Ming. Jun 16th, 2019

FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAHIR MATI DI KABUPATEN KONAWE




RISK FACTORS ASSOCIATED WITH STILLBIRTH IN KONAWE DISTRICT

 

Elis daniar barunawati 1, Arifin Seweng2, Andi Arsunan Arsin3

1Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe

      2 Departemen Kesehatan Reproduksi dan Keluarga, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UNHAS

3Departemen Epidemiology, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UNHAS

 

 

 

Alamat Korespondensi :

Elis Daniar Barunawati

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

Kompleks Bumi Tamalanrea blok M No.14

081381557878

Email: ellis.daniar@gmail.com

 

ABSTRAK

Lahir mati merupakan penyumbang utama kematian perinatal, hal ini perlu diatasi untuk meningkatkan derajat kesehatan perinatal yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia pada masa akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko yang meliputi berat badan lahir, umur ibu, paritas, penolong persalinan, dan tempat persalinan terhaadap bayi lahirmati di Kabupaten Konawe. Jenis penelitian adalah penelitian observasional dengan desain studi kasus kontrol (case control study). Sampel pada penelitian ini sebanyak 180 yang terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok kasus dan kelompok kelola masing – masing sebanyak 45 kasus dan 135 kontrol. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Regresi Logistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel yang berisiko terjadinya lahir mati   yaitu berat badan lahir (OR=13,5), penolong persalinan (OR=11,4), tempat persalinan (OR=4,5), variabel yang tidak   berisiko terhadap lahir mati adalah umur dan paritas. Analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian lahir mati adalah Berat Badan lahir (OR=9,2). Penelitian ini menyarankan perlu   adanya peningkatan kualitas kehamilan melalui antenatal care serta pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.

Kata kunci : Faktor Risiko, Lahir mati

 

ABSTRACT      

Birth death is a major contributor to perinatal death, this needs to be addressed to improve the degree of perinatal health that will determine the quality of human resources in the future. This study aimed to analyze the risks that include birth weight, maternal age, parity, birth attendant, and the birthplace of the stillborn in Konawe District. The type of research is observational research with case control study design. The sample in this study was 180 divided into two groups, namely case group and management group – each with 45 cases and 135 controls. Data analysis used Chi-Square test and Logistic Regression. The results of the analysis showed that the variables that were at risk of stillbirth were birth weight (OR = 13.5), birth attendant (OR = 11.4), delivery place (OR = 4.5), age and parity was not a risk of stillbirth. Multivariate analysis showed that the most dominant variable affecting the incidence of stillbirth was birth weight (OR = 9.2). This study suggests the need for improved quality of pregnancy through antenatal care and delivery assistance by health personnel at health facilities.

Keywords : Risk Factor, Stillbirth



PENDAHULUAN

Salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan 2030 Sustainable Development Goals ( SDGs) adalah menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia dengan target Pada 2030, mengakhiri kematian bayi dan balita yang dapat dicegah, dengan seluruh negara berusaha menurunkan Angka Kematian bayi setidaknya hingga 12 per 1.000 kelahran Hidup dan Angka Kematian Balita 25 per 1.000 KH ( KEMENKES RI, 2016).

Menurut WHO, jumlah bayi lahir mati diseluruh dunia telah menurun berkisar 19,4% antara tahun 2000 dan 2015, mewakili tingkat tahunan penurunan dari 2%. Mayoritas lahir mati dapat dicegah, dengan cara bervariasi di seluruh dunia. Tingkat pencegahan berkorelasi dengan pelayanan kesehatan ibu hamil. Rencana setiap tindakan pada pertolongan persalinan untuk mengakhiri kematian yang dapat dicegah guna mencapai target lahir mati 12 per 1000 kelahiran atau kurang pada 2030 (WHO, 2015).

Sebagai negara berkembang di Asia tenggara, dibandingkan dengan beberapa negara lain seperti Malaysia, Thailand, Vietnam. Singapura, dan Brunei Darusalam, situasi politik dan ekonomi di Indonesia relatif stabil selama 15 tahun terakhir. Namun kondisi status kelangsungan hidup anak di Indonesia masih tertinggal dibanding negara – negara ini. (UNICEF, 2016). Hal ini ditandai dengan masih tingginya angka kematian bayi yaitu 26 per 1000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2016).

Lahir mati merupakan penyumbang utama untuk kematian perinatal, dan sekitar 3 juta bayi lahir mati pada trimester ketiga terjadi setiap tahun. lahir mati masih harus dibahas dalam Global Burden of metrik Penyakit dan tujuan pembangunan berkelanjutan (Kayode et.al., 2016).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan lahir mati sebagai kematian janin (kematian sebelum pengeluaran lengkap atau ekstraksi hasil konsepsi dari induknya) pada trimester ketiga (≥28 minggu atau berat lahir ≥1000 g), untuk standar internasional.  Faktor yang terkait dengan lahir mati sangat tumpang tindih terkait dengan kematian ibu dan bayi. Lahir mati antepartum mencerminkan kualitas perawatan antenatal, sementara bayi lahir mati intrapartum mencerminkan kualitas pelayanan persalinan (Afulani PA, 2016).

Hasil Survey penduduk antar sensus menyatakan angka kematian bayi di Indonesia sebesar 22,23 per 1000 kelahiran hidup (SUPAS, 2015). Namun Propinsi Sulawesi Tenggara kasus lahir mati cukup banyak dan memberikan kontribusi yang besar terhadap kematian perinatal. kejadian lahir mati menempati urutan pertama pola penyebab kematian bayi tahun 2014. Dari 48.142 kelahiran terdapat 427 kematian neonatal, 172 kematian bayi dan 589 kejadian lahir mati. Bila dilakukan penghitungan angka lahir mati sesuai data SDKI 2012 maka ditemukan hasil sebesar 10,5 per 1000 kelahiran , dibandingkan dengan angka lahir mati di Propinsi Sulawesi Tenggara masih lebih tinggi yaitu sebesar 12,2 per 1000 kelahiran (Dinas kesehatan Sultra, 2015).

Kabupaten Konawe sebagai wilayah bagian administrasi dari Propinsi Sulawesi Tenggara, kejadian lahir mati masih cenderung tinggi yaitu 45 kasus atau 71,43% dan hal ini memberi kontribusi terhadap tingginya angka kematian bayi ditingkat propinsi. (Dinas Kesehatan Konawe 2016). Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20 tahun sampai dengan 30 tahun. Menurut Notoatmodjo Ada kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi (Notoatmodjo, 2003) Penelitian di indonesia yang dilakukan di Tapanuli Utara menyatakan jika paritas pertama atau paritas > 3 berisiko 2,8 kali lebih besar untuk mengalami kelahiran mati dibandingkan paritas 2 – 3 (`Viktor, 2008). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko bayi lahir mati di Kabupaten Konawe.

 



BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Jenis Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Konawe Propinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain studi kasus kelola ( case control study). Studi kasus kelola adalah suatu rancangan studi yang mempelajari hubungan antara paparan (faktor risiko) terhadap suatu penyakit atau status kesehatan dengan cara membandingkan kelompok kasus dengan kelompok kelola berdasarkan status paparannya.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh subjek penelitian yang teridentifikasi memiliki riwayat kontak dengan variabel penelitian terdiri dari populasi penelitian yaitu semua bayi yang tercatat pada buku Register KIA Puskesmas dan di Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe. Sampel dalam penelitian ini di bedakan atas dua yaitu sampel kasus adalah bayi yang mengalami lahir mati dan sebagai sampel kelola adalah bayi yang lahir hidup Tahun 2016

Pengumpulan data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu kuesioner.

Analisis data

Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS dengan distribusi frekuensi, uji chi square dan regresi logistik berganda.

 



HASIL PENELITIAN

Tabel 1 menunjukkan bahwa pada variabel berat badan lahir rendah persentase lahir mati lebih tinggi (68,9 %) dibandingkan dengan lahir hidup (14,1%). Dengan nilai

p = 0,000 lebih kecil dari  Berdasarkan hasil perhitungan OR didapatkan bahwa bayi berat lahir rendah mempunyai risiko 13,5 kali lebih besar untuk lahir mati dibandingkan bayi yang berat badan lahir normal.

Tabel 2 menunjukkan bahwa pada variabel umur ibu (<20 atau >35) persentase lahir mati lebih tinggi (53,3%) dibandingkan dengan lahir hidup (37,8%). Dengan nilai p = 0,097 lebih besar dari Berdasarkan hasil perhitungan OR didapatkan bahwa umur ibu (<20 atau >35 tahun) mempunyai risiko 1,9 kali lebih besar untuk lahir mati dibandingkan umur ibu (20–35 tahun).

Pada variabel paritas menunjukkan bahwa paritas (1 atau >3) dengan persentase lahir mati lebih tinggi (68,9%) dibandingkan dengan lahir hidup (58,5%). Dengan nilai p = 0,289 lebih besar dari Berdasarkan hasil perhitungan OR didapatkan bahwa paritas (1 atau >3) mempunyai risiko 1,6 kali lebih besar untuk lahir mati dibandingkan paritas (2–3).

Tabel 3 menunjukkan bahwa penolong persalinan yang non tenaga kesehatan dengan persentase lahir mati lebih tinggi (71,1%) dibandingkan dengan lahir hidup (17,8%). Dengan nilai p = 0,000 lebih kecil dari . Berdasarkan hasil perhitungan OR didapatkan bahwa penolong persalinan yang non tenaga kesehatan mempunyai risiko 11,4 kali lebih besar untuk lahir mati dibandingkan penolong persalinan yang tenaga kesehatan.

Tabel 4 menunjukkan bahwa tempat persalinan di rumah dengan persentase lahir mati lebih tinggi (91,1%) dibandingkan dengan lahir hidup (69,6%). Dengan nilai p = 0,007 lebih kecil dari . Berdasarkan hasil perhitungan OR didapatkan bahwa tempat persalinan di rumah mempunyai risiko 4,5 kali lebih besar untuk lahir mati dibandingkan tempat persalinan di puskesmas.

Tabel 5 menunjukkan bahwa hasil analisis multivariat dapat diperoleh variabel yang mempengaruhi lahir mati adalah berat badan lahir dengan nilai signifikan 0,000 dan penolong persalinan dengan nilai signifikan 0,000 sedangkan untuk variabel tempat persalinan tidak mempengaruhi kejadian lahir mati dengan nilai signifikan 0,432.

Berdasarkan hasil analisis statistik dari ke lima variabel independen diperoleh tiga variabel yang mempunyai hubungan (BBL, penolong persalinan, dan tempat persalinan) sedangkan dua variabel tidak mempunyai hubungan (umur dan paritas).

 



PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini terlihat bahwa ada beberapa aspek yang menjadi faktor risiko lahir mati yakni berat badan lahir, umur,paritas, penolong persalinan dan tempat persalinan.

Berat lahir sangat penting bagi potensi pengembangan bayi, serta merupakan gambaran kualitas kesehatan ibu dan bayi. Berat lahir yang tidak normal seperti berat lahir rendah merupakan penentu penting untuk kelangsungan hidup. Pada penelitian ini, menunjukkan bahwa kejadian lahir mati banyak terjadi pada berat badan lahir rendah. Ini menunjukkan bahwa berat badan lahir rendah berisiko lebih besar untuk lahir mati dibandingkan dengan berat lahir normal. Hal tersebut terbukti dalam penelitian ini, dimana terdapat 68,9% bayi lahir mati dengan berat badan lahir rendah. Suatu studi di Ghana mengungkapkan bahwa berat badan lahir rendah memiliki peluang yang besar untuk mengalami kelahiran mati (Agbozo et.al., 2016). Dibandingkan dengan hasil studi di Ghana, penelitian yang dilakukan di Jerman memperlihatkan bahwa berat badan lahir rendah berpotensi 1,5 kali untuk mengalami kejadian lahir mati (Anna Reeske et.al., 2011). Hal ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu 13,5 kali. Tingginya risiko BBL dengan kejadian lahir mati memberikan gambaran jika kelompok berisiko tersebut perlu terdeteksi sedini mungkin untuk mendapatkan penanganan maupun tindakan pencegahan melalui tempat pelayanan kesehatan sehingga mampu mengurangi risiko lahir mati.

Umur ibu merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kualitas kehamilan atau berkaitan dengan kesiapan ibu dalam reproduksi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur ibu dengan terjadinya lahir mati (p=0,97). Namun pada umur ibu (<20 atau >35) tahun berisiko lebih besar jika dibandingkan dengan umur (20 – 35) tahun. Sebuah studi di India memperlihatkan hasil yang sama dengan penelitian ini yaitu usia ibu yang lebih tua (>35 tahun) memiliki risiko untuk mengalami kejadian lahir mati (Ariarathinam et.all., 2017). Demikian pula dengan hasil penelitian di Ethopia, menemukan bahwa ibu yang melahirkan pada usia > 35 tahun memiliki risiko 6,80 kali untuk mengalami kelahiran mati, hal ini menunjukkan bahwa wanita usia lebih tua rentan untuk mengalami lahir mati (Kidanemariam et.al., 2016).

Paritas menggambarkan jumlah persalinan yang telah dialami seorang ibu baik lahir hidup maupun lahir mati. Dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa paritas tidak ada hubungan yang signifikan dengan terjadinya lahir mati (p=0,289). Akan tetapi kejadian lahir mati banyak terjadi pada paritas 1 atau > 3 dimana paritas tersebut berisiko lebih besar dibandingkan dengan paritas 2 – 3. Hasil penelitian yang dilakukan di Jerman menyebutkan bahwa paritas berisiko 1.2 kali untuk terjadinya lahir mati. Sebab makin tinggi paritas, risiko kematian janin juga semakin tinggi. Hal ini dikarenakan saat proses persalinan pembuluh darah pada dinding rahim yang rusak tidak dapat pulih sepenuhnya seperti sebelum melahirkan (Anna Reeske et.al.,2011). Studi yang dilakukan di Tapanuli Utara menyatakan jika paritas pertama atau paritas > 3 berisiko lebih besar untuk mengalami kelahiran mati (Viktor, 2008). Sedangkan penelitian lain yang dilakukan di Ghana menyatakan bahwa pada paritas pertama berisiko untuk terjadinya berat badan lahir rendah sebagai faktor risiko terjadinya kelahiran mati (Faith et al., 2016). Hasil studi di Skotlandia menyatakan bahwa ibu dengan paritas pertama memiliki risiko kebih besar untuk mengalami lahir mati (Smith et.al,. 2011)

Penanganan tenaga medis saat persalinan sangat penting baik itu persalinan yang dilakukan di rumah maupun Puskesmas. Dalam proses persalinan, seorang ibu harus ditolong oleh tenaga kesehatan profesional yang memahami cara menolong persalianan yang bersih dan aman, sebab persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terbukti berkontribusi terhadap turunnya risiko kematian ibu dan bayi. Masih banyak persalinan yang ditolong oleh dukun beranak dimana dalam melakukan pertolongan persalinan tersebut dukun tidak berdasarkan kepada pengalaman dan berbagai kasus persalinan oleh dukun. Pengetahuan tentang fisiologis dan patologis dalam kehamilan dan persalinan sangat terbatas oleh karena itu apabila timbul komplikasi ia tidak mampu untuk mengatasinya, bahkan tidak menyadari akibatnya, dukun tersebut menolong hanya berdasarkan pengalaman dan kurang professional yang berakibat kematian pada bayi. Hal tersebut terbukti dalam penelitian ini, bahwa kejadian lahir mati banyak terjadi pada penolong persalinan yang non tenaga kesehatan dibandingkan dengan penolong persalinan yang tenaga kesehatan. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Kenya yang menyatakan bahwa pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan berisiko untuk mengalami komplikasi persalinan sebagai penyebab lahir mati dibandingkan wanita yang ditangani oleh tenaga non kesehatan. Hal tersebut dikarenakan anggapan bahwa penanganan persalinan oleh tenaga kesehatan dianggap penting pada saat terjadi komplikasi persalinan saja (Liambila et.al,. 2014). Penelitian yang dilakukan di Indonesia di Kabupaten Karang anyar menyatakan bahwa pertolongan persalinan yang dilakukan oleh non tenaga kesehatan berisiko untuk mengalami kejadian lahir mati, jika dibandingkan dengan tenaga kesehatan (Dewi, 2010).

Tempat persalinan yang paling aman apabila dilakukan ditempat pelayanan kesehatan karena terdapat tenaga medis yang ahli dalam bidangnya, serta adanya peralatan medis. Apabila terjadi kesulitan maupun komplikasi dapat segera mendapat penanganan. Pada penelitian ini lahir mati banyak terjadi di rumah ,dibandingkan dengan bayi yang lahir di puskesmas atau tempat layanan kesehatan. Sebuah studi di Ethopia menjelaskan bahwa ibu yang melahirkan bayi di Puskesmas kurang cenderung mengalami kelahiran mati dibandingkan dengan mereka yang lebih memilih untuk melakukan persalinan dirumah (Kidanemariam et.al., 2016). Penelitian lain yang dilakukan di Kenya mendapatkan hasil jika pertolongan persalinan yang dilakukan ditempat layanan kesehatan memiliki risiko lebih besar untuk mengalami komplikasi persalinan sebagai penyebab lahir mati dibandingkan dengan pertolongan persalinan yang dilakukan dirumah ( Liambila et.al., 2014)

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan kami bahwa BBL, Penolong Persalinan, dan Tempat Persalinan merupakan fakor risiko terjadinya lahir mati. Umur ibu bukan merupakan faktor risiko lahir mati, akan tetapi terdapat kecendrungan lahir mati. Sedangkan Paritas bukan merupakan faktor risiko lahir mati. Penelitian ini menyarankan perlu kiranya setiap ibu hamil mendapatkan konseling kebidanan agar terjalin komunikasi dan interaksi yang mendalam antara bidan atau tenaga kesehatan dengan ibu hamil Serta Perlu adanya peningkatan kualitas kehamilan melalui ANC secara rutin serta pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan untuk mendeteksi dini pada keadaan yang dapat membahayakan bagi ibu dan janin. Mengingat salah satu isu kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak adalah peningkatan kesehatan ibu dan anak di Indonesia berjalan lamban dibeberapa tahun terakhir.

DAFTAR PUSTAKA

Afulani P.A. (2016). Determinants of stillbirths in Ghana. does quality of antenatal care matter? BMC Pregnancy and ChildbirthBMCopen inclusive and trusted 2016 16:132

Anna Reeske., et.al. (2011). Stillbirth differences according to regions of origin: an analysis of the German perinatal database. BMC Pregnancy Childbirth201111:63

Ariarathinam Newtonraj., et.al.(2017). Level, causes, and risk factors of stillbirth: a population-based case control study from Chandigarh, India. BMC Pregnancy and Childbirth (2017) 17:371 DOI 10.1186/s12884-017-1557

BPS. (2015). Survei Penduduk Antar Sensus 2015

Dewi. (2010). Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian lahir mati di Kabupaten Karang anyar Tahun 2010. Tesis Universitas Surakarta

Dinkes Propinsi Sulawesi Tenggara. (2015). Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara Tahun 2015

Dinkes Kabupaten Konawe. (2016). Laporan Analisis Bayi Kabupaten Konawe Tahun 2016.

Faith Agbozo., et.al. (2016). Prevalence of low birth weight, macrosomia and stillbirth and their relationship to assciated maternal risk factor in Hohoe Municipality, Ghana. BMC Pregnancy Childbirth.

Kayode., et.al.(2016). Predicting stillbirth in a low resource setting. BMC Pregnancy and ChildbirthBMC series. BMC Pregnancy Childbirth open, inclusive and trusted.

Kemenkes Republik Indonesia. (2016) Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. jakarta

Kidanemariam., et.al. (2016). Logistic regression analysis on the determinants of stillbirth in Ethiopia Maternal Health, Neonatology and Perinatology20162:10 10.1186/s40748-016-0038-5

Liambila., et.al. (2014) . Birth attendance and magnitude of obstetric complications in Western Kenya: a retrospective case–control study. BMC Pregnancy and Childbirth. 201414:311

Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. (2016).

Soekidjo N. (2003). Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat Jakarta : Rineka Cipta

Smith GC., et.al (2011). Teenege pregnancy and risk of adverse perinatal outcomes associated with first and second birhs : population based retrospective cohort study. BMJ.2011, 323:476-480

Unicef. (2016). Indicator and Monitoring Framework for the Global Strategy for Woman’s Childrens and Adolescent’s Health (2016-2030). Unicef Data. 2016:38.

Viktor.(2008). Analisis faktor risiko pada kelahiran mati di kabupaten tapanuli utara. Tesis.repositoryusuacid. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universias Sumatera Utara

WHO. (2015). Trends in Maternal Mortality: 1990 to 2015, UNICEF, UNFPA, World Bank Group and the United Nations Population Division). Ganeva, Switzerland

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

Tabel 1. Hubungan antara berat badan lahir dengan lahir mati

Berat badan lahir Lahir mati OR (95% CI) p
   Kasus Kelola
n % n %
BBLR 31 68,9 19 14,1 13,5

(6,1 – 29,9)

0,000
Normal 14 31,1 116 85,9
Jumlah 45 100 135 100

 

Tabel 2. Hubungan antara umur ibu dan paritas dengan lahir mati

Di Kabupaten Konawe

 

 

 

Variabel

Lahir mati OR (95% CI)s p
Kasus          Kelola
n % n    %
Umur ibu

 

(<20 atau >35) tahun

 

 

24

 

 

53,3

 

 

51

 

 

37,8

 

1,9

0,097
(20–35) tahun 21 46,7 84 62,2 (0,9 – 3,7)
Paritas

 

1 atau >3

 

 

31

 

 

68,9

 

 

79

 

 

58,5

 

 

1,6

(0,8 – 3,2)

 

 

0,289

2 – 3 14 31,1 56 41,5

 

 

 

Tabel 3. Hubungan antara penolong persalinan dengan lahir mati

Penolong Persalinan penolong persalinan OR (95% CI) p
Kasus Kelola
n % n %
Non tenaga kesehatan 32 71,1 24 17,8 11,4

(5,2 – 24,9)

0,000
Tenaga kesehatan 13 28,9 111 82,2
Jumlah 45 100 135 100

 

 

 

 

Tabel 4. Hubungan antara tempat persalinan dengan lahir mati

 

Tempat persalinan Lahir mati OR (95% CI) p
   Kasus Kelola
n % n %
Rumah 41 91,1 94 69,6 4,5

(1,5 – 13,3)

0,007
Puskesmas 4 8,9 41 30,4
Jumlah 45 100 135 100

 

Tabel 5. Summary hasil analisis faktor resiko
No Variabel OR 95% CI p
Lower Upper
1 Berat badan lahir 13,5 6,1 29,9 0,000
2 Umur ibu 1,9 0,9 3,7 0,097
3 Paritas 1,6 0,8 3,2 0,289
4 Penolong persalinan 11,4 5,2 24,9 0,000
5 Tempat persalinan 4,5 1,5 13,3 0,007