.77 4.383±1,55 0.000ª
Kontrol 71.84±4.63 75.32±4.29 3.48±1,28 0.000ª
P value 0,667ᵇ 0,768ᵇ 0.018ᵈ  

 

Status gizi      
Intervensi -2.39± 0.29

 

-1.57± 0.63 0.92±0,49 0.000ª
Kontrol -2.38±0.25 -2.121±0.69 0.70±0,82 0.040ª
P value 0,902ᵇ 0,003 0.018ᵈ  
 

Ket: ªpaired T test, ᵇindependen, ᵈ Uji man whitney

Sumber: Data primer, 2018

 

Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Rata-Rata Asupan Zat Gizi makro Sebelum Dan Sesudah Intervensi

 

Variabel Pre test Post test ∆ mean P value
  Mean ±SD Mean ± SD Mean ±SD  
Energi  
Intervensi 665.70±259.68

593.00±206.79

0.235ᵇ

740.57±232.48

706.28±214.51

0.555ᵇ

74.87±286.1 0.163ª
Kontrol 113.2±175.1 0.001ª
P value 0.694ᵇ  
Protein  
Intervensi 20.03± 10.31 24.24±10.21 4.211±10.68 0.039ª
Kontrol 19.77±10.78 24.12±9.72 4.35±10.12 0.026ª
P value 0.925ᵇ 0.963ᵇ 0.710ᵇ  
Lemak    
Intervensi 25.43± 10.96 27.42± 12.20 1.99±-13.91 0.491ᵈ
Kontrol 20.13±10.55 23.58±10.03 3.45±8.58 0.036ᵈ
P value 0.061ᵇ 0.188ᵇ 0.623ᵇ  
 

Keterangan :ªUji paired T test, ᵈUji Wilcoxon, ᵇUji Independent T test

Sumber: Data primer, 2018

 

 

Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Rata-Rata Asupan Zat Gizi Mikro Sebelum Dan Sesudah Intervensi

 

Variabel Pre test Post test ∆ mean P value
  Mean ±SD Mean ± SD Mean ±SD  
Vitamin A  
Intervensi 301.86±178.30

323.98±232.41

0.681ᵇ

256.06±174.8

362.73±213.82

0.039ᵇ

-45.79±206.89ᵈ 0.235ª
Kontrol 38.74±210.02 0.321ª
P value 0.122ᵇ  
Zat besi  
Intervensi 3.61±3.06 2.95±2.68 -663±3.112ᵈ 0.251ª
Kontrol 4.47±4.07 4.4±3.82      0.145±3.42 0.811ª
P value 0.352ᵇ 0.052ᵇ 0.342ᵇ  
Zinc    
Intervensi 2.49±1.55 2.62±1.35 0.127±1.233 0.554ª
Kontrol 3.09±2.39 3.24±2.26 0.151±2.609 0.749ª
P value 0.254ᵇ 0.203ᵇ 0.963ᵇ  
 

Keterangan; ªUji paired T test, ᵇUji Independent T test, ᵈUji man withney

Sumber data primer 2018.

 

Baca pedoman JKMM keseluruhan, lihat contoh pada paragraf pertama pembahasan pada contoh artikel halaman 36, pada pedoman tersebut. Bagian tersebut HANYA memuat temuan penelitian anda yang sekaligus merupakan jawaban dari pertanyaan tujuan penelitian. Dijelaskan secara ringkas namun jelas TANPA ada tambahan rujukan penelitian lainnya (khusus paragraf pertama ini).

 

tidak boleh ada subjudul di pembahasan, baca dan ikuti model pembahasan pada artikel contoh  lampiran pedoman

close