Sel. Mei 21st, 2019

HUBUNGAN STRES PADA IBU HAMIL DENGAN BERAT BADAN LAHIR PADA IBU HAMIL YANG TELAH DIINTERVENSI DAUN KELOR DI KABUPATEN JENEPONTO

HUBUNGAN STRES PADA IBU HAMIL DENGAN BERAT BADAN LAHIR PADA IBU HAMIL YANG TELAH DIINTERVENSI DAUN KELOR DI KABUPATEN JENEPONTO

 

THE RELATIONSHIP STRESS OF PREGNANCY WITH BIRTH WEIGHT IN PREGNANT WOMEN’S WHO INTERVENED MORINGA OLEIFERA IN JENEPONTO REGENCY

  

Suryanti S1,Veni Hadju2, Suriah3

 

1Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto

2 Bagian Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

3 Bagian Promosi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UniversitasHasanuddin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alamat Korespondensi:

 

Suryanti.S

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Hasanuddin

Makassar, 90154

Hp: 085242198586

Email: anthi.gizikita@gmail.com

 

 

 

ABSTRAK

Stress pada ibu hamil dapat memberikan dampak yang serius terhadap janin. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan stress selama kehamilan dengan berat badan lahir. Jenis penelitian adalah Obsevasional dengan rancangan Kohort Prosfektif, Sampel dalam penelitian ini merupakan sub sampel dari study intervensi daun kelor pada ibu hamil yang dilaksanakan di enam Kecamatan di Kabupaten Jeneponto sebesar 102, dengan masing masing kelompok kapsul tepung daun kelor (n=31) , kapsul ekstrak daun kelor (n=41) dan kapsul besi folat sebagai kelompok kontrol (n=24). Untuk mengukur tingkat stress selama kehamilan dilakukan metode wawancara menggunakan kuesioner DASS 21 (Depression, Anxiety and Stress Scale 21) dan pengukuran berat badan lahir bayi menggunakan baby scale dengan ketelitian 0,1 kg. Hasil penelitian menunjukkan Pengukuran stres berdasarkan kelompok intervensi menunjukkan, umumnya stres sedang 32,3% pada kelompok tepung kelor, stres berat 32,1% pada kelompok besi folat dan intervensi ekstrak kelor umumnya normal 53,5%. Berdasarkan karakteristik maternal paritas < 2 tahun sebesar 16,8%, KEK 17,8% dan Anemia 28,7%.Terdapat hubungan yang bermakna antara stress kehamilan dengan berat lahir bayi pada ibu hamil yang telah diintervensi daun kelor (P< 0,05). Semakin tinggi stres pada ibu hamil semakin rendah berat badan lahir bayi. Setelah dikontrol dengan intervensi yang diterima, tidak terlihat hubungan stres dengan berat badan lahir pada kelompok yang diberikan tepung kelor, hal ini berarti bahwa tepung daun kelor dapat dijadikan sebagai sumber nutrisi tambahan untuk memenuhi kecukupan gizi bagi ibu hamil.

 

Kata kunci : Stres kehamilan, ibu hamil, berat badan lahir, daun kelor

ABSTRACT

Stress in pregnant women can have a serious to the fetus impact. The study aims to determine the relationship of stress pregnancy with birth weight who have intervention Moringa Oleifera.This research is observational by using prospective cohort study, The sampling is done by accidental sampling that is equal to 102 pregnant women which has been in intervention Moringa leaf powder capsules (n = 31), moringa extract capsules (n = 41) and iron folic capsules as a control group (n = 24) condusted six District in Jeneponto. Measurement of stress level during pregnancy was done by interview method using DASS 21 (Depression, Anxiety and Stress Scale 21) and measurement baby weight using baby scale accuracy with 0.1 kg .The results showed that generally moderate stress was 32.3% for moringt florid intervention, 32.1% heavy stress for folate iron intervention and kelor-extract intervention was generally normal 53.5%. Based on the maternal characteristics for <2 years parity of 16, 8%, KEK 17,8%, Anemia 28,7% and hypertension 13,9%. There was a significant correlation between pregnancy stress and infant birth weight in pregnant mothers who had intervention of kelor leaf (P <0,05). The results showed significant differences in normal, mild, moderate, and severe stress levels (P <0.05). The higher the stress in pregnant women the lower the baby’s birth weight. After controlling with the intervention received, there was no apparent stress-related relationship with birth weight in the flour-stained group, meaning that the moringa flour can be used as an additional source of nutrients to meet the nutritional adequacy of pregnant women.

Keywords: Stress of pregnancy, pregnant women, birth weight ,Moringa oleifera

 

 





PENDAHULUAN

Tingginya angka kematian bayi pada masa prenatal disebabkan oleh BBLR (Trihardiani, 2011). Diperkirakan sekitar 17 juta bayi lahir BBLR setiap tahun dan 16% di antaranya lahir di negara berkembang, dari jumlah tersebut sekitar 80% lahir di Asia (Amiruddin, 2014). Menurut World Health Organization (WHO) setap tahun terdapat 5 juta kematian bayi pada usia 28 hari pertama kehidupan yaitu sebesar 34 per 1000 kelahiran hidup dan 98% kematian tersebut terjadi di negara berkembang (Nursyaputri, 2015). Kelahiran dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sekitar 15%-20% dari kelahiran diseluruh dunia yang masih menjadi suatu masalah kesehatan global(World Health Organization, 2014).

Penyebab kematian bayi di Indonesia adalah asfiksia, selanjutnya BBLR dan infeksi(Kemenkes, 2013). Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa angka kematian bayi sebesar 3,80%. Penyebab utama kematian bayi adalah BBLR sebesar 30,95%, Asfiksia sebesar 32,83%, tetanus neonatorium sebesar 0,47%, infeksi sebesar 0,70% dan lain-lain sebesar 35,05%(Dinkes Sulsel, 2015). Sedangkan di Kabupaten Jeneponto menunjukkan angka kematian bayi sebesar 66 kasus, kematian bayi disebabkan karena asfiksia sebesar 32%, BBLR sebesar 29%, kelainan kongenital sebesar 14%, infeksi sebesar 10%, hipotermi 3%, diare 3% dan penyebab lain-lain sebesar 3% (Dinkes Jeneponto, 2015). Angka kelahiran bayi BBLR di Kabupaten Jeneponto pada tahun 2014 sebanyak 119 kasus, tahun 2015 sebanyak 178 kasus dan tahun 2016 sebesar 200 kasus . Hal ini menunjukkan bahwa kejadian BBLR di Kabupaten Jeneponto terjadi peningkatan setiap tahunnya.

Stres selama kehamilan merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya BBLR. Stres selama kehamilan sering terjadi namun dianggap tidak terlalu penting dalam masa kehamilan. Penelitian psikososial stres kehamilan pada ras Asia, Afrika dan ras kulit putih menunjukkan bahwa 6 % mengalami stres ringan, 78% mengalami stres berat dan 16 % tidak stres sama sekali. Stres masa kehamilan secara signifikan disebabkan oleh faktor kesulitan ekonomi, masalah rumah tangga, kekerasan fisik, masalah medis, aktifitas yang padat, pekerjaan dan riwayat kehamilan dengan komplikasi (Silvier et al, 2013).

Beberapa hasil penelitian telah memperlihatkan hubungan yang signifikan antara stres kehamilan dengan kejadian BBLR . Hasil penelitian saphiro et al., (2013) menyatakan bahwa Stres psikologis pada masa kehamilan merupakan faktor risiko meningkatnya kejadian lahir premature,hasil ini dibenarkan juga dengan Penelitian Tiffani et al., (2010) bahwa ibu hamil yang mengalami tekanan psikis selama kehamilan berisiko melahirkan BBLR di Amerika Serikat, Stres selama kehamilan berisiko1,262 kali terhadap kejadian BBLR (Mappanding, 2015) begitupun hasil penelitian Rasyid et al., 2012 memperlihatkan bahwa stres selama kehamilan berisiko1,667 kali melahirkan BBLR di Gorongtalo. Sedangkan penelitian Scetter et al., (2012) memperlihatkan bahwa kecemasan dan stres selama kehamilan berisiko terganggunya perkembangan saraf janin sehingga memiliki output yang kurang baik pada bayi. Penelitian Novianti (2015) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kecemasan maternal dengan kejadian BBLR, berat badan lahir merupakan indikator penting dalam memproyeksikan masa depan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi baru lahir (Sebayang et al., 2012).

Kondisi stress dapat menyebabkan defisiensi zat gizi dalam tubuh (Vanschoiack et al., 2014). Kondisi ini akan menimbulkan stres oksidatif, yaitu keadaan dimana jumlah radikal bebas didalam tubuh meningkat sehingga sulit untuk menetralisirnya. Radikal bebas yang menumpuk berdampak terjadinya stres, stres ini dapat dicegah dan dikurangi dengan asupan antioksidan yang cukup dan optimal kedalam tubuh (Winarto, 2010). Daun kelor merupakan tanaman yang kaya akan zat gizi (Zakariah,2015) dan tinggi antioksidan sehingga dapat menjadi alternative untuk menurunkan tingkat stres pada ibu hamil (Toripah et al.,2014).

Penelitian intervensi pada ibu hamil dengan menggunakan ekstrak dan tepung daun kelor sedang dilaksanakan di Kabupaten Jeneponto. Penelitian ini ingin mengetahui dampak intervensi terhadap kejadian anemia dan kejadian BBLR. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi berat badan lahir bayi adalah stress selama kehamilan sehingga studi ini ingin melihat hubungan stres dengan berat badan lahir bayi pada kelompok yang telah diintervensi pemberian daun kelor.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di enam kecamatan (Kecamatan Bangkala, Bontoramba, Tamalatea, Binamu, Kelara dan Tarowang) di Kabupaten Jeneponto. Kabupaten Jeneponto adalah Kabupaten yang berjauhan dari kota Makassar (Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan). Enam kecamatan ini dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan, karena tingginya kejadian BBLR, tingginya angka kematian bayi, dan merupakan pusksesmas fokus perbaikan gizi dengan program 1000 HPK diwilayah kerja Dinas kesehatan kaupaten Jeneponto.

Desain dan Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu penelitian observasional dengan pendekatan kohort prospektif study yaitu wawancara langsung pada subjek penelitian yang sebelumnya diberikan tepung dan ekstrak daun kelor dan diikuti sampai melahirkan untuk melihat berat badan lahir bayi. Penelitian mulai bulan maret 2017 sampai bulan juli 2017.

Subjek Penelitian

Sampel dalam penelitian ini merupakan bagian dari populasi studi intervensi pemberian daun kelor pada ibu hamil di Kabupaten Jeneponto. Sebanyak 102 ibu hamil yang terbagi dalam tiga kelompok dimana kelompok pertama menerima tepung daun kelor (TK n=31), kelompok kedua menerima ekstrak daun kelor (EK n=43) dan kelompok ketiga menerima besi folat (BF n=28). Intervensi diberikan selama 3 bulan, dimulai pada umur kehamilan trimester kedua kemudian dilakukan pengukuran pengukuran stres setelah dilakukan pemberian intervensi.

Metode pengumpulan data

Data yang dikumpulkan adalah data karakteristik responden dengan metode wawancara langsung pada responden dengan menggunakan kuesioner rumah tangga sedangkan untuk menilai tingkat stres ibu hamil menggunakan Depression Anxiety Stress Scale 21 (DASS 21) yang merupakan alat ukur tingkat depresi, kecemasan, dan stres seseorang yang dikembangkan oleh Lovibong (1995) berupa kuesioner berisi 21 pertanyaan yang harus dijawab oleh subjek penelitian dan masing-masing terdiri dari 14 item pertanyaan (Depresi, Kecemasan, Stress). DASS 21 merupakan alat ukur yang bisa digunakan untuk semua budaya, umur, dan subjek sehat maupun sakit. Sehingga bisa dikatakan ideal untuk keperluan klinis dan penelitian (Norton, 2007), Kemudian dilakukan pengukuran berat badan lahir dengan menggunakan baby scale dengan ketelitian 0,1 kg.

Analisis Data

Hasil penelitian akan diolah dan diuji secara statistik dengan menggunakan program SPSS 21. Skala data dalam penelitian ini adalah rasio karena data berat badan diukur dengan satuan gram. Untuk melihat hubungan antara variabel Independen dan variabel dependen digunakan Uji Pearson, Selanjutnya untuk melihat perbedaan rata-rata berat badan lahir berdasarkan tingkat stress pada kelompok intervensi digunakan uji Anova test, jika hasil uji signifikan (nilai P<0,05) maka dilakukan analisis lanjut pada Post Hoc Test dengan Uji LSD (Least Significant Defference) untuk mengetahui pasangan mana yang berbeda.





HASIL PENELITIAN

Tabel 1 memperlihatkan bahwa subjek penelitian umumnya berusia 20-35 tahun ( 76,2 %), pendidikan diatas SMP (56,1%) dengan pendapatan rendah (70,3%). Tabel 2 memperlihatkan subjek penelitian umumnya dengan paritas < 2 (83,3%), status tidak KEK (17,8%), tidakmengalami anemia (71,6%) dan tidak hipertensi (86,3). Tabel 3 memperlihatkan umumnya subjek penelitian memiliki tingkat stres ringan (52,4%), intervensi ekstrak daun kelor (42,6%) dengan berat badan lahir normal (93,1%).

Analisis Bivariat

Hasil analisis bivariat pada tabel 4 memperlihatkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara stress kehamilan dengan berat lahir bayi pada ibu hamil yang telah diintervensi daun kelor hal ini dibuktikan dengan nilai P=0,002 < 0,05. Pada tabel 5 memperlihatkan bahwa dari ketiga kelompok intervensi yang memiliki hubungan yang bermakna adalah kelompok intervensi pemberian ekstrak daun kelor dengan nilai P=0,011 <0,05 dan kelompok intervensi pemberian besi folat P= 0,008 sedangkan pada kelompok intervensi pemberian tepung daun kelor tidak memperlihatkan adanya hubungan yang bermakna (P>0,05) . Pada tabel 6 menunjukkan hasil analisis perbedaan berat lahir bayi berdasarkan tingkat stress pada ibu hamil yang diintervensi dan kelor. Dilihat dari tabel ANOVA nilai P Value 0,008<0,05, artinya ada perbedaan yang bermakna rata-rata berat badan lahir pada ibu hamil yang stress berat, stress sedang, stress ringan dan ibu hamil yang tidak mengalami stres





PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian memperlihatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara stres kehamilan dengan berat badan lahir pada ibu hamil yang telah diintervensi pemberian daun kelor di Kabupaten Jeneponto dengan nilai P Value = 0,002<0,05. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian (Torche, 2011) bahwa ada hubungan antara kecemasan dan stres kronik yang dialami ibu selama hamil dengan kelahiran premature dan berat lahir rendah, penelitian lain yang dilakukan oleh Su et al. (2015) dan Alonge (2012) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara stres pada masa kehamilan dengan berat badan lahir yang rendah, hal ini sama penelitian Nasreen et al., (2012) di Bangladesh menujukkan bahwa stress dan depresi pada ibu selama kehamilan dapat menyebabkan berat lahir rendah. Sedangkan Brunton et al., (2013) mengatakan bahwa stres kehamilan memberikan dampak yang cukup besar terhadap janin dan risiko terjadinya bayi lahir rendah. Stres selama kehamilan berkontribusi 3,1 kali terjadi kelahiran premature dan berat badan lahir rendah (Woods, et al., 2010) hasil tersebut dikuatkan oleh Wisborg, et al.,(2008) dalam penelitiannya bahwa ibu hamil yang mengalami stress berat sebesar 80% dan berisiko 1,8 kali melahirkan bayi mati dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mengalami stress,hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan konsentrasi noradrenalin dalam plasma, sehingga aliran darah ke uterus menurun yang menimbulkan efek vasokonstriksi yang dapat menghambat prosespertumbuhan dan perkembangan janin sehingga terjadi BBLR (Teixeira, 199., dalam Barus, 2015).

Stres ini dapat memicu meningkatnya sekresi Corticotrophin Releasing Hormon (CRH) yang diketahui berinteraksi dengan hormone oksitosin dan prostaglandin. Hormon ini dapat memediasi kontraksi uterus dan dapat menyebabkan persalinan preterm dan mempengaruhi berat lahir.K ondisi stress pada ibu hamil dapat memberikan dampak yang buruk terhadap janinnya. Jika melihat nilai korelasi hasil analisis pada hubungan stress kehamilan dengan berat badan lahir terdapat minus -0,299 (Hubungan tidak searah) maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi stress pada ibu hamil maka semakin rendah berat lahir pada anak yang dilahirkan.

Hal ini dapat dikatakan bahwa stres selama kehamilan sangat memberikan pengaruh terhadap berat lahir bayi karena gangguan psikologis seperti stres dapat menyebabkan perubahan fungsional dan marfologis dalam hippocampus. Gangguan psikologis ibu hamil dapat terjadi pada periode tertentu masa kahamilan dan berpengaruh besar terutama pada janin, jika terjadi pada trimester I dan III hal ini disebabkan karena pada periode ini janin tumbuh sangat pesat (Barus, 2016). Namun, jika terjadi gangguan psikologis mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan janin (Yuliva et al.,2009).

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara stres kehamilan dengan berat badan lahir bayi pada ibu hamil yang telah diintervensi daun kelor, hal ini berarti bahwa semakin tinggi stres selama kehamilan maka semakin rendah berat badan lahir bayi yang dilahirkan.

Dukungan keluarga sangat diperlukan untuk menentukan status kesehatan ibu hamil. Jika semua keluarga mendukung dan mengharapkan kehamilan, maka ibu hamil akan merasa lebih percaya diri, lebih bahagia, dan siap dalam menajalani kehamilan dan persalinan maupun masa nifas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin. (2014). ‘Determinan kesehatan ibu dan anak’: Trans info Media Jakarta. EGC

Brunton, J.P. et al.,(2013).‘Effects of maternal exposure to social stress during pregnancy’:consequences for mother and offspring: Journal Society for Reproduction and Fertility: Online version via www.reproduction-online.org (akses tanggal 3 desember 2016)

Barus, E. (2016). ‘Pengaruh Aktifitas Fisik dan Kecemasan Terhadap Berat Badan Lahir Bayi ada Ibu Hamil Trimester III’. Tesis Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Dinkes Sulsel. (2015). ‘Data Profil 2016 Sulawesi Selatan : Dinas    Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Dinkes Jeneponto. (2015).‘Data Profil 2015 Kabupaten Jeneponto’ : Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto

Mappanding, A.(2015). ‘Faktor Resiko kejadian BBLR di RSUD Lakipadada di kabupaten Toraja’ : Tesis Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar

Norton, P. J. (2007).‘Depression Anxiety and Stress Scales (DASS-21): Psychometric analysis across four racial groups’, Anxiety, Stress & Coping, 20(3), pp. 253–265. doi: 10.1080/10615800701309279.

Novianti. (2015).‘Korelasi Tingkat Kecemasan maternal dan Kejadian BBLR’       : Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia Vol. 11. No.           2 September 2015.

Nursaputri.(2015).‘Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan         Kejadian BBLR pada Wanita Hipertiroid Kehamilan Di        Kabupaten Magelang Tahun 2014’: Public Health Department   SportScience   Faculty. Semarang State University.

Rasyid, P. S. dkk.,(2012). ‘Faktor-faktor Risiko Kejadian Berat Lahir rendah di RSUD Prof. DR. H. Aloei Saboe Kota Gorongtalo Provinsi Gorongtalo Tahun 2012’.

Trihardiani, I. (2011). ‘Faktor Resiko Kejadian BBLR di Wilayah kerja Puskesmas singkawang Timur dan Utara Kota Singkawang’. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semarang

Vanschoiack, L. R. et al,. (2014).‘Pregnancy-Specific Stress, Preterm Birth, and Gestasional Age Among High-Risk Young Women :NIH Public Access’, 28(5), pp. 1286–1292. doi: 10.1158/0008-5472.CAN-11-3277.

Saphiro, et al., (2013).‘Psychosocial stress in pregnancy and preterm          birth: associations and mechanisms’ J Perinat Med. 2013     November       ; 41(6): 631–645. doi:10.1515/jpm-2012-0295.

Schetter et al., (2012). ‘Anxiety, depression and stress in pregnancy: implications for mothers, children, research, and practice’.Pudmed,141-148.

Sebayang, et al., (2012). ‘Determinants of Low Birth Weight, Small-for-Gestational-Age and Pre-term Birth in Lombok, Indonesia’: Analyses of the Birth Weight Cohort of the SUMMIT Trial. Trop. Med. Int. Health, 17(8):938–950.

Silveir, et al.,(2013).‘Correlates of High Perceived Stress Among regnant Hispanic.Women in Western Massachusetts. Matern Child Health J. Springer Science. 17:1138–1150. DOI 10.1007/s10995-012-1106-8.

Tiffany, et al., (2010).‘Prenatal Depression Effects and Interventions’: A Review. NIH Public Access Journal Infant Behav Dev. 33(4): 409-   418.

Torche, F. (2011).‘The Effect of Maternal Stress on Birth Outcomes: Exploiting a Natural Experiment’, Demography, 48(4), pp. 1473–1491. doi: 10.1007/s13524-011-0054-z.

Toripah, et al., (2014). ‘Aktfitas antioksidan dan kandungan total fenolik ekstrak daun kelor (Moringa Oleifera Lam) ’. Jurnal Ilmiah Farmasi-Unsrat Vol.3 No.4 November 2014 ISSN 2302-2493

Woods, S.M. et al.,(2010). ‘Psychosocial Stress During Pregnancy’. Am J Obstet Gynecol.202:61.e1-7.

World Health Organization. (2011). ‘Optimal feeding of low birth weight infants in low and        middle income countries’. Geneva: WHO: 16-45.

World Health Organization.(2014). ‘Global Nutrition Targets 2025: Low Birth Weight Policy Brief ‘. Geneva: World Health Organization

Winarto, D. (2010). ‘Pemanfaatan Vitamin C dan E Sebagai Antioksidan Untuk Memperbaiki Kuantitas dan Kualitas Spermatozoa’.

Wisborg, et al., (2008). ‘Psychological stress during pregnancy and stillbirth’ Published in final edited form as: Am J Obstet Gynecol.2008 Maret

Yuliva, et al., (2009). ‘The Relationship Of Job Status Of Mother With Infant’s Birth Weight’. Berita Kedokteran Masyarakat Vol.25 No.2, 96-108.

Zakariah. dkk.,(2015). ‘Pengaruh Pemberian ekstrak daun kelor (Moringa Oleifera) ada ibu menyusui terhadap kuantitas dan kualitas Asi serta Pertumbuhan bayi 0-6 bulan’. Disertasi/PhD Theses from / 2015-09-16 15:01:57. Universitas Hasanuddin

 

 

LAMPIRAN

Tabel 1. Distribusi Resonden menurut Umur ibu, Pendidikan Ibu, Pekerjaan Ibu, Lokasi Penelitian dan Pendapatan Keluarga

 

Karakteristik n %
Umur

<20 tahun

20 – 35 Tahun

> 35 Tahun

Pendidikan

Tidak Tamat SD/MI

SD/MI

SMP/MTs/Sederajat

SMA/MA/Sederajat

Universitas

Pekerjaan

 

12

78

12

 

11.9

76.2

11.9

18

27

26

24

7

17.9

26.7

25.7

22.8

6.9

Ibu Rumah Tangga

Petani

Pedagang

Pendapatan

Tinggi

Rendah

60

32

9

59.4

30,7

9

 

30

72

 

29.7

70.3

Total 102

Sumber: Data Primer, 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2. Distribusi Karakteristik Maternal Responden

 

Karakteristik n %
Paritas
> 2

< 2

Status Gizi

17

85

16.8

83.3

KEK

Tidak KEK

Status Anemia

Anemia

Tidak anemia

18

84

 

29

73

17.8

82,4

 

28,7

71,6

Sumber : Data Primer 2017

 

 

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Tingkat stress kehamilan, Jenis Intervensi dan berat badan lahir bayi

 

Variabel n %
Tingkat Stres

Normal

Ringan

Sedang

Berat

 

37

16

25

24

 

36,6

15,8

24,5

23,8

Jenis Intervensi

Tepung Daun   Kelor

Besi Folat

Ekstrak Daun Kelor

Berat Badan Lahir

Rendah

Normal

Lebih

n

31

28

43

n

3

95

4

%

30.4

27.7

42.6

%

3

93,1

4

 

Sumber :Data Primer 2017

 

 

 

Tabel 4. Hubungan Stres Kehamilan Dengan Berat Badan Lahir

 

 

Tingkat Stres

 
n Mean±SD p

Value

Normal

Ringan

37

16

3342,84±293,344

3290,63±395,904

0.002
Sedang 25 3204,13±413,384
Berat

 

24

 

2991,25±485,362

 

Total 101 3218,06±408,622  

Sumber : Data Primer 2017

 

Analisis Post Hoc : normal vs stres ringan P=0,661; normal vs sedang P=0,330; normal vs stres berat P=0,021; stres ringan vs stres sedang P=0,668 dan stres sedang dan berat P=0,033.

 

 

Tabel 5. Hubungan Stres Kehamilan Berdasarkan Kelompok Intervensi Dengan Berat badan Lahir bayi

 

Tingkat Stres Berdasarkan Kelompok Intervensi n Mean±SD   P Value
Tepung Daun Kelor  

Ringan

 

13

 

3258.69±308.117

0.921
Berat 18 3275.56±589.858
 
Besi Folat   0.008
Ringan 13 3391.15±336.985
Berat

 

15 3014.00±356.086

 

Ekstrak Daun Kelor  

Ringan

 

27

 

3329.63±331.738

0,011
Berat 16 3032.44±389.356
 

Sumber : Data Primer 2017

 

 


close



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});