Sel. Mei 21st, 2019

FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI KETERLAMBATAN KONSEPSI (INFERTILITAS) PASUTRI PADA WANITA DI KECAMATAN UJUNG PANDANG KOTA MAKASSAR

FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI KETERLAMBATAN KONSEPSI (INFERTILITAS) PASUTRI PADA WANITA DI KECAMATAN UJUNG PANDANG KOTA MAKASSAR 

RISK FACTORS AFFECTING THE DELAY CONCEPTION (INFERTILITY) COUPLES TO THE WOMEN IN THE DISTRICT OF UJUNG PANDANG MAKASSAR

 

Syarah Wahyuni Syamsir, ¹ Buraerah H.Abd. Hakim, ² Leo Prawirodihardjo, ³

 

 

 

 

¹ Bagian Kesehatan Reproduksi Dan Keluarga Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, ² Bagian Kesehatan Reproduksi Dan Keluarga Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, ³ Bagian Obgyn Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alamat Korespondensi:

Syarah Wahyuni Syamsir, SKM

Bumi Permata Sudiang blok F6 No. 2

Makassar

HP : 085242698777

e-mail : syarahwahyuni@rocketmail.com

 

ABSTRAK

Pada dasarnya secara konseptual keterlambatan konsepsi merupakan bagian dari infertilitas yang dimana merupakan bentuk kegagalan reproduksi, yang menjadi masalah besar bagi kesehatan dan kehidupan sosial pasangan suami-istri (pasutri) di seluruh dunia. Di dunia, tingkat infertilitas tinggi lebih banyak ditemukan di Afrika. Hal ini karena secara historis, mereka belum meningkatkan standar hidup mereka, kondisi kesehatan belum membaik, morbiditas dan mortalitas meningkat (WHO,2008). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko gangguan hubungan seksual, gangguan siklus menstruasi, merokok, berat badan terhadap keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita di Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar. Desain penelitian adalah “Case Control Study”, dengan unit oservasi yang terdiri dari kelompok kasus dan kontrol. Besar sampel sebanyak 266 orang yaitu kelompok kasus 133 responden dan kelompok kontrol 133 responden yang diambil dengan cara purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji Odds Ratio dan analisis multivariat dengan regresi berganda logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berisiko terhadap keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita yaitu: gangguan hubungan seksual (p=0,007; OR=2,023 CI: 1,239-3,304), gangguan siklus menstruasi (p=0,001; OR=2,602 CI: 1,488-4,551), merokok (p=0,114; OR=1,748 CI: 0,928-3,293), berat badan (p=0,006; OR=2,062 CI: 1,254-3,391).

 

Kata Kunci : Keterlambatan, konseps, infertility, pasutri,  wanita

 

ABSTRACT

Basically conceptually delay conception is part of infertility which is a form of reproductive failure, which is a big problem for the health and social life of a married couple (couples) in the whole world. In the world, high levels of infertility were more common in Africa. It This is because s ecara historically, they do not improve their living standards, health conditions have not improved, increased morbidity and mortality (WHO, 2008). This study aims to determine the risk of sexual disorders, menstrual disorders, smoking, body weight to delay conception (infertility) couples to the women in the district of Makassar Ujung Pandang. The study design is the “Case Control Study”, with oservasi unit consisting of case and control groups. A sample size of 266 people that is the case of a control group of 133 respondents and 133 respondents were drawn by purposive sampling. Data analysis was performed by univariate, bivariate with Odds Ratio test and multivariate analysis with logistic regression. The results showed that the risk variable delay conception (infertility) couples in which women: sexual disorders (p = 0.007; OR = 2.023 CI: 1.239 to 3.304), menstrual cycle disorders (p = 0.001; OR = 2.602 CI: 1.488 -4.551), smoking (p = 0.114; OR = 1.748 CI: 0.928 to 3.293), weight (p = 0.006; OR = 2.062 CI: 1.254 to 3.391).

 Keywords: Delay in conception (infertility) couples in women




 PENDAHULUAN

Pada dasarnya secara konseptual keterlambatan konsepsi merupakan bagian dari infertilitas yang dimana merupakan bentuk kegagalan reproduksi, yang menjadi masalah besar bagi kesehatan dan kehidupan sosial pasangan suami-istri (pasutri) di seluruh dunia. Berdasarkan laporan WHO, di dunia ada sekitar 50-80 juta pasutri mempunyai problem Infertilitas dan setiap tahunnya muncul sekitar 2 juta pasangan infertil (ketidakmampuan mengandung atau menginduksi konsepsi) baru. Tidak tertutup kemungkinan jumlah itu akan terus meningkat.

Di dunia, tingkat infertilitas tinggi lebih banyak ditemukan di Afrika. infertilitas di sebagian besar daerah-kecuali Timur Tengah dan Amerika Selatan, secara keseluruhan cukup tinggi. Terlebih lagi untuk wilayah Afrika, Hal ini karena secara historis, mereka belum meningkatkan standar hidup mereka, pendidikan rendah, ekonomi masih kurang baik, kondisi kesehatan belum membaik, morbiditas dan mortalitas meningkat (Divisi Pengawasan Epidemiologi dan Situasi Kesehatan dan Penaksiran Trend, WHO, tahun 2008).

Banyak faktor yang menyebabkan mengapa seorang wanita tidak bisa atau sukar menjadi hamil setelah kehidupan seksual normal yang cukup lama. Diantara faktor-faktor tersebut yaitu faktor organik/ fisiologik, faktor ketidakseimbangan jiwa dan kecemasan berlebihan. Dimic dkk di Yugoslavia mendapatkan 554 kasus (81,6%) dari 678 kasus pasangan infertil disebabkan oleh kelainan organik, dan 124 kasus (18,4%) disebabkan oleh faktor psikologik. Untuk di Indonesia, angka kejadian perempuan infertil 15% pada usia 30-34 tahun, meningkat 30 % pada usia 35-39 tahun dan 64% pada usia 40-44 tahun.

Infertilitas dapat disebabkan dari berbagai faktor baik dari faktor suami maupun dari faktor istri, infertilitas karena faktor istri mencangkup 45% yang mempunyai masalah pada vagina, serviks, uterus, kelainan pada tuba, ovarium dan pada peritoneum. Sedangkan infertilitas karena faktor suami sekitar 40%, meliputi kelainan pengeluaran sperma, penyempitan saluran mani karena infeksi bawaan, faktor imunologik/ antibodi, antisperma, serta faktor gizi. Faktor gabungan yang disebabkan oleh kedua suami istri sekitar 20-30%. Sementara akibat faktor tidak terjelaskan sekitar 10-15% (Anwar, 2008). Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa angka kejadian infertilitas masih tinggi, serta pentingnya pengetahuan dan penyebab gangguan kesehatan reproduksi khususnya infertilitas, sehingga peneliti tertarik melakukan penelitian untuk melihat besar risiko gangguan hubungan seksual, gangguan siklus menstruasi, merokok, dan berat badan tentang factor risiko yang mempengaruhi keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri wanita di Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012.




BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Rancangan penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar. Jenis penelitian menggunakan desain case control study.

Populasi dan sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasangan suami istri wanita yang berdomisili di Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar di Propinsi Sulawesi Selatan tahun 2012. Sampel sebanyak 266 yang diambil dengan menggunakan teknik Purposive Sampling yaitu sampel diambil dari wanita yang infertil yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti.

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data diperoleh dengan cara melakukan wawancara langsung terhadap responden dengan berpedoman pada kuesioner yang telah tersedia yang memuat pertanyaan-pertanyaan maupun pernyataan-pernyataan yang digunakan untuk menggali informasi mengenai variabel-variabel yang akan dianalisis pada penelitian ini yang erat kaitannya dengan kejadian keterlambatan konsepsi. Adapun langkah-langkah yang dilakukan selama pengumpulan data primer adalah melakukan wawancara langsung dengan responden dengan berpedoman pada kuesioner yang telah tersedia baik responden di rumah masing-masing.

Data karakteristik, variabel dependen dan variabel independen diolah dengan menggunakan SPSS For Windows 16. Untuk mengetahui faktor risiko kejadian keterlambatan konsepsi pasutri pada wanita di Kecamatan Ujung Pandang digunakan uji bivariat.

HASIL

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah responden yang terlibat pada penelitian ini adalah 266 orang wanita yang terdiri dari wanita yang mengalami keterlambatan konsepsi (infertilitas) sebagai kelompok kasus dan wanita yang tidak mengalami keterlambatan konsepsi (infertilitas) sebagai kelompok kontrol dimana masing-masing kelompok berjumlah sama banyak yaitu 133 orang responden untuk tiap kelompok. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus kejadian keterlambatan konsepsi terbanyak ditemukan pada rentang umur 31-40 tahun yaitu dimana kelompok kasus lebih besar dari kelompok kontrol yaitu 41,4% pada kelompok kasus dan 39,1% pada kelompok kontrol. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.

Hasil penelitian menunjukkan menunjukkan bahwa kasus kejadian keterlambatan konsepsi berdasarkan umur pertama kali kawin terbanyak ditemukan pada rentang umur 21-30 tahun yaitu dimana kelompok kasus lebih besar dari kelompok kontrol yaitu 73,7% pada kelompok kasus dan 86,5% pada kelompok kontrol. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus kejadian keterlambatan konsepsi terbanyak ditemukan pada usia perkawinan 1-10 tahun dimana kelompok kasus lebih besar dari kelompok kontrol. Lebih jelasnya distribusi penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase responden terbanyak pada tingkat pendidikan akademik/ PT dimana kelompok kasus lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol yaitu 53,4% pada kelompok kasus dan 48,9% pada kelompok kontrol. Lebih jelasnya distribusi penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pekerjaan responden yang tertinggi yaitu PNS. Dimana kelompok kontrol lebih besar dari pada kelompok kasus yaitu 30,8% kelompok kontrol dan 27,1% kelompok kasus.

Pada variabel gangguan hubungan seksual, menunjukkan bahwa dari 121 orang yang memiliki gangguan hubungan seksual, responden yang menderita keterlambatan konsepsi lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol yaitu 72 orang (54,1%).

Pada variabel gangguan siklus menstruasi, menunjukkan bahwa dari 75 orang yang memiliki gangguan siklus menstruasi, responden yang menderita keterlambatan konsepsi lebih banyak dibandingkan kelempok kontrol yaitu 50 orang (37,6%).

Pada variabel kebiasaan merokok, menunjukkan bahwa dari 49 orang yang mempunyai kebiasaan merokok, responden yang menderita keterlambatan konsepsi lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol yaitu 30 orang (22,6%).

Pada variabel berat badan, menunjukkan bahwa dari 109 orang yang mempunyai berat badan tidak normal, responden yang menderita keterlambatan konsepsi lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol yaitu 66 orang (49,6%).

Analisis bivariat dalam penelitian ini menggunakan uji chi square dan Odds Ratio, dimana uji tersebut digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan variabel bebas dan variabel terikat. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program komputer diperoleh hasil analisis bivariat pada Tabel 3.

 





PEMBAHASAN

Penyebab spesifik kejadian keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita masih belum diketahui, tetapi terdapat banyak faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita. Beberapa faktor risiko yang dimaksud yaitu gangguan hubungan seksual, gangguan siklus menstruasi, merokok, dan berat badan.

Hasil analisis menunjukan bahwa gangguan hubungan seksual berhubungan dengan keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita (p=0,007). Hasil analisis bivariat dengan Odds Ratio (OR) terhadap gangguan hubungan seksual didapatkan OR sebesar 2,023. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki gangguan hubungan seksual memiliki risiko 2,023 kali lebih besar untuk mengalami keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita.

Secara teori dan beberapa penelitian yang mengemukakan bahwa infertilitas dipengaruhi oleh hubungan seksual yang berkualitas, yaitu dilakukan dengan frekuensi 2-3 kali seminggu, terjadi penetrasi dan tanpa kontrasepsi. Penetrasi adalah masuknya penis ke vagina sehingga sperma dapat dikeluarkan, yang nantinya akan bertemu sel telur yang “menunggu” di saluran telur wanita. Penetrasi terjadi bila penis tegang (ereksi). Oleh karena itu gangguan ereksi (disebut impotensi) dapat menyebabkan infertilitas. Penetrasi yang optimal dilakukan dengan cara posisi pria di atas, wanita di bawah. Sebagai tambahan, dibawah pantat wanita diberi bantal agar sperma dapat tertampung.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ria Indriati (2011) bahwa gangguan gubungan seksual secara signifikan meningkatkan risiko keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita dengan OR = 1,411. Dengan frekuensi hubungan seksual dalam penelitian ini adalah 2-8 kali per bulan, hal ini terjadi karena kelompok infertil berkeinginan untuk mempunyai anak.

Hasil analisis menunjukan bahwa gangguan siklus menstruasi berhubungan dengan keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita (p=0,001). Hasil analisis bivariat dengan Odds Ratio (OR) terhadap gangguan siklus menstruasi didapatkan OR sebesar 2,602. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki gangguan siklus menstruasi memiliki risiko 2,602 kali lebih besar untuk mengalami keterlambatan konsepsi.

Berdasarkan hasil uji analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel gangguan siklus menstruasi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita dengan nilai Wald sebesar 8,511 dan signifikansi sebesar 0,004.

Premenstrual Syndrome (PMS) mungkin merupakan masalah haid yang paling umum. Diperkirakan sejumlah 30% sampai 90% wanita mengalami ketidaknyamanan ringan pada saat pramenstruasi dan hanya 5% perempuan tidak mengalami gejala PMS. Terdapat sebuah teori tentang penyebab terjadinya PMS, diperkirakan karena terjadi  kerusakan dalam produksi progesteron yang mengganggu kerja normal dari siklus sehingga hal ini juga berdampak kepada kesuburan. Hal itu terjadi karena para wanita bertanggung jawab untuk melahirkan generasi masa depan, yang merupakan pengalaman yang paling berat bagi tubuh seorang wanita (Rosenberg Lynn. 2009).

Penelitian yang sama dilakukan dilakukan di Iran pada 514 kasus dan 556 kontrol menunjukkan adanya masalah dalam siklus menstruasi memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian infertilitas dengan OR=1,46 (CI 1,09-1,96, p = 0,01) (Shaibani,et.al. 2009).

Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang umumnya merupakan manifestasi dari gangguan proses pelepasan sel telur (ovulasi). Sekitar 80% penyebab gangguan ovulasi adalah sindrom ovarium polikistik. Gangguan ovulasi biasanya direfleksikan dengan gangguan siklus menstruasi. Siklus menstruasi yang normal memiliki siklus antara 26-35 hari, dengan jumlah darah haid 80 cc dan lama haid antara 3-7 hari (Blake D, 2010).

Hasil analisis menunjukan bahwa merokok berhubungan dengan keterlambatan konsepsi (Infertilitas) pasutri pada wanita (p=0,114). Hasil analisis bivariat dengan Odds Ratio (OR) terhadap kebiasaan merokok didapatkan OR sebesar 1,748. Oleh karena nilai lower limit dan upper limit mencakup nilai satu maka kebiasaan merokok bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita. Hal ini dimungkinkan karena jumlah sampel kasus yang digunakan terbatas, walaupun secara teori dan beberapa penelitian yang mengemukakan bahwa wanita yang memiliki kebiasaan merokok akan memiliki risiko untuk mengalami keterlambatan konsepsi (infertilitas).

Hubungan antara merokok dengan keterlambatan konsepsi dicurigai karena asap rokok yang terhirup memiliki kandungan seperti nikotin, karbon monoksida, cadmium, dan komponen lain yang mutagen.

Merokok dapat membahayakan ovarium dan mengurangi jumlah/kualitas sel telur. Hal ini memicu seorang wanita terlambat memiliki anak. Hasil riset Adashi EY, et. Al. (2010) menunjukkan wanita perokok cenderung mengalami menopause lebih awal. Merokok diduga berpengaruh negatif pada kinerja organ yang mengatur hormon oestrogen di tubuh wanita. Normalnya, wanita menginjak masa menopause diusia 46–51 tahun, namun wanita yang rutin merokok cenderung mengalami menopause lebih awal, yaitu di usia 43–50 tahun (Adashi EY, et. Al. 2010).

Hasil analisis menunjukan bahwa berat badan berhubungan dengan keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita (p=0,006). Hasil analisis bivariat dengan Odds Ratio (OR) terhadap berat badan didapatkan OR sebesar 2,062. Hal ini menunjukkan berat badan merupakan faktor risiko terhadap kejadian keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Ariella (2009) bahwa berat badan yang tidak normal (overweigth) dengan OR=13,6 mempunyai peluang 13,6 kali untuk mengalami risiko keterlambatan konsepsi (Infertilitas) pasutri pada wanita dibandingkan dengan wanita berat badan yang normal.

Gangguan dalam ovulasi wanita dan siklus menstruasi sebagai akibat dari kenaikan berat badan tidak sehat berdampak negatif terhadap sistem reproduksi serta menyebabkan kesulitan hamil. Oleh karena itu, modifikasi gaya hidup seperti kebiasaan makan yang disiplin, tingkat peningkatan aktivitas fisik sehari-hari, dan olahraga teratur sangat penting untuk menjaga berat badan yang sehat.

Jika seorang wanita memiliki berat badan yang berlebih (over weight) atau mengalami kegemukan (obesitas), atau dengan istilah lain memiliki lemak tubuh 10%-15% dari lemak tubuh normal, maka wanita tersebut akan menderita gangguan pertumbuhan folikel di ovarium yang terkait dengan sebuah sindrom yaitu sindrom ovarium poli kistik (SOPK). Sindrom ini juga terkait erat dengan resistensi insulin dan diabetes melitus. Disamping berat badan yang berlebih maka berat badan yang sangat rendah juga dapat mengganggu fungsi fertilitas seorang wanita. Zat gizi yang cukup seperti karbohidrat, lemak dan protein sangat diperlukan untuk pembentukkan hormon reproduksi, sehingga pada wanita kurus akibat asupan gizi yang sangat kurang akan mengalami defisiensi hormon reproduksi yang berakibat terhadap peningkatan kejadian infertilitas pada wanita tersebut.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dengan mengacu pada rumusan masalah dan hipotesis peneltian, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu besar risiko kejadian keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita yang memiliki gangguan hubungan seksual sebesar 2,023 kali dibanding yang tidak memiliki gangguan hubungan seksual dan variabel tersebut bermakna terhadap kejadian keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita, besar risiko kejadian keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita yang memiliki gangguan siklus menstruasi sebesar 2,602 kali dibanding yang tidak memiliki gangguan siklus menstruasi, besar risiko kejadian keterlambatan konsepsi pasutri (infertilitas) pada wanita yang kebiasaan merokok sebesar 1,748 kali dibanding yang tidak memiliki gangguan hubungan seksual dan variabel tersebut tidak bermakna terhadap kejadian keterlambatan konsepsi pasutri (infertilitas) pada wanita, besar risiko kejadian keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita yang memiliki berat badan tidak normal sebesar 2,062 kali dibanding yang tidak memiliki berat badan normal, hasil uji analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel gangguan siklus menstruasi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian keterlambatan konsepsi (infertilitas) pasutri pada wanita dengan nilai Wald sebesar 8,511 dan signifikansi sebesar 0,004.

Berdasarkan simpulan dari hasil penelitian ini, beberapa saran yang dapat disampaikan bagi calon pasutri, sebaiknya dilakukan premarital konseling sehingga mereka mempunyai perencanaan dan persiapan setelah pernikahan. bagi pasutri bagi pasutri yang memiliki gangguan siklus menstruasi sebaiknya melakukan pemeriksaan kesehatan secara periodik setahun sekali agar kemungkinan terjadinya keterlambatan konsepsi pada saat hamil dapat dihindari. Selain itu, oleh karena merokok merupakan salah satu risiko keterlambatan konsepsi maka dari itu diharapkan setiap wanita tidak mengkonsumsi rokok.





DAFTAR PUSTAKA

Adashi EY, et. Al. 2010. Public perception on infertility and its treatment: an international survey. The Bertarelli Foundation Scientific Board. Hum Reprod 2010, 15(2):330-334.

Ariella, Amanta. 2009. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Infertilitas Di Perumahan Citra Garden City Jakarta. FKM UI.

Azamris 2009. Analisis Faktor Risiko pada Pasien Infertil di Rumah Sakit Dr.M.Djamil Padang. Cermin Dunia Kedokteran No.152 No.2.

Blake D, Smith D, Bargiacchi A, France M, Gudex G. 2010. Fertility awareness in women attending a fertility clinic. The Australian & New Zealand journal of obstetrics & gynaecology 2010,37 (3):350-352.

Idra, Anwar dan Irsal.2008. Dua Puluh Penyebab Kurang Subur Pada Pasangan Suami Istri. [online] diakses melalui http://www.Penyebab infertile.co.id. Tanggal 3 Desember 2011.

Lynn, Rosenberg. 2009. A Case-Control Study of Premenstrual syidrome and Incident Infertility.Am J Epidemiol 2009;169:473-479.

Murti, Bhisma. 1995. Prinsip dan Metode Riset. Gadjah Mada University Press.

O.Frank. 2008. The Demography Of Fertility And Infertility. Division of Epidemiological Surveillance and Health Situation and Trend Assessment World Health Organization. [online] diakses melalui http://www.gfmer.ch/Books/Reproductive_health/Contents.html. Tanggal 3 Desember 2011.

Shaibani,et.al. 2009. Risk Factors of Infertity in Kuwait : /Case-Control Study. Iran J Med Sci. Juni 2009; Vol 31.

Stanley Lemeshow,et.al. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan. Terjemahan oleh Dibyo Pramono. 1997. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1.      Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Keterlambatan Konsepsi (Infertilitas) Pasutri Pada Wanita Di Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar Tahun 2012

Variabel p OR 95% CI
Kasus

Kontrol

133

133

50,0

50,0

Kasus

Kontrol

Jumlah 266 100 Jumlah

 

 

Tabel 2. Distribusi Kasus dan Kontrol Berdasarkan Variabel Penelitian

Variabel

 

Kasus Kontrol
n % n %
Kelompok Umur Responden
21-30 48 36,1 34 25,6
31-40 55 41,4 52 39,1
41-50 30 22,6 47 35,3
Kelompok Umur Pertama Kali Kawin
≤ 20 tahun 31 23,3 14 10,5
21-30 tahun 98 73,7 115 86,5
31-40 tahun 4 3,0 4 3,0
Lama Nikah (tahun)
1-10 82 61,7 64 48,1
11-20 33 24,8 37 27,8
21-30 18 13,5 32 24,1
Tingkat Pendidikan
SD 5 3,8 6 4,5
SMP/sederajat 11 8,3 8 6,0
SMA/sederajat 46 34,6 54 40,6
Diploma/PT 71 53,4 65 48,9
Pekerjaan
PNS 36 27,1 41 30,8
Pegawai Swasta 37 27,8 19 14,3
Wiraswasta 32 24,1 31 23,3
Buruh 7 5,3 10 7,5
IRT 21 15,8 32 24,1
Gangguan hubungan Seksual
Terganggu 72 54,1 49 36,8
Tidak terganggu 61 45,9 84 63,2
Gangguan Siklus Menstruasi
Terganggu 50 37,6 25 18,8
Tidak terganggu 83 62,4 108 81,2
Merokok
Merokok 30 22,6 19 14,3
Tidak Merokok 103 77,4 114 85,7
Berat Badan
Tidak Normal 66 49,6 43 32,3
Normal 67 50,4 90 67,7

 

Tabel 3.       Hasil Analisis Bivariat Besar Risiko antara Variabel Bebas dan Variabel Terikat

 

Variabel p OR 95% CI
Gangguan Hubungan Seksual 0,007 2,023 1,239-3,304
Gangguan Siklus Menstruasi 0,001 2,602 1,488-4,551
Merokok 0,114 1,748 0,928-3,293
Berat Badan 0,006 2,062 1,254-3,391

 

 


close


<!–end: floating ads—>