Sel. Mei 21st, 2019

KEMAMPUAN PENYULUH KESEHATAN MASYARAKAT TERHADAP CAKUPAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN DI KABUPATEN MAROS


close




PENDAHULUAN

SDM Kesehatan merupakan salah satu isu utama dalam pembangunan kesehatan, yang mendapat perhatian terutama yang terkait dengan jumlah, jenis dan distribusi, selain itu juga terkait dengan pembagian kewenangan dalam pengaturan SDM Kesehatan (PP No. 38 tahun 2000 dan PP No. 41 tahun 2000 ). Oleh karena itu, diperlukan penanganan lebih seksama yang didukung dengan regulasi yang memadai dan pengaturan insentif, reward-punishment, dan sistem pengembangan karier.
Kompetensi tenaga kesehatan belum terstandarisasi dengan baik. Hal ini disebabkan karena saat ini baru ada satu standar kompetensi untuk dokter umum dan dokter gigi serta deskripsi pekerjaan tenaga kesehatan lainnya belum jelas. Kerangka hukum dalam pendidikan tenaga kesehatan di Indonesia, terutama dalam hal sertifikasi dan akreditasi di Indonesia perlu diperkuat, dalam kaitan dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang dosen. Perekrutan tenaga kesehatan oleh daerah rendah karena keterbatasan formasi dan dana. Tenaga fungsional penyuluh kesehatan masyarakat di puskesmas bertugas mengelola promosi Kesehatan secara profesional dan mampu untuk mengelola serta menyelenggarakan pelayanan yang bersifat promotif dan preventif (DepKes, 2005).
Keputusan menteri negara pendayagunaan aparatur negara ini, terbuka peluang yang lebar bagi tenaga-tenaga penyuluh kesehatan masyarakat yang ada sekarang dan dimasa depan untuk lebih bertindak profesional dalam pemberdayaan masyarakat dalam bidang promosi kesehatan. Dengan kompleksitas tujuan dari promosi kesehatan, maka kegiatan ini melibatkan berbagai ahli/profesional. Selain memanfaatkan berbagai tenaga profesional , Kegiatan promosi kesehatan juga mencakup lima macam pendekatan yaitu medical or preventive (penyembuhan atau pencegahan), behaviour change (perubahan perilaku), educational (pendidikan), empowerment (pemberdayaan) dan social change (perubahan sosial) (Naidoo, Wills, 2000).
Upaya agar masyarakat berperilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan dengan memberikan informasi melalui kegiatan yang disebut pendidikan atau penyuluhan kesehatan, dampaknya akan lama tetapi bila perilaku berhasil diadopsi masyarakat, maka akan langgeng bahkan selama hidup dilakukan (Notoatmodjo, 2003). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi manajemen promosi kesehatan masing kurang dalam hal perencanaan kegiatan penyuluhan,masih kurang dalam hal pemanfaatan media, kompetensi pemasaran dan publikasi belum berjalan dengan baik, Kompetensi tenaga penyuluh kesehatan masyarakat dalam mempengaruhi kebijakan dan praktek belum berjalan dengan baik, hal ini ditunjukkan dengan rendahnya kemampuan tenaga penyuluh kesehatan masyarakat dalam melakukan negosiasi dengan pihak pembuat kebijakan ditingkat kecamatan (Farida, 2008). Tujuan penelitian Ini adalah mengetahui secara mendalam sejauh mana kemampuan tenaga penyuluh kesehatan masyarakat terhadap cakupan program promosi kesehatan di kabupaten Maros.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei – Juli 2012, yang dilaksanakan pada lingkup dinas kesehatan kabupaten Maros yang terdiri dari 14 puskesmas yang tersebar dari seluruh kecamatan yang ada di kabupaten Maros.
Desain
Penelitian ini merupakan studi Kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi, untuk menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu.
Sumber Data
Subyek yang dipilih sebagai informan dalam penelitian ini adalah tenaga penyuluh kesehatan masyarakat yang memenuhi kriteria informan yang diteliti yakni yang berhubungan langsung dengan variabel penelitian, menguasai masalah dan bersedia untuk diwawancarai.
Disamping itu, informan lain yang diharapkan dapat memberikan informasi yakni beberapa lembaga lain seperti BKKD, dan BKD.
Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data kualitatif yang paling independent terhadap semua metode pengumpulan data dan teknik analisis data adalah wawancara secara mendalam, observasi partisipasi, bahan dokumenter, serta metode-metode baru seperti metode bahan visual dan metode bahan penelusuran internet (Bungin, 2007).
Data dicatat dalam tulisan atau direkam melalui video tape recorder untuk pengambilan suara dan gambar. Data tidak sebagai apa yang diberikan oleh alam, tetapi merupakan hasil interaksi penulis dengan sumber data.
Sumber data diperoleh sdengan mengemukakan dapat menggunakan dua (2) sumber, yaitu (Sugiyono, 2007) : 1) Data Primer yang berupa wawancara dan observasi serta 2) Data Sekunder.
Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan secara induktif didalam penyusunan teori, sehingga teori dihasilkan merupakan teori yang diangkat dari bawah secara induktif. Ada beberapa cara dalam melakukan analisis data kualitatif. Itu berarti teknik analisis data kualitatif tidak tunggal, ada banyak teknik seperti yang dikembangkan oleh Lincoln dan Guba, Schaltzman dan strauss, Lofland dan Lofland, Glaser dan Strauss, Sparadley, Miles dan Huberman, dan analisis data kualitatif menggunakan software yaitu CDC EZ – Text, Hyperqual, Nvivo, dan atlas Ti.
Analisis Miles dan Huberman yaitu : Reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan model interaktif. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : Pertama, seluruh catatan lapangan dibagi kedalam paragraf (boleh juga dibagi kedalam kalimat). Kedua, setelah dibagi kedalam paragraf, diberi pengkodean sesuai dengan kategorinya. Ketiga, semua kategori atas semua catatan lapangan yang telah diberi pengkodean disatukan kedalam suatu kategori. Keempat, berbagai kategori itu dicari keterkaitannya untuk mendapatkan makna yang holistic. Kelima, dibuat kesimpulan akhir.



HASIL

Pengetahuan
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan bahwa pengetahuan petugas penyuluh kesehatan masyarakat yang meliputi Pengetahuan tentang Promosi kesehatan, seperti pernyataan informan :
“….. pengetahuan tentang promkes baru saya dapat setelah saya pegang ini…baru saya baca dari buku2 , buletin, buku desa siaga…buku panduan yang dibagikan oh… ternyata promkes maunya begini.. . … tidak pernah mempelajari tentang promkes……” (YLT, 41 tahun).
“…….cakupan pendataan phbs…. tapi…. melalui kader kalo disini,,, kurang lebih 21 %… pernah 5 % dengan jumlah desa 9 … sekarang 21 % lumayanmi karena desa pesisir……” (HFD, 51 tahun).

Pengalaman
Pengalaman kerja adalah proses pembentukan pengetahuan atau keterampilan tentang metode suatu pekerjaan karena keterlibatan karyawan tersebut dalam pelaksanaan tugas pekerjaan (Manulang, 1984). Pengalaman kerja adalah ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugas – tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik (Ranupandojo, 1984).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan bahwa pengetahuan petugas penyuluh kesehatan masyarakat yang meliputi masa kerja sebagai penyuluh kesehatan masyarakat, Sebagaimana petikan hasil wawancara dari informan sebagai berikut :
“…………..saya sudah 25 tahun disini maret 87.. kalo promkes tahun 96 itu… saya pake fungsional promkes ada sk dari mentri tapi sekarang tidakmi.. jadi itu.. tidak bisa ditolak.. jadi saya merangkap.. barupi ada tahun ini…sebenarnya saya mau kembali ke fungsional,, saya sudah golongan III c… … pendidikan saya administrasi… pernah ada pelatihan .. diklat promkes.. trampil dan ahli …dari membaca untuk tahu promkes…diklat laboratorium, manajemen puskesmas pelatihan perencanaan puskesmas… Pernah ikut diklat promkes terampil dan ahli….saya pernah dibarandasi .. sebagai TU… disini baru pegang promkes.. Cuma TU dan promkes…” (HFD, 51 tahun).
“…………SK Fungsional berlaku april 2012….saya penyuluh sejak terangkat…..saya pegang penyuluh sejak terangkat tahun 2007…. ya …langsung saya pegang penyuluh… waktu saya kontrak banyak program saya pegang….. .. selama saya disini jarang/tdk pernah ada pelatihan… dulu waktu honor sering ikut pelatihan tapi diluar promkes…..dijabfung juga diajarkan, diprajabatan juga diajarkan teknik2…..kurang tahu bagaimana … pemerintah kurang menyentuh tenaga penyuluh…hampir sama semua program… …saya juga pegang program jiwa.. (MNR, 40 tahun).
Keterampilan
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan bahwa pengetahuan petugas penyuluh kesehatan masyarakat yang meliputi Keterampilan komunikasi massa, yaitu :
“……….keterampilan menyuluh secara alami karena belum pernah dilatih…. keterampilan petugas perlu dilatih….” (MHJ, 45 tahun)
Adapun Keterampilan komunikasi interpersonal penyuluh kesehatan msyarakat yaitu :
“…metode penyuluhan pake teriak2 saja….alat peraga kurang… jadi menghambat… bagusnya program kalo alat peraga mendukung….kalo ada petugas khusus tenaga promkes lebih baik lagi….terserah masyarakat mau mengerti atau tidak…” (SKR, 39 tahun).

Anggaran
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan bahwa anggaran untuk promosi kesehatan yang meliputi anggaran kesehatan :
“………anggaran promkes tahun 2012 ada tapi blm cair.. tahun sebelumnya tdk ada, jadi anggaran sendiri, anggaran promkes diusulkan pertahun tapi tdk pernah ada,… sumber2 fasilitas dari provinsi dan pusat, sambil memperlihatkan anggaran utk tahun 2012, besaran anggaran perkegiatan seperti penyuluhan nafza dll. Tiap tahun diusulkan tapi tdk ada….” (MLT, 55 tahun).
Ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana Penyuluhan :
“….tahun 2008 dapat motor dinas untuk promkes… ….rata2 menyuluh ditempatnya orang adaji wireless….tidak ada laptop… menyuluh pake media bicara… kadang pake LCD kalo lagi ada…media poster atau lembar balik…. …. baru saya bikin ruang khusus promkes….tapi jauh dari cukup….saya gabung dengan perkesmas… itupun saya bikin sendiri….” (MNR, 40 tahun).
Kebijakan
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan bahwa pengetahuan petugas penyuluh kesehatan masyarakat yang meliputi Kebijakan kesehatan yang terintegrasi dengan visi misi promosi kesehatan, seperti ungkapan informan berikut ini :
“……….kebijakan pemerintah kabupaten Maros tentang Penyuluh Kesehatan masyarakat kesehatan khususnya dalam penanggulangan narkoba akan berkomitmen agar dilibatkan bersama seluruh elemen termasuk sekolah,tokoh agama, dan semua unsur terkait……” (AHM, 61 tahun).
Kebijakan tentang Peningkatan SDM penyuluh kesehatan masyarakat yaitu :
“….dokter/kepala puskesmas mengambil kebijakan menunjuk siapa tenaga yang mampu… …dalam lokakarya mini kepala puskesmas kadang menanyakan tentang cakupan… kenapa bisa rendah………..dia analisa… tidak bisakah mencapai standar…” (YLT, 41 tahun).
Sinergi antara analisis jabatan dan kebutuhan program :
“….e…kalo..Pengangkatan petugas penyuluh diangkat oleh kepegawaian…. saya tidak tahu persis….” (MLT, 55 tahun).


PEMBAHASAN

Menurut Gordon (1994) “ keterampilan merupakan kemampuan untuk mengoperasikan pekerjaan secara mudah dan cermat. Pengertian ini biasanya cenderung kepada aktivitas psikomotor “. Selain itu pengertian menurut Nadler (1986) “skill merupakan kegiatan yang memerlukan praktek atau dapat diartikan sebagai implikasi dari aktivitas “. Dunnette (1976) mendefinisikan “ skill sebagai kapasitas yang dibutuhkan untuk melaksanakan beberapa tugas yang merupakan pengembangan dari hasil training dan pengalaman yang didapat menambahkan bahwa selain training yag diperlukan untuk mengembangkan kemampuan, keterampilan juga membutuhkan kemampuan dasar (basic ability) untuk melakukan pekerjaan secara mudah dan tepat. Pada penelitian ini diketahui juga bahwa sarana media cetak yang dibuat dan didistribusikan untuk mendukung program Promosi Kesehatan sangat terbatas. Metode yang dipakai untuk program promosi kesehatan berupa penyuluhan, ceramah,. Jumlah dan jenis sarana penunjang promosi kesehatan masih sebatas media cetak, belum mencukupi untuk seluruh puskesmas.
Di samping itu untuk menyampaikan informasi tentang program promosi kesehatan ini perlu juga dilakukan secara multi media dengan memanfaatkan teknologi informasi seperti televisi, radio, untuk dialog interaktif atau sandiwara. Disamping itu agar pelaksanaan promosi kesehatan dapat berjalan dengan baik maka harus didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana sesuai dengan jumlah puskesmas dan posyandu yang ada di kabupaten Maros. Dan juga disediakan sarana pendukung lainnya seperti alat peraga, karena dengan mencontohkan langsung kepada masyarakat akan lebih memudahkan masyarakat untuk memahami apa yang disampaikan.
Pentingnya memahami apa yang disebut sebagai professional philosophies sebagai faktor yang berpengaruh terhadap goal yang dirumuskan. Professional philosophies adalah tahapan perubahan dalam individu dan masyarakat sebagai dasar merumuskan tujuan program, terdiri dari cognitive based, decision making, behavior change, freeing and functioning dan social change.
Kemampuan (ability) menurut Caplin (1997) ‘ability (kemampuan, kecakapan, ketangkasan, bakat, kesanggupan) merupakan tenaga (Daya Kekuatan) untuk melakukan suatu perbuatan .’ Kemampuan bisa merupakan kesanggupan bawaan sejak lahir, atau merupakan hasil latihan atau praktek (Robbins, 2000).Rata-rata masa kerja sebagai tenaga penyuluh terbilang cukup untuk melaksanakan tugas sebagai agen perubah, hal ini dapat di lihat dari lamanya mereka melaksanakan tugas tersebut bahkan ada yang sudah belasan tahun. Namun yang sangat di sayangkan bahwa kemampuan mereka belum memenuhi standar, salah satu faktor adalah kurangnya pelatihan-pelatihan tentang Promosi kesehatan baik yang berskala lokal maupun nasional, bahkan kadang pelatihan yang mereka ikuti adalah pelatihan yang tidak relevan dengan tugas-tugas pokoknya sebagai penyuluh kesehatan masyarakat.
Menurut Keith Davis dalam Mangkunegara (2000) secara psikologis , kemampuan (ability) terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge+skill), artinya karyawan yang memiliki IQ diatas rata-rata dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari akan lebih mudah mencapai kinerja maksimal. Menurut Spencer dalam Sutrisno (2009) menyatakan bahwa istilah kemampuan atau kompetensi adalah suatu yang mendasari karakteristik dari suatu individu yang dihubungkan dengan hasil yang diperoleh dalam suatu pekerjaan. karakteristik dasar kompetensi berarti kemampuan adalah sesuatu yang kronis dan dalam bagian dari kepribadian seseorang dan dapat diramalkan perilaku di dalam suatu tugas pekerjaan.
Dalam beberapa aspek petugas penyuluh kesehatan masyarakat tidak bersinergi dengan penanggung jawab program yang ada dipuskesmas secara lintas sektor, Sehingga kesannya suatu program jalan sendiri dan tidak saling melengkapi dengan program wajib yang ada. Permasalahan sumber daya manusia atau tenaga kesehataan di dinas kesehatan dan Puskesmas di Kabupaten Maros dalam melaksanakan promosi kesehatan adalah, dimana masih kurangnya tenaga yang terampil dalam penyuluh kesehatan masyarakat. Disamping itu petugas kesehatan yang ada juga melaksanakan tugas yang lain diluar tugas pokok dan fungsinya. Tenaga penyuluh kesehatan Masyarakat dipuskesmas dengan latar belakang pendidikan DIII/ S.1 Perawat/S.1 Administrasi dan belum pernah mengikuti pelatihan promosi kesehatan, seperti tentang penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, usaha kesehatan bersumber masyarakat, poskesdes, posyandu, desa siaga serta pemberdayaan sehingga belum semuanya mengerti tentang program promosi kesehatan dalam penerapannya kepada masyarakat.



Pada penelitian ini diketahui juga bahwa sarana media cetak yang dibuat dan didistribusikan untuk mendukung program Promosi Kesehatan sangat terbatas. Metode yang dipakai untuk program promosi kesehatan berupa penyuluhan, ceramah,. Jumlah dan jenis sarana penunjang promosi kesehatan masih sebatas media cetak, belum mencukupi untuk seluruh puskesmas. Disamping itu untuk menyampaikan informasi tentang program promosi kesehatan ini perlu juga dilakukan secara multi media dengan memanfaatkan teknologi informasi seperti televisi, radio, untuk dialog interaktif atau sandiwara. Disamping itu agar pelaksanaan promosi kesehatan dapat berjalan dengan baik maka harus didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana sesuai dengan jumlah puskesmas dan posyandu yang ada di kabupaten Maros.
Permasalahan yang ada di kabupaten Maros adalah masih sering berubah-ubahnya Undang undang kelembagaan daerah, yang menimbulkan ketidak pastian dan berbagai masalah dilapangan, dengan alasan peraturan tidak atau belum disosialisasikan, Anggaran yang tidak disiplin sehingga pemanfaatannya tidak optimal, tidaknya adanya sistem kesehatan daerah, serta anggaran kesehatan yang tidak diberikan berdasarkan program tetapi diberikan secara umum sehingga tidak tepat sasaran.
Sebagian besar informan mendapat dana dari BOK (Biaya operasional Kesehatan) untuk melaksanakan tugas sehari-hari dengan jumlah yang sangat terbatas dan tidak bisa memenuhi semua kebutuhan program. Observasi yang dilakukan di beberapa puskesmas menunjukkan minimnya sarana dan prasarana penyuluhan, sebagian besar puskesmas melakukan penyuluhan dengan metode ceramah tanpa pengeras suara, Komputer / Laptop khusus untuk petugas rata-rata belum tersedia. Ruangan khusus untuk petugas penyuluh kesehatan masyarakat pada umumnya tidak representatif bahkan ikut pada program yang lain dan hanya sebagai pelengkap saja, anggaran biaya operasional kesehatan yang diberikan berdasarkan plan of action (POA) yang dibuat di dinas kesehatan bukan usulan dari hasil lokakarya mini puskesmas.
Kabupaten Maros belum memiliki kebijakan yang terfokus tentang promosi kesehatan, disamping itu buku pedoman yang ada berupa buku panduan dan petunjuk tentang PHBS, Desa siaga. Posyandu, belum tersosialisasikan secara keseluruhan kepada petugas puskesmas, buku petunjuk tersebut tersimpan saja pada petugas penyuluh kesehatan masyarakat, sehingga petugas belum memahami tentang langkah-langkah yang semestinya. Sedangkan untuk terlaksananya perubahan perilaku masyarakat di bidang kesehatan, pihak dinas kesehatan kabupaten Maros memerlukan dukungan kebijakan dari pememerintah daerah berkaitan dengan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan masyarakat kabupaten Maros sehari-hari seperti pemberian ASI eksklusif, penimbangan balita, memberantas jentik, tidak merokok dalam rumah dan lain-lain. Hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa dari laporan bulanan yang dimasukkan oleh informan rata-rata melaporkan tidak adanya kebijakan kesehatan yang terintegrasi / mendukung promosi kesehatan.


KESIMPULAN

Pengetahuan penyuluh kesehatan masyarakat yang mencakup pengetahuan tentang promosi kesehatan sudah memadai, pengetahuan tentang tugas pokok dan fungsi belum dijalankan sebagaimana mestinya, pengetahuan tentang media masih sangat kurang, serta cakupan program promosi kesehatan belum mencapai standar nasional. Pengalaman penyuluh kesehatan masyarakat meliputi masa kerja sebagai penyuluh kesehatan masyarakat sudah cukup, pelatihan yang pernah diikuti tidak relevan dengan tugas pokok dan fungsi, serta sinergitas dengan program lain belum berjalan baik. Keterampilan penyuluh kesehatan masyarakat tentang komunikasi massa sudah berjalan dengan baik, penguasaan media/teknologi informasi belum terstandarisasi, keterampilan komunikasi interperpersonal belum efektif. Anggaran penyuluh kesehatan masyarakat seperti, anggaran kesehatan ada tetapi tidak mencukupi, anggaran khusus penyuluh kesehatan masyarakat hanya bertumpu pada dana biaya operasional kesehatan (BOK) dengan jumlah dan jenis yang sangat terbatas, ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana belum representatif. Kebijakan tentang penyuluh kesehatan masyarakat yang mencakup, Kebijakan kesehatan yang terintegrasi dengan visi misi promkes masih wacana, kebijakan tentang sumber daya manusia penyuluh kesehatan masyarakat belum terlaksana dengan baik, analisis jabatan dan kebutuhan program belum berjalan secara sistematik, Tahapan pengangkatan jabatan fungsional penyuluh tidak melalui mekanisme.
UCAPAN TERIMA KASIH
Bagi seluruh keterlibatan sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dan menjadi bahan bacaan yang berguna, baik itu materil maupun dukungan spiritual, penulis menghaturkan ucapan terima kasih yang tak terhingga. Terutama kepada Penulis kedua dan ketiga, yang telah banyak membantu dalam membimbing dan emngarahakan penelitian agar sesuai dengan tujuan dan koridor ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Chaplin, J.P. (1997). Kamus Lengkap Psikologi .Penerjemah Kartinii Kartono.Cet 1.Jakarta : Raja Grafindo Persada. Departemen Pendidikan Nasional RI.
Departemen Kesehatan R. I.( 2005). Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Puskesmas. Jakarta
Dunnette, Marvin D. (1976). Handbook of industrial and organizational psychology . Chicago: Rand McNally College Pub. Co.
Farida, (2008). Kompetensi petugas promosi kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan puskesmas kota Pare-pare.
Gordon, J. (1994). Managing Multiculturalism in Substance Abuse Services. Sage publications, inc
Mangkunegara, Prabu, Anwar,( 2000). Manajemen Sumber Daya Perusahaan. PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Manulang, (1988). Manajemen Tenaga Kerja. Jakarta:Karya Dharma IIP,
Nadler, David.A, and Nadler, Mark B. (1998). Champion of Change: How CEOs and Their Companies Are Mastering the Skills of Radical Change.USA: Jossey-Bass Publishers, San Franncisco,
Naidoo, Wills.(2000). Health promotion foundation for practice, second edition. Toronto: Bailliere Tindall
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Promosi Kesehatan: Teori & Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.
Ranupandojo, heidjrachman ; husnan, suad . (1984). Manajemen personalia .Yogyakarta: BPFE.
Robbins. (2000). Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Prenhallindo.
Sutrisno E. S, Santosa S.( 2005). Pendidikan Kesehatan Bagian dari Promosi Kesehatan, Yogyakarta: Tramaya.