Sel. Mei 21st, 2019

FAKTOR RISIKO INFEKSI VIRUS HEPATITIS B PADA IBU HAMIL DI KABUPATEN BULUKUMBA

 FAKTOR RISIKO INFEKSI VIRUS HEPATITIS B PADA IBU HAMIL DI KABUPATEN BULUKUMBA

 

RISK FACTORS OF HEPATITIS B  VIRUS INFECTION AMONG PREGNANT WOMEN IN BULUKUMBA

 

Ermawati Syam,1 Ansariadi,2 Masyitha Muis3

1Bagian Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(Email: emma_survblk@yahoo.com)

2Bagian Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(Email: ansariadi@gmail.com)

3Bagian Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(Email: masyithamuis@yahoo.co.id)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alamat Korespondensi:

Ermawati Syam, SKM

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Hasanuddin

Makassar, 90245

HP: 085215936008

Email: emma_survblk@yahoo.com

 

 

 

 

Abstrak

Hepatitis B dalam kehamilan menjadi perhatian khusus karena dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius pada ibu dan bayi yang dikandungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain kasus kontrol. Kasus adalah 120 ibu hamil dengan hasil pemeriksaan HBsAg positif pada program skrining nasional, sedangkan kontrol adalah ibu hamil dengan hasil pemeriksaan HBsAg negatif. Analisis data bivariat dan regresi logistik digunakan untuk menganalisis faktor risiko potensial terhadap infeksi HBV. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara kejadian infeksi HBV pada ibu hamil dengan riwayat jaundice pasangan seksual (OR=4,349, CI 95% 2,035-9,294, p=0,000), riwayat jaundice anggota rumah tangga (OR=6,287, CI 95% 3,327-11,881, p=0,000), riwayat persalinan di rumah dengan dukun (OR=1,782, CI 95% 1,065-2,980, p=0,038), riwayat transfusi darah (OR=2,616, CI 95% 1,145-5,979, p=0,032), riwayat bedah (OR=2,350, CI 95% 1,089-5,069, p=0,042), dan umur ibu saat menikah <20 tahun (OR=2,822, CI 95% 1,665-4,782, p=0,000). Riwayat perawatan gigi, riwayat rawat inap, riwayat penyakit menular seksual, dan riwayat pengguna NAPZA suntik tidak berhubungan secara statistik dengan infeksi HBV. Analisis multivariat menunjukkan bahwa riwayat jaundice anggota rumah tangga merupakan variabel yang paling signifikan terhadap infeksi virus hepatitis B (OR=8,550, CI 95% 4,152-17,610, p=0,000). Kesimpulannya, faktor risiko yang signifikan terhadap infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil di Kabupaten Bulukumba adalah riwayat jaundice pasangan seksual, riwayat jaundice anggota rumah tangga, riwayat persalinan di rumah dengan dukun, riwayat transfusi darah, riwayat bedah, dan umur ibu saat menikah <20 tahun.

Kata kunci : hepatitis B, ibu hamil, bulukumba

 

Abstract

Hepatitis B in pregnancy has a particular concern because it can cause serious health problem to the mothers and their babies. This study aimed to identify risk factors for hepatitis B virus infection among pregnant women. This is an observational case control study. Cases were 120 pregnant women with positive HBsAg test results from the national screening program, while controls were those with negative test results. Bivariat analysis and a logistic regression model were performed to examined potential risk factors of HBV infection. This study found an association between HBV infection with spouse history of jaundice (OR=4,349, CI 95% 2,035-9,294, p=0,000), family history of jaundice (OR=6,287, CI 95% 3,327-11,881, p=0,000), history of home delivery by traditional birth attendant (OR=1,782, CI 95% 1,065-2,980, p=0,038), history of blood transfusion (OR=2,616, CI 95% 1,145-5,979, p=0,032), history of surgical procedure (OR=2,350, CI 95% 1,089-5,069, p=0,042), and age of marriage <20 years old (OR=2,822, CI 95% 1,665-4,782, p=0,000). History of dental care, history of hospitalization, history of STDs, and history of IDU were statistically insignificant with HBV infection. Futher multivariate analysis suggested that family history of jaundice was the most significant risk factor of HBV infection (OR=8,550, CI 95% 4,152-17,610, p=0,000). In conclusion, the significant risk factors for hepatitis B virus infection among pregnant women in Bulukumba were spouse history of jaundice, family history of jaundice, history of home delivery by traditional birth attendant, history of blood transfusion, history of surgical procedure, and age of marriage <20 years old.  

 

Keywords: hepatitis B, pregnant women, bulukumba

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Infeksi virus hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Saat ini diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi (WHO, 2017). Prevalensi infeksi virus hepatitis B relatif rendah di negara maju, tetapi cukup tinggi di Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia (Dunkelberg, 2014; Yano, 2015). Indonesia merupakan negara dengan endemisitas tertinggi kedua setelah Myanmar, dan perkiraan prevalensi berkisar antara 2,5% hingga 10% dari jumlah penduduk (Kemenkes, 2014). Virus hepatitis B dilaporkan 50-100 kali lebih menular daripada virus HIV dan 10 kali lebih menular dibandingkan virus hepatitis C (Kew, 2012). Hepatitis B dapat berkembang menjadi sirosis dan kanker hati yang dapat berujung pada kematian (CDC, 2017).

Kejadian infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil menjadi perhatian khusus, karena selain dapat menyebabkan masalah kesehatan pada ibu, juga dapat menularkan pada bayi yang dikandungnya, terutama pada proses kelahiran (CDC, 2017). Ibu hamil yang mengalami infeksi virus hepatitis B akut dapat mengalami insiden prematuritas, berat badan lahir rendah, rupture varises esophagus, pendarahan setelah persalinan, gagal hati, ikterus, dan rupture aneurisma splenika (Nesa, 2015). Obi (2006) melaporkan bahwa sekitar 2%-12% ibu hamil merupakan penderita hepatitis B kronis dan keberadaan virus hepatitis B dalam kehamilan berkontribusi terhadap tingginya transmisi vertikal dari ibu ke bayi. Menurut WHO, sekitar 90% bayi yang terinfeksi pada tahun pertama kehidupannya berlanjut menjadi hepatitis kronis (WHO, 2017).

Hasil skrining yang dilakukan di Indonesia pada tahun 2014 menunjukkan bahwa rata-rata prevalensi infeksi virus hepatitis B pada populasi ini sebesar 2,76%. Propinsi Sulawesi Selatan (prevalensi 4,08%) menempati posisi ketiga dalam urutan prevalensi tertinggi infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil (Dinkes Sulsel, 2017). Kabupaten Bulukumba sejak Bulan April 2017 mulai melaksanakan program skrining melalui pemeriksaan rutin ibu hamil di puskesmas. Dari kegiatan tersebut, diperoleh prevalensi ibu hamil positif HBsAg sebesar 2,9% (Dinkes Bulukumba, 2017).

Faktor risiko infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil di negara lain telah banyak diketahui, namun di Indonesia informasi tersebut masih sangat terbatas. Bahkan, di Sulawesi Selatan dan di Kabupaten Bulukumba secara khusus, belum ditemukan publikasi terkait dengan faktor risiko infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil. Kabupaten Bulukumba merupakan daerah dengan penderita HIV yang cukup tinggi di Sulawesi Selatan, setelah Makassar, Pare-pare, dan Jeneponto (Dinkes Bulukumba, 2017). Menurut Centers of Disease Control and Prevention (CDC), Virus Hepatitis B (HBV) dan virus HIV adalah virus yang ditularkan melalui darah terutama melalui kontak seksual dan penggunaan narkoba suntik. Karena adanya kesamaan mode transmisi, maka orang-orang yang berisiko terinfeksi HIV juga berisiko terinfeksi HBV (CDC, 2017). Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor risiko infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil di Kabupaten Bulukumba.




BAHAN DAN METODE

 

Lokasi dan Rancangan penelitian

 

Penelitian ini dilakukan di 17 wilayah puskesmas Kabupaten Bulukumba yang melaksanakan pemeriksaan rutin HBsAg pada ibu hamil. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain kasus kontrol.

 

Populasi dan sampel

 

Populasi penelitian ini terdiri dari semua ibu hamil yang melakukan pemeriksaan HBsAg di puskemas wilayah Kabupaten Bulukumba pada periode April 2017 hingga Februari 2018 yaitu sebanyak 137 orang ibu hamil HBsAg positif (populasi kasus) dan 2.767 orang ibu hamil HBsAg negatif (populasi kontrol). Kasus adalah ibu hamil dengan hasil pemeriksaan HBsAg reaktif/positif, sedangkan kontrol adalah ibu hamil dengan hasil pemeriksaan HBsAg nonreaktif/negatif. Pada kelompok kasus, dari 137 orang, 8 orang diantaranya dikeluarkan dari sampel karena kesalahan pencatatan di puskesmas dan data ganda, 6 orang tidak ditemukan pada alamat yang ada atau tidak dapat dilacak, 2 orang pindah ke luar kabupaten, dan 1 orang tidak bersedia untuk menjadi responden, sehingga total kasus yang dapat diwawancarai sebanyak 120 orang.

Penarikan sampel pada kelompok kasus dilakukan dengan teknik exhaustive sampling, yaitu pengambilan sampel secara keseluruhan, sedangkan pada kelompok kontrol dilakukan dengan teknik simple random sampling. Dalam menetapkan kelompok kontrol, terlebih dahulu dibuat daftar calon kontrol untuk setiap satu kasus positif yang berada pada rentang umur dan desa/kelurahan yang sama (matching). Untuk mencari pasangan setiap kasus, dilakukan penetapan kontrol secara acak berdasarkan daftar calon kontrol yang telah dibuat. Pengacakan menggunakan aplikasi Random Number Generator (RNG) pada perangkat Android. Pengacakan dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali sehingga untuk setiap 1 kasus diperoleh 3 calon kontrol. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika ada calon kontrol terpilih yang tidak memenuhi kriteria. Sehingga pada akhirnya satu kasus akan berpasangan dengan satu kontrol.

Perbandingan besar sampel antara kasus dan kontrol adalah 1:1. Kriteria inklusi pemilihan sampel dalam penelitian ini yaitu memiliki alamat lengkap dan dapat dilacak, serta bersedia menjadi responden. Pada kelompok kontrol, ibu hamil yang pernah menderita hepatitis B ataupun jaundice pada masa lalu berdasarkan rekam medis puskesmas maupun pengakuannya, juga dikeluarkan dari sampel penelitian.

 

Metode pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Sumber data berasal dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diujicobakan, melalui proses wawancara dari rumah ke rumah oleh petugas terlatih. Data sekunder diperoleh dari register kohort ibu hamil serta laporan hasil deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil di dinas kesehatan dan masing-masing puskesmas.

 

Analisis data

Analisis data dilakukan dengan komputerisasi (SPSS versi 20). Hubungan antara variabel independen (riwayat jaundice pasangan seksual, riwayat jaundice anggota rumah tangga, riwayat persalinan di rumah dengan dukun, riwayat transfusi darah, riwayat bedah, riwayat perawatan gigi, riwayat rawat inap, umur ibu saat menikah, riwayat penyakit menular seksual, riwayat pengguna NAPZA suntik) dan variabel dependen (infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil) dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square dan Fisher Exact, selanjutnya dilakukan pengukuran besar risiko dengan menghitung odds ratio. Untuk mengetahui variabel independen yang paling besar pengaruhnya terhadap infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil digunakan analisis multivariat regresi logistik dengan metode Backward Likelihood Ratio (LR). Variabel independen dengan nilai p<0,25 pada analisis bivariat dimasukkan dalam analisis multivariat.

 

 

 




HASIL

 

Karakteristik sosiodemografi

Tabel 1 menunjukkan bahwa berdasarkan umur ibu saat melakukan pemeriksaan HBsAg, distribusi kelompok kasus maupun kontrol paling banyak berada pada rentang umur 31-35 tahun sebesar 23,3%. Usia kehamilan ibu pada kelompok kasus dan kontrol paling banyak berada pada trimester 2, yaitu masing-masing sebesar 46,7% dan 58,3%. Menurut jumlah kehamilan, lebih dari setengah responden pada kelompok kasus dan kontrol merupakan kehamilan multigravida, berturut-turut sebesar 70,0% dan 59,2%. Hal yang berbeda jika dibandingkan menurut paritas, kelompok kasus paling banyak merupakan ibu multipara (36,7%), sedangkan kelompok kontrol paling banyak merupakan ibu nulipara (40,8%). Mayoritas responden pada kedua kelompok studi tidak memiliki riwayat abortus, pada kelompok kasus sebesar 84,2% dan pada kelompok kontrol sebesar 94,2%.

Pada kelompok kasus, responden dengan tingkat pendidikan tamat SD/sederajat menempati proporsi terbesar (32,5%), sedangkan pada kelompok kontrol, proporsi terbesar adalah responden dengan tingkat pendidikan tamat SMA/sederajat (39,2%). Berdasarkan karakteristik pekerjaan ibu, kedua kelompok ini didominasi oleh ibu rumah tangga, masing-masing sebesar 47,5% dan 36,7%. Namun demikian, pekerjaan ibu sebagai petugas kesehatan 2 kali lebih banyak pada kelompok kasus (3,3%) dibandingkan kelompok kontrol (1,7%).

Analisis Bivariat

Tabel 2 menunjukkan hubungan antara faktor lingkungan dengan infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil. Ada hubungan yang signifikan antara riwayat jaundice pasangan seksual (OR=4,349; 95% CI 2,035-9,294), riwayat jaundice anggota rumah tangga (OR=6,287; 95% CI 3,327-11,881), dan riwayat persalinan di rumah dengan dukun (OR=1,782, 95% CI 1,065-2,980), dengan infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil.

Tabel 3 menunjukkan hubungan antara faktor pelayanan kesehatan dengan infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil. Ada hubungan yang signifikan antara riwayat transfusi darah (OR=2,616; 95% CI 1,145-5,979), dan riwayat bedah (OR=2,350; 95% CI 1,089-5,069) dengan infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil. Sedangkan, riwayat perawatan gigi dan riwayat rawat inap tidak berhubungan dengan kejadian ini.

Tabel 4 menunjukkan hubungan antara faktor perilaku dengan infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil. Variabel independen yang menunjukkan adanya hubungan asosiasi adalah umur ibu saat menikah <20 tahun (OR=2,822; 95% CI 1,665-4,782), sedangkan riwayat penyakit menular seksual dan riwayat pengguna NAPZA suntik tidak berhubungan dengan infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil di Kabupaten Bulukumba.

 

Analisis Multivariat

 

Tabel 5 menunjukkan bahwa variabel riwayat jaundice anggota rumah tangga merupakan variabel yang paling berisiko terhadap infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil (OR= 8,550; 95% CI 4,152-17,610). Dengan demikian, variabel riwayat jaundice anggota rumah tangga secara signifikan berisiko terhadap infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil sebesar 8,550 kali.




PEMBAHASAN

 

Penelitian ini menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara riwayat jaundice pasangan seksual, riwayat jaundice anggota rumah tangga, riwayat persalinan di rumah dengan dukun, riwayat transfusi darah, riwayat bedah, dan umur ibu saat menikah <20 tahun, dengan infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil di Kabupaten Bulukumba. Penelitian ini juga menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara riwayat perawatan gigi, riwayat rawat inap, riwayat penyakit menular seksual, dan riwayat pengguna NAPZA suntik, dengan infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil.

Hepatitis B mudah ditularkan melalui aktivitas seksual. Sejalan dengan temuan ini, riwayat jaundice suami/pasangan seksual telah ditemukan sebagai faktor risiko infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil di beberapa negara, antara lain di Thailand (Luksamijarulkul, 2002), dan di Sudan (Ozer, 2011), meskipun beberapa penelitian lainnya bersifat kontradiktif, salah satunya di Nigeria (Bukbuk, 2013). Bulukumba termasuk daerah yang berisiko tinggi dalam penularan penyakit menular seksual karena selain merupakan daerah tujuan wisata, terdapat banyak kelompok risiko tinggi misalnya penjaja seks komersial, kelompok waria, dan banyak pelaut antar pulau (Dinkes Bulukumba, 2017). Daerah ini merupakan daerah dengan penderita HIV yang cukup tinggi di Sulawesi Selatan, setelah Makassar, Pare-pare, dan Jeneponto (Dinkes Bulukumba, 2017). Menurut CDC, virus hepatitis B (HBV) dan virus HIV adalah virus yang ditularkan melalui darah terutama melalui kontak seksual dan penggunaan narkoba suntik. Karena adanya kesamaan mode transmisi, maka orang-orang yang berisiko terinfeksi HIV juga berisiko terinfeksi HBV (CDC, 2017).

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa riwayat jaundice anggota rumah tangga merupakan variabel yang paling berisiko terhadap infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mehmet (2012) di Turki, Ozer (2011) di Sudan dan Araya et al., (2018) di Ethiopia, namun berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kirbak (2017) dan Ephraim (2015) yang tidak mendukung asosiasi ini, dengan argumentasi bahwa ukuran sampel yang kecil dan jumlah kasus yang sedikit menjadi kelemahan dalam mengidentifikasi kemungkinan adanya asosiasi (Ephraim, 2015).

Sebelumnya telah dilaporkan bahwa virus hepatitis B dapat menular dalam anggota rumah tangga melalui perilaku berbagi peralatan pribadi dengan anggota keluarga yang terinfeksi seperti sikat gigi dan alat cukur (Oladeinde, 2012). Menurut WHO, virus hepatitis B dapat bertahan hidup di luar tubuh selama 7 hari. Selama itu, virus masih bisa menyebabkan infeksi jika masuk ke tubuh seseorang yang tidak terlindungi oleh vaksin tersebut (WHO, 2017). Lebih lanjut, WHO melaporkan bahwa di daerah yang sangat endemik, hepatitis B paling umum menyebar dari ibu ke anak saat lahir (transmisi perinatal), atau melalui transmisi horizontal (terpapar darah yang terinfeksi), terutama dari anak yang terinfeksi ke anak yang tidak terinfeksi selama 5 tahun pertama kehidupan. Perkembangan infeksi kronis sangat umum terjadi pada bayi yang terinfeksi dari ibu mereka atau sebelum usia 5 tahun (WHO, 2017).

Penelitian ini juga mendapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara riwayat persalinan di rumah oleh dukun dengan infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Ethiopia (Molla, 2015) dan Nigeria (Oladeinde, 2012), namun berbeda dengan penelitian di Ethiopia (Umare, 2016), dan di Yaman (Murad, 2013).

Terkait dengan faktor pelayanan kesehatan, penelitian ini menemukan bahwa ada hubungan antara riwayat transfusi darah dan riwayat bedah dengan kejadian hepatitis B pada ibu hamil. Berbeda dengan penelitian di Sudan (Kirbak dkk., 2017), di Nigeria (Anaedobe, 2015), di Yaman (Murad, 2013), di Ethiopia (Molla, 2015) yang menunjukkan tidak ada hubungan asosiasi. Menurut Kerzman (2007), hasil penelitian yang menunjukkan adanya asosiasi ini dominan dilakukan di wilayah Timur Tengah, Afrika dan Eropa Timur. Wilayah ini merupakan wilayah-wilayah yang terkenal tidak patuh pada pedoman pengendalian infeksi, dan memungkinkan terjadinya penularan virus hepatitis B melalui pemakaian berulang jarum suntik dan kurangnya teknologi sterilisasi peralatan medis.

Berdasarkan faktor perilaku, penelitian ini juga menunjukkan bahwa ibu hamil yang menikah pada umur <20 tahun lebih berisiko untuk terinfeksi virus hepatitis B dibandingkan dengan ibu hamil yang menikah pada umur ≥20 tahun. Sejalan dengan hasil penelitian ini, hampir semua penelitian sebelumnya melaporkan bahwa aktifitas seksual yang dilakukan pada usia dini adalah faktor risiko infeksi virus hepatitis B (Ngaira, 2016, Anaedobe, 2015, Rabiu, 2010). Faktor umur sering dikaitkan dengan berbagai penyakit khususnya penyakit menular seksual. Liang et al., (2013) menyatakan bahwa semakin dini seseorang terinfeksi, semakin besar kemungkinannya untuk menderita hepatitis kronis.

Hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan pada populasi ibu hamil di Kabupaten Bulukumba secara umum, karena populasi penelitian hanya ibu hamil yang dapat mengakses pemeriksaan HBsAg di puskesmas. Pada penelitian ini, tidak dilakukan pemeriksaan penanda anti-HBc IgM, sehingga ibu hamil dengan infeksi akut tidak terdeteksi. Padahal, penggalian faktor risiko pada infeksi akut lebih akurat karena responden hanya akan diminta mengingat apa yang terjadi selama 6 bulan sebelum adanya diagnosa laboratorium, sehingga recall bias dapat diminimalisir (Nazzal, Z., & Sobuh, 2014).

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Kami menyimpulkan bahwa riwayat jaundice pasangan seksual, riwayat jaundice anggota rumah tangga, riwayat persalinan di rumah dengan dukun, riwayat transfusi darah, riwayat bedah, dan umur ibu saat menikah <20 tahun, merupakan faktor risiko infeksi virus hepatitis B pada ibu hamil di Kabupaten Bulukumba. Riwayat perawatan gigi, riwayat rawat inap, riwayat penyakit menular seksual, dan riwayat pengguna NAPZA suntik, tidak berhubungan secara statistik dengan kejadian ini. Sebagai pencegahan penularan intrafamilial, puskesmas dan jaringannya ke bawah agar terus menerus melakukan upaya promotif dan preventif melalui edukasi tentang hepatitis B. Selain itu, dinas kesehatan dan rumah sakit perlu melakukan evaluasi terkait implementasi pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan. Selanjutnya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar dan difokuskan pada infeksi akut sehingga informasi faktor risiko lebih akurat.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anaedobe, C. G., Fowotade, A., Omoruyi, C. E., & Bakare, R. A. (2015). Prevalence, socio-demographic features and risk factors of Hepatitis B virus infection among pregnant women in Southwestern Nigeria. The Pan African medical journal, 20.

Araya Mezgebo, T., Niguse, S., Gebrekidan Kahsay, A., Hailekiros, H., Berhe, N., & Asmelash Dejene, T. (2018). Hepatitis B virus infection and associated risk factors among pregnant women attending antenatal care in health facilities of Tigray, Northern Ethiopia. Journal of medical virology, 90(3), 503-509.

Bukbuk, D. N., Samaila, M. B., Ballah, A. D., Kida, I. M., & Iwuoha, C. (2013). Carrier rate of hepatitis B surface antigen (HBsAg) among urban pregnant women in a secondary health facility in Maiduguri, Northeastern Nigeria. World Journal of Cardiovascular Diseases, 3(08), 512.

CDC. (2017). HIV/AIDS and Viral Hepatitis. from https://www.cdc.gov/hepatitis/populations/hiv.htm

Dinkes Bulukumba. (2017). Laporan Bulanan Rekapitulasi Ibu Hamil yang Melakukan Deteksi Dini Hepatitis B Tahun 2017. Bulukumba: Dinas Kesehatan.

Dinkes Sulsel. (2017). Laporan Kasus Hepatitis B Sulawesi Selatan Tahun 2014-2017. Makassar: Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan.

Dunkelberg, J., Berkley, E., Thiel, K., & Leslie, K. (2014). Hepatitis B and C in pregnancy: a review and recommendations for care. Journal of perinatology, 34(12), 882-891.

Ephraim, R., Donko, I., Sakyi, S. A., Ampong, J., & Agbodjakey, H. (2015). Seroprevalence and risk factors of hepatitis B and hepatitis C infections among pregnant women in the Asante Akim North Municipality of the Ashanti region, Ghana; a cross sectional study. African health sciences, 15(3), 709-713.

Kemenkes. (2014). Infodatin : Situasi dan Analisis Hepatitis B: Kementerian Kesehatan RI.

Kerzman, H., Green, M. S., & Shinar, E. (2007). Risk factors for hepatitis C virus infection among blood donors in Israel: a case‐control study between native Israelis and immigrants from the former Soviet Union. Transfusion, 47(7), 1189-1196.

Kew, M. C. (2012). Hepatitis B virus/human immunodeficiency virus co-infection and its hepatocarcinogenic potential in Sub-Saharan Black Africans. Hepatitis Monthly, 12(10 HCC).

Kirbak, A. L. S. (2017). Sero-prevalence for Hepatitis B virus among pregnant women attending antenatal clinic in Juba Teaching Hospital, Republic of South Sudan. The Pan African medical journal, 26.

Liang, X., Bi, S., Yang, W., Wang, L., Cui, G., Cui, F., . . . Chen, Y. (2013). Reprint of: Epidemiological serosurvey of Hepatitis B in China—Declining HBV prevalence due to Hepatitis B vaccination. Vaccine, 31, J21-J28.

Luksamijarulkul, P., Mooktaragosa, A., & Luksamijarulkul, S. (2002). Risk factors for hepatitis B surface antigen positivity among pregnant women. Journal of the Medical Association of Thailand= Chotmaihet thangphaet, 85(3), 283-288.

Mehmet, D., Meliksah, E., Serif, Y., Gunay, S., Tuncer, O., & Zeynep, S. (2005). Prevalence of hepatitis B infection in the southeastern region of Turkey: comparison of risk factors for HBV infection in rural and urban areas. Jpn J Infect Dis, 58(1), 15-19.

Molla, S., Munshea, A., & Nibret, E. (2015). Seroprevalence of hepatitis B surface antigen and anti HCV antibody and its associated risk factors among pregnant women attending maternity ward of Felege Hiwot Referral Hospital, northwest Ethiopia: a cross-sectional study. Virology journal, 12(1), 204.

Murad, E. A., Babiker, S. M., Gasim, G. I., Rayis, D. A., & Adam, I. (2013). Epidemiology of hepatitis B and hepatitis C virus infections in pregnant women in Sana’a, Yemen. BMC pregnancy and childbirth, 13(1), 127.

Nazzal, Z., & Sobuh, I. (2014). Risk factors of hepatitis B transmission in northern Palestine: a case–control study. BMC research notes, 7(1), 190.

Nesa, N. N. M. (2015). Pencegahan Transmisi Vertikal Virus Hepatitis B (pp. 109-116).

Ngaira, J. A. M., Kimotho, J., Mirigi, I., & Osman, S. (2016). Prevalence, awareness and risk factors associated with Hepatitis B infection among pregnant women attending the antenatal clinic at Mbagathi District Hospital in Nairobi, Kenya. The Pan African medical journal, 24.

Oladeinde, B. H., Omoregie, R., Olley, M., Anunibe, J. A., & Oladeinde, O. B. (2012). Hepatitis B and C viral infections among pregnant women in a rural community of Nigeria. Int J Basic and Applied Virol, 1(1), 01-05.

Ozer, A., Yakupogullari, Y., Beytur, A., Beytur, L., & Koroglu, M. (2011). Risk factors of hepatitis B virus infection in Turkey: A population-based, case-control study: Risk Factors for HBV Infection. Hepatitis Monthly, 11(4), 263.

Rabiu, K. A., Akinola, O. I., Adewunmi, A. A., Omololu, O. M., & Ojo, T. O. (2010). Risk factors for hepatitis B virus infection among pregnant women in Lagos, Nigeria. Acta obstetricia et gynecologica Scandinavica, 89(8), 1024-1028.

Umare, A., Seyoum, B., Gobena, T., & Mariyam, T. H. (2016). Hepatitis B Virus Infections and Associated Factors among Pregnant Women Attending Antenatal Care Clinic at Deder Hospital, Eastern Ethiopia. PloS one, 11(11), e0166936.

WHO. (2017). Global Hepatitis Report.   Retrieved 1 Desember, 2017, from http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/255016/1/9789241565455-eng.pdf?ua=1

Yano, Y., Utsumi, T., Lusida, M. I., & Hayashi, Y. (2015). Hepatitis B virus infection in Indonesia. World Journal of Gastroenterology: WJG, 21(38), 10714.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Sosiodemografi

 

Karakteristik Kasus

(n=120)

Kontrol

(n=120)

n % n %
Umur Ibu        
≤ 20 tahun 16 13,3 16 13,3
21-25 tahun 26 21,7 26 21,7
26-30 tahun 25 20,8 25 20,8
31-35 tahun 28 23,3 28 23,3
≥ 36 tahun 25 20,9 25 20,9
Usia Kehamilan        
Trimester 1 28 23,3 25 20,8
Trimester 2 56 46,7 70 58,3
Trimester 3 36 30,0 25 20,8
Jumlah Kehamilan
Primigravida 36 30,0 49 40,8
Multigravida 84 70,0 71 59,2
Paritas
Nulipara 37 30,8 49 40,8
Primipara 39 32,5 46 38,3
Multipara 44 36,7 25 20,9
Riwayat Abortus
Ya 19 15,8 7 5,8
Tidak 101 84,2 113 94,2
Pendidikan Ibu
Tidak pernah sekolah 3 2,5 4 3,3
Tidak tamat SD 10 8,3 6 5,8
Tamat SD/sederajat 39 32,5 17 14,2
Tamat SMP/sederajat 25 20,8 33 27,5
Tamat SMA/sederajat 25 20,8 47 39,2
Tamat Diploma/Sarjana 18 15,0 12 10,0
Pekerjaan Ibu
Ibu Rumah Tangga 57 47,5 44 36,7
Petugas Kesehatan 4 3,3 2 1,7
Guru/dosen 8 6,7 17 14,2
Pedagang/wiraswasta 22 18,3 25 20,8
Karyawan 2 1,7 3 2,5
Petani 24 20,0 29 24,2
Lainnya 3 2,5 0 0,0

Sumber : Data Primer, 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2. Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian Hepatitis B pada

   Ibu Hamil di Kabupaten Bulukumba

 

Variabel Kasus Kontrol Ratio Odds (RO) Interval Kepercayaan (IK) 95%
n % n %
Riwayat Jaundice Pasangan Seksual            
Ya 34 28,3 10 8,3 4,349 2,035-9,294*
Tidak 86 71,7 110 91,7
Riwayat Jaundice Anggota Rumah Tangga
Ya 59 49,2 16 13,3 6,287 3,327-11,881*
Tidak 61 50,8 104 86,7
Riwayat Persalinan di Rumah dengan Dukun
Ya 62 51,7 45 37,5 1,782 1,065-2,980*
Tidak 58 48,3 75 62,5

*variabel signifikan

Sumber : Data Primer, 2018

 

 

 

Tabel 3. Hubungan Faktor Pelayanan Kesehatan dengan Kejadian Hepatitis B

   pada Ibu Hamil di Kabupaten Bulukumba

 

Variabel Kasus Kontrol Ratio Odds (RO) Interval Kepercayaan (IK) 95%
n % n %
Riwayat Transfusi Darah
Ya 21 17,5 9 7,5 2,616 1,145-5,979*
Tidak 99 82,5 111 92,5
Riwayat Bedah
Ya 23 19,2 11 9,2 2,350 1,089-5,069*
Tidak 97 80,8 109 90,8
Riwayat Perawatan Gigi
Ya 80 66,7 71 59,2 1,380 0,816-2,335
Tidak 40 33,3 49 40,8
Riwayat Rawat Inap
Ya 57 47,5 42 35,0 1,680 1,000-2,823
Tidak 63 52,5 78 65,0

*variabel signifikan

Sumber : Data Primer, 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4. Hubungan Faktor Perilaku dengan Kejadian Hepatitis B

   pada Ibu Hamil di Kabupaten Bulukumba

 

Variabel Kasus Kontrol Ratio Odds (RO) Interval Kepercayaan (IK) 95%
n % n %
Umur Ibu Saat Menikah        
< 20 tahun 68 56,7 38 31,7 2,822 1,665-4,782*
≥ 20 tahun 52 43,3 82 68,3
Riwayat Penyakit Menular Seksual
Ya 5 4,2 2 1,7 2,565 0,488-13,489
Tidak 115 95,8 118 98,3
Riwayat Pengguna NAPZA Suntik
Ya 1 0,8 2 1,7 0,496 0,044-5,542
Tidak 119 99,2 118 98,3

*variabel signifikan

Sumber : Data Primer, 2018

 

 

 

Tabel 5. Hasil Analisis Multivariat Faktor Risiko Infeksi Virus Hepatitis B pada

   Ibu Hamil di Kabupaten Bulukumba

 

Variabel B Wald Sig. Ratio Odds Interval Kepercayaan 95%
LL UL
Riwayat jaundice pasangan seksual 1,963 19,086 0,000 7,121 2,952 17,181
Riwayat jaundice anggota rumah tangga* 2,146 33,895 0,000 8,550 4,152 17,610
Riwayat bedah 1,708 13,056 0,000 5,518 2,185 13,938
Umur ibu saat menikah < 20 tahun 1,387 17,060 0,000 4,004 2,073 7,735
Constant -5,395 43,245 0,000 0,005

*variabel paling berisiko

Sumber : Data Primer, 2018