Sel. Mei 21st, 2019

HUBUNGAN ANTARA KONDISI FISIK RUMAH DAN KEJADIAN/KESEMBUHAN TB PARU BTA POSITIF DI KABUPATEN JENEPONTO

HUBUNGAN ANTARA KONDISI FISIK RUMAH DAN KEJADIAN/KESEMBUHAN TB PARU BTA POSITIF DI KABUPATEN JENEPONTO

RELATIONSHIP BETWEEN HOUSE PHYSICAL CONDITIONS AND EVENTS / HEALING OF POSITIVE PULMONARY TB IN JENEPONTO DISTRICT

Nurhayani1*, Anwar Mallongi2, A. Arsunan Arsin2
1 Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar Indonesia
2 Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar Indonesia

 

 

Alamat Korespondensi:

Nurhayani
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Hasanuddin
Makassar, 90245
HP:
Email: nurhayaniishaq76@gmail.com

Abstrak

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia. Sampai sekarang ini belum ada satu negara pun di dunia yang bebas dari tuberkulosis (TB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang signifikan terhadap kejadian/kesembuhan TB di Kabupaten Jeneponto. Jenis penelitian ini adalah observasional menggunakan rancangan case control. Sampel yang digunakan sebanyak 136 responden yang terdiri atas 68 penderita TB paru dan 68 sembuh TB paru. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Data kasus TB paru dianalisis menggunakan analisis multivariat regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor kondisi fisik rumah yang signifikan terhadap kejadian/kesembuhan TB paru BTA positif diKabupaten Jeneponto adalah suhu, pencahayaan dan kepadatan hunian. Selain itu, tidak ada hubungan yang signifikan antara ventilasi rumah, kelembaban rumah, keberadaan jendela, kondisi atap dan dinding rumah dengan kejadian/kesembuhan TB paru di Kabupaten Jeneponto. Disarankan bagi Petugas Kesehatan Puskesmas Kabupaten Jeneponto, perlu meningkatkan upaya penyuluhan terkait dengan pentingnya menjaga kondisi sanitasi rumah. Bagi masyarakat, diharapkan selalu menjaga kondisi sanitasi rumah dan melakukan penambahan ventilasi berupa lubang angin. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian dengan jumlah populasi dan sampel yang lebih besar dengan variabel lain yang dapat mempengaruhi kejadian/kesembuhan TB paru.

Kata kunci : TB Paru, Regresi Logistik, Kondisi fisik rumah

Abstract

Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is still a concern of the world. Until now there is not a single country in the world that is free of tuberculosis (TB). This study aims to determine the factors that are significant to the incidence / cure of TB in Jeneponto District. This type of research is observational using a case control design. The sample used was 136 respondents consisting of 68 pulmonary TB patients and 68 non pulmonary TB sufferers. Sampling using purposive sampling. Data is collected through observation and interviews. Pulmonary TB case data were analyzed using multivariate logistic regression analysis. The results showed that the factors of the physical condition of the house that were significant to the incidence / cure of smear positive pulmonary TB in Jeneponto Regency were temperature, lighting and occupancy density. In addition, there was no significant relationship between house ventilation, house humidity, window presence, roof and wall condition of the house with the incidence / cure of pulmonary TB in Jeneponto District. It is recommended for Jeneponto District Health Center Health Officers, it is necessary to improve counseling efforts related to the importance of maintaining home sanitation conditions. For Respondents / community: it is expected to always maintain the sanitation conditions of the house and increase ventilation in the form of vents. For further researchers it is recommended to conduct research with a larger population and sample with other variables that can affect the incidence / cure of pulmonary TB.

Keywords: Pulmonary Tuberculosis, Logistic Regression, House Condition




PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Penyakit ini bila tidak diobati atau pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga kematian. TB diperkirakan sudah ada sejak 5000 tahun sebelum Masehi, namun kemajuan dalam penemuan dan pengendalian penyakit TB baru terjadi dalam dua abad terakhir (Kemenkes, 2016).
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia. Sampai sekarang ini belum ada satu negara pun di dunia yang bebas dari tuberkulosis (TB). Jumlah Angka kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis cukup tinggi. Berdasarkan Laporan Global Tuberculosis WHO 2017, menyatakan bahwa Tuberkulosis adalah penyebab kematian kesembilan diseluruh dunia dan penyebab utama dari satu agen infeksius, berada di atas HIV/AIDS. Pada tahun 2016, diperkirakan ada sekitar 1,3 juta kematian di antara orang HIV-negatif (turun dari 1,7 juta pada tahun 2000) dan tambahan 374.000 kematian diantara orang HIV-positif. Diperkirakan 10,4 juta orang jatuh sakit dengan TB pada tahun 2016, 90% adalah orang dewasa, 65% adalah laki-laki, 10% adalah orang yang hidup dengan HIV (74% di Afrika) dan 56% berada di lima negara : India, Indonesia, China, Filipina dan Pakistan.
Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus baru terbanyak kedua di dunia setelah India. Pada tahun 2016 ditemukan jumlah kasus tuberkulosis sebanyak 351.893 kasus, meningkat bila dibandingkan semua kasus tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2015 sebesar 330.729 kasus (Kemenkes, 2016). Sedangkan Provinsi Sulawesi Selatan, prevalensi (seluruh kasus) penyakit TB per 100.000 penduduk selama 3 tahun terakhir yaitu tahun 2016 diperoleh 154/100.000 penduduk meningkat dari tahun 2015 yaitu 148,18/100.000 penduduk dan tahun 2014 yaitu 133/100.000 penduduk (Profil Kesehatan Prov. Sulsel, 2017).
Kabupaten Jeneponto, jumlah seluruh kasus TB 3 tahun terakhir berturut-turut mengalami peningkatan pada tahun 2015 jumlah seluruh kasus TB sebanyak 388 kasus atau 109,08 per 100.000 penduduk tahun 2016, jumlah seluruh kasus TB sebesar 433 kasus (121,01 per 100.000 penduduk) sedangkan tahun 2017 jumlah seluruh kasus TB sebanyak 462 kasus atau 128,96 per 100.000. Sedangkan jumlah kasus baru TB BTA+ 3 tahun terakhir, berfluktuatif, pada tahun 2015 sebesar 357 kasus (100,39 per 100.000 penduduk), tahun 2016 menurun sebesar 273 kasus (76,29 per 100.000) dan tahun 2017 meningkat menjadi 331 kasus (92,39 per 100.000 penduduk). (Dinkes 2017 Kab. Jeneponto).
Menurut Blum (1978) status kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Penyakit yang timbul karena faktor lingkungan salah satunya adalah penyakit tuberkulosis (TB). Penyakit tuberkulosis (TB) paru ini dapat menyerang semua usia dengan kondisi klinis yang berbeda-beda atau tanpa dengan gejala sama sekali hingga manifestasi berat. Menurut achmadi (2005), faktor risiko lingkungan yang berperan terhadap timbulnya kejadian tuberkulosis paru adalah kepadatan hunian, jenis lantai, luas lubang ventilasi alamiah, pencahayaan, kelembaban, suhu, jenis dinding dan jenis atap.
Penelitian yang dilakukan oleh Kenedyanti (2017), Kondisi fisik rumah yang tidak memenuhi syarat memiliki risiko untuk terjadinya TB paru 3 kali lebih besar dibandingkan dengan kondisi fisik rumah yang memenuhi syarat. Penilaian kondisi fisik rumah secara keseluruhan dinilai dari beberapa komponen rumah yaitu ventilasi, suhu, kelembaban, kepadatan hunian, pencahayaan, lantai dan dinding. Komponen rumah lainnya yang berpengaruh terhadap kejadian TB adalah keberadaan jendela kamar tidur, menurut penelitian Susanti (2016), keberadaan jendela kamar tidur mempunyai risiko menderita tuberkulosis paru 4 kali dibandingkan dengan rumah yang tidak mempunyai jendela kamar tidur. Olehnya itu salah satu upaya pengendalian faktor risiko TB adalah pengendalian faktor lingkungan, yakni mengupayakan lingkungan sehat dan melakukan pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai persyaratan baku rumah sehat (Kemenkes 2016). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor kondisi fisik rumah yang signifikan terhadap kejadian/kesembuhan TB paru BTA Positif di Kabupaten Jeneponto

BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Rancangan Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret–Juni 2018 di Kabupaten Jeneponto. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain case control.
Populasi dan Sampel
Populasi adalah semua penderita TB dalam kartu status melaksanakan pengobatan minimal 6 bulan karena masa enam bulan adalah masa diharapkan penderita sembuh, yang tercatat di kartu medical record Puskesmas Kab. Jeneponto. Sampel sebanyak 136 responden, terdiri dari 68 sampel kasus 68 sampel control. Sampel dalam penelitian ini adalah kasus control berdasarkan catatan medical record Puskesmas Kab. Jeneponto, dengan kriteria kasus: semua penderita TB Paru yang telah berobat minimal 6 bulan, dimana hasil pengobatannya belum dikatakan sembuh oleh petugas kesehatan karena tidak ada hasil pemeriksaan dahak terakhir, sedangkan kriteria kontrol: semua penderita TB paru yang telah berobat minimal 6 bulan dimana hasil pengobatannya dinyatakan telah sembuh oleh petugas kesehatan karena hasil pemeriksaan dahak terakhir negatif.
Metode Pengumpulan Data
Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan catatan kartu medical record pasien TB di Puskesmas Kab. Jeneponto. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas kesehatan Kabupaten Jeneponto, BPS, dan data primer melalui pengukuran dan observasi langsung ke rumah penderita TB Paru, baik yang masih dalam proses pengobatan (belum sembuh) maupun yang telah dinyatakan sembuh oleh petugas kesehatan yang menjadi sampel penelitian.
Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis multivariate menggunakan regresi logistik berganda untuk mengetahui indikator mana yang berpengaruh signifikan terhadap kesembuhan/kejadian TB.


HASIL

Karakteristik Sampel
Tabel 1 memperlihatkan sampel kasus dan kontrol, didominasi jenis kelamin laki-laki yakni sebesar 55.88% sedangkan jenis kelamin perempuan sebesar 44.12%. Tabel 2 memperlihatkan pemeriksaan pertama sebagai penderita TB Paru didominasi oleh dokter Puskesmas, pada sampel kasus sebesar 57.35% dan sisanya sebesar 42.65% oleh dokter rumah sakit, sedangkan pada sampel kontrol 82.35%, pemeriksaan pertama sebagai penderita TB Paru dilakukan oleh dokter Puskesmas dan sisanya oleh dokter rumah sakit sebesar 17.65%.
Analisis Multivariate
Tabel 3 menunjukkan bahwa kemampuan inidkator dalam kejadian/kesembuhan TB Paru adalah sebesar 93.4%, sedangkan sisanya sebesar 6.6% dijelaskan oleh faktor luar lainnya seperti status gizi atau faktor ekonomi. Tabel 4 menunjukkan bahwa tidak semua indikator memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian/kesembuhan TB Paru. Indikator yang berpengaruh signifikan diantaranya adalah variabel suhu, pencahayaan, kepadatan hunian, Besarnya pengaruh ditunjukkan dengan nilai Odds Ratio (OR) pada tabel.


PEMBAHASAN

Penelitian ini menemukan bahwa faktor-faktor kondisi fisik rumah yang mempengaruhi kejadian/kesembuhan TB Paru BTA positif di Kabupaten Jeneponto adalah : Suhu, pencahayaan dan kepadatan hunian. Suhu rumah dalam penelitian ini dikelompokkan atas dua kategori yaitu memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 829/Menkes/SK/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, bahwa suhu yang memenuhi syarat adalah berkisar 18 – 30OC, sedangkan suhu yang tidak memenuhi syarat adalah dibawah 18OC atau diatas 30OC.
Hasil analisis hubungan antara suhu rumah dengan kejadian/kesembuhan TB Paru di Kabupaten Jeneponto diperoleh odds ratio (OR) sebesar 6,235 hal ini berarti responden dengan suhu yang memenuhi syarat akan meningkatkan kesembuhan TB sebesar 6,235 kali dibanding responden dengan suhu rumah yang tidak memenuhi syarat, dengan kata lain responden yang memiliki suhu rumah yang tidak memenuhi syarat akan meningkatkan kejadian TB Paru sebesar 6,235 kali dibanding responden dengan suhu rumah yang memenuhi syarat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Kenedyanti E., (2017). Adanya hubungan yang signifikan antara suhu dengan kejadian TB Paru di Kabupaten Jeneponto karena 92,6% suhu yang tidak memenuhi syarat terdapat pada rumah responden sakit, sedangkan rata-rata suhu yang tidak memenuhi syarat pada rumah responden tersebut adalah 32,8OC. yang mana suhu ini merupakan suhu optimum bakteri mycobacterium tuberculosis untuk tumbuh.
Menurut Gould dan Brooker (2003), ada rentang suhu yang disukai oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yaitu pada rentang suhu tersebut terdapat suatu suhu optimum yang memungkinkan bakteri tersebut tumbuh dengan cepat. Mycobacterium tuberculosa merupakan bakteri mesofilik yang tumbuh cepat dalam rentang 25°C–40°C, tetapi bakteri akan tumbuh secara optimal pada suhu 31oC–37°C.
Pencahayaan rumah dalam penelitian ini dikelompokkan atas dua kategori yaitu memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 829/Menkes/SK/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, bahwa pencahayaan yang memenuhi syarat adalah minimal intensitasnya 60 lux, sedangkan pencahayaan yang tidak memenuhi syarat adalah dibawah 60 lux. Hasil analisis hubungan antara pencahayaan rumah dengan kejadian/kesembuhan TB Paru di Kabupaten Jeneponto diperoleh odds ratio (OR) sebesar 11,459 hal ini berarti responden dengan pencahayaan yang memenuhi syarat akan meningkatkan kesembuhan TB sebesar 11,459 kali dibanding responden dengan pencahayaan rumah yang tidak memenuhi syarat, sebaliknya responden yang memiliki pencahayaan yang tidak memenuhi syarat akan meningkatkan kejadian TB Paru sebesar 11,459 kali dibanding responden dengan pencahayaan rumah yang memenuhi syarat.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Badariah (2017). Adanya hubungan yang signifikan antara pencahayaan dengan kejadian TB Paru di Kabupaten Jeneponto karena 92,6% pencahayaan yang tidak memenuhi syarat terdapat pada rumah responden sakit, sedangkan rata-rata pencahayaan yang tidak memenuhi syarat pada rumah responden tersebut adalah 44,58 lux artinya cukup gelap. Pencahayaan alami yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan bakteri khususnya bakteri tuberkulosis (TB) dapat berkembang biak. Menurut Kasjono (2011) cahaya memiliki sifat yang dapat membunuh bakteri. Pencahayaan yang cukup untuk menerangi ruang di dalam rumah merupakan salah satu kebutuhan kesehatan manusia. Penerangan ini dapat diperoleh dengan pengaturan cahaya buatan dari lampu dan cahaya alami dari sinar matahari.
Pencahayaan alamiah diperoleh dari pancaran sinar matahari yang masuk melewati ventilasi atau jendela yang ada pada dinding rumah maupun dari genting kaca. Sinar matahari yang cukup merupakan faktor yang penting dalam kesehatan manusia karena sinar matahari dapat membunuh bakteri yang tidak baik bagi tubuh manusia di dalam rumah salah satunya bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sinar matahari juga dapat mematikan bakteri patogen yang menyebabkan berbagai macam penyakit lainnya, selain itu sinar ultraviolet yang ada dalam sinar matahari dapat mematikan hidup tungau. Kurangnya penyinaran sinar matahari yang masuk ke dalam rumah cenderung mengakibatkan udara menjadi lembab dan ruangan menjadi gelap sehingga bakteri dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan di dalam rumah (Fahreza, 2012). Pada penelitian ini, pencahayaan yang kurang disebabkan karena kurangnya ventilasi rumah dan banyak responden yang tidak membuka jendela rumah. Sinar matahari yang masuk juga terhalang oleh dinding rumah tetangga sehingga tidak dapat mengenai ruangan di dalam rumah.
Kepadatan hunian dalam penelitian ini dikelompokkan atas dua kategori yaitu memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 829/Menkes/SK/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, bahwa kepadatan hunian yang memenuhi syarat adalah jika luas lantai rumah ≥ 8m2/orang dan Tidak Memenuhi Syarat jika luas lantai rumah ˂8 m2/orang. Hasil analisis hubungan antara kepadatan hunian rumah dengan kejadian/kesembuhan TB Paru di Kabupaten Jeneponto diperoleh odds ratio (OR) sebesar 10,027 hal ini berarti responden dengan kepadatan hunian yang memenuhi syarat akan meningkatkan kesembuhan TB sebesar 10,027 kali dibanding responden dengan kepadatan hunian rumah yang tidak memenuhi syarat, sebaliknya responden yang memiliki kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat akan meningkatkan kejadian TB Paru sebesar 10,027 kali dibanding responden dengan kepadatan hunian rumah yang memenuhi syarat.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Kenedyanti E., (2017). Adanya hubungan yang signifikan antara kepadatan hunian dengan kejadian TB Paru di Kabupaten Jeneponto karena 76,5% kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat terdapat pada rumah responden sakit, Semakin padat jumlah manusia yang berada dalam satu ruangan, kelembaban semakin tinggi disebabkan oleh keringat manusia dan saat bernapas manusia mengeluarkan uap air (Bawole dkk, 2014). Dalam ruangan tertutup yang terdapat banyak manusia, kelembaban akan lebih tinggi jika dibandingkan di luar ruangan. Oleh karena kelembaban memiliki peran bagi pertumbuhan mikroorganisme termasuk bakteri tuberkulosis (TB), dengan kepadatan hunian yang terlalu padat secara tidak langsung juga mengakibatkan penyakit tuberkulosis (TB) paru. Jumlah penghuni yang padat juga memungkinkan kontak yang lebih sering antara penderita TB paru dengan anggota keluarga lainnya sehingga mempercepat penularan penyakit tersebut.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kami menyimpulkan bahwa ada hubungan signifikan antara suhu, pencahayaan dan kepadatan hunian dengan kejadian/kesembuhan TB paru BTA positif di Kabupaten Jeneponto. Selain itu, tidak ada hubungan yang signifikan antara ventilasi rumah, kelembaban rumah, keberadaan jendela, kondisi atap dan dinding rumah dengan kejadian/kesembuhan TB paru di Kabupaten Jeneponto. Disarankan bagi Petugas Kesehatan Puskesmas Kabupaten Jeneponto, perlu meningkatkan upaya penyuluhan terkait dengan pentingnya menjaga kondisi sanitasi rumah. Bagi Responden/masyarakat, diharapkan selalu menjaga kondisi sanitasi rumah dan melakukan penambahan ventilasi berupa lubang angin. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian dengan jumlah populasi dan sampel yang lebih besar dengan variabel lain yang dapat mempengaruhi kejadian/kesembuhan TB paru.

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi UF. 2005. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.
Bawole, S.T.T., Rattu A.J.M., Posangi, Jimmy. 2014. Faktor Risiko Lingkungan Fisik Rumah terhadap Kejadian TB Paru di Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa. Jurnal Kesehatan. [e-journal] 2(1): pp. 109.
Badariah. 2017. Model Prediksi Manajemen Lingkungan Penanggulangan TB Paru Di Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Tesis. Universitas Hasanuddin, Makassar.
Dinas Kesehatan Prov. Sulsel, 2017. Profil Kesehatan Prov. Sulsel 2017. Makassar : Dinas Kesehatan Prov. Sulsel.
Dinas Kesehatan Jeneponto. 2017. Profil Kesehatan 2016 Kabupaten Jeneponto. Jeneponto : Dinkes Jeneponto Pr.
Fahreza, E.U. 2012. Hubungan Antara Kualitas Fisik Rumah dan Kejadian Tuberkolosis Paru dengan Basil Tahan Asam Positif di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah. [e-journal] 1 (1) pp. 9-13.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Tuberkulosis Temukan Obati Sampai Sembuh. Jakarta : Infodatin Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI Pr.
Kasjono, Heru Subaris. 2011. Penyehatan Permukiman. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Susanti LI. 2016. Hubungan Antara Kondisi Fisik Rumah Dan Perilaku Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Sangkrah Kota Surakarta Tahun 2016 (Skripsi). Surakarta . Universitas Muhammadiyah Surakarta.
World Health Organization. 2017. Global Tuberculosis Report 2017. Geneva (US): WHO Pr.

Tabel 1. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Sampel
Kasus Kontrol
Jumlah % Jumlah %
1

2

Laki-Laki

Perempuan

38

30

55,88

44,12

38

30

55,88

44,12

Jumlah 68 100,00 68 100,00

 

Tabel 2. Distribusi Responden Menurut Tempat Pemeriksaan

No Tempat Tinggal Sampel
Kasus Kontrol
Jumlah % Jumlah %
1

2

Puskesmas

Rumah Sakit

39

29

57,35

42,65

56

12

82,35

17,65

Jumlah 68 100,00 68 100,00

 

Tabel 3. Uji Kebaikan Model

Kode -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square
1 91.483a 0.510 0.700

 

Tabel 4. Pendugaan Parameter

Variabel Bebas B S.E. Wald df Sig. OR
Suhu 1.83 0.702 6.798 1 0.009 6.235
Kelembaban 1.535 0.998 2.369 1 0.124 4.643
Pencahayaan 2.439 0.705 11.979 1 0.001 11.459
Ventilasi -0.297 0.745 0.159 1 0.690 0.743
Kepadatan Hunian 2.305 0.487 22.423 1 0.000 10.027
Lantai -2.384 1.318 3.272 1 0.070 0.092
Dinding 0.12 0.784 0.023 1 0.879 1.127
Atap 0.501 1.893 0.07 1 0.791 1.651
Jendela 0.776 0.739 1.105 1 0.293 2.174
Konstanta -5.659 2.278 6.174 1 0.013 0.003

 

 

 

 

close