Ming. Jun 16th, 2019

DETERMINANT SOCIAL LEVEL IN SUCCESSFUL BREASTMILK EXCLUSIVELY IN URBAN AREAS (SOMBA OPU DISTRICT)

DETERMINAN TINGKAT SOSIAL DALAM KEBERHASILAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH PERKOTAAN

 

 

1Aisyah, 2Aminuddin Syam, 3Syamsiar R. Russeng

 

1Bagian Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(email: aisyah.jauri@gmail.com)

2Bagian Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(email: amin.gzuh@gmail.com)

3Bagian Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

(email: syamsiarsr@yahoo.co.id)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alamat Korespodensi:

Aisyah

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Hasanuddin

Makassar, 90245

HP: 085285825056

Email: aisyah.jauri@gmail.com

 

 

ABSTRAK

 

 

PENDAHULUAN

Menyusui adalah cara yang terbaik dan tidak ada tandingannya untuk menyediakan makanan ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat. Menyusui juga merupakan cara alami dan normal untuk memberikan asupan gizi, daya tahan tubuh dan emosional yang optimal. Air Susu IBu (ASI) tidak hanya menambah manfaat, namun juga menempatkan standar pemberian makanan pada bayi.

Adanya Komunitas pendukung ASI, kemudahan akses fasilitas kesehatan, fasilitas umum, petugas kesehatan juga semakin banyak yang mendukung bahkan peraturan pemerintahan yang berkaitan dengan ASI Eksklusif sudah ada. Adanya kemudahan akses, ternyata ada hal yang dapat menghambat tercapainya ASI Eksklusif terutama di daerah perkotaan (urban) seperti keterpaparan terhadap promosi susu formula. Sebuah penelitian di Puskesmas Andalas, Kota Padang menyatakan bahwa Ibu dengan Ibu yang tertarik dengan iklan promosi susu formula sebesar 57.8% dan ibu tertarik pada promosi susu formula cenderung tidak mencapai ASI Eksklusif

Secara angka capaian cakupan ASI Eksklusif belum konsisten. Untuk di Indonesia, persentase ASI Eksklusif berdasarkan data Penilaian Status Gizi (PSG) adalah 35.7% (2017) dan 29.5% (2016). Berdasarkan Renstra Kementerian Kesehatan 2015-2019, target persentase bayi usia kurang 6 bulan yang mendapatkan ASI Eksklusif yaitu 42% (2016) dan 44% (2017). Hal tersebut menggambarkan bahwa persentase ASI Eksklusif masih belum mencapai target.

Demikian halnya dengan angka cakupan ASI Eksklusif di Sulawesi Selatan mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013 cakupan ASI Eksklusif sebesar 62,70%, kemudian menurun pada tahun 2014 yaitu 56,31% (Profil Kesehatan Sulsel, 2014) dan berdasarkan data PSG tahun 2016 semakin mengalami penurunan dengan angka sebesar 38.5% (Kemenkes, 2016) dan pada tahun 2017 mengalami peningkatan kembali sebesar 42.1% (Kemenkes, 2017).Sedangkan untuk Kabupaten Gowa, berdasarkan data PSG (2016) persentase ASI Eksklusif mencapai 28.7% dan untuk tahun 2017 mengalami peningkatan mencapai angka 38.8%. Angka tersebut juga menggambarkan bahwa belum tercapainya target yang diharapkan.

Kecamatan Somba Opu yang merupakan wilayah perkotaan terdiri dari dua puskesmas yaitu Puskesmas Somba Opu dan Samata. Data cakupan yang cukup ekstrim tergambarkan pada tahun 2016 dan 2017. Berdasarkan data Dinas Kesehatan pada hasil Laporan Semesteran Program Gizi, cakupan ASI Eksklusif pada tahun 2016 di Puskesmas Somba Opu dan Samata adalah 55.56% dan 70.51% kemudian menurun drastis pada tahun selanjutnya sebesar 15.56% dan 12.60% (Dinkes, 2017). Hasil cenderung menurun rendah, tentu menjadi perhatian kita dan perbedaan angka yang berbeda jauh ini diduga karena teknik pengambilan data yang berbeda.

Dengan demikian yang menjadi pertanyaan, mengapa ada ibu-ibu yang berhasil menyusui ASI Eksklusif hingga 6 bulan dengan kondisi dimana masih rendahnya cakupan ASI Eksklusif. Tercapainya ASI Eksklusif ini kemudian bisa dipelajari lebih mendalam berdasarkan Ibu-ibu pengalaman ibu-ibu yang berhasil agar menjadi input untuk keberhasilan program atau intervensi berkaitan dengan ASI Eksklusif dan agar menjadi contoh Good Practice bagi masyarakat, pendukung ASI dan ibu-ibu lainnya.

Penelitian yang berkaitan dengan manfaat pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan memberikan efek baik langsung maupun tidak langsung untuk bayi maupun ibu yang menyusui. Sebuah penelitian sistematik oleh Kramer and Kakuma (2012) menyimpulkan bahwa bayi yang disusui secara eksklusif selama enam bulan memiliki penurunan risiko infeksi saluran cerna dan secara pengamatan tidak terjadi defisit pertumbuhan. Efek jangka panjang dengan pemberian ASI dengan durasi menyusui yang lebih lama dikaitkan dengan perkembangan kognitif dan motorik yang lebih baik pada anak-anak berusia 2 dan 3 tahun (Bernard et al., 2013).Pemberian makanan padat sebelum usia 6 bulan memberikan dampak masalah kesehatan untuk bayi, seperti peningkatan kejadian infeksi, berkurangnya produksi ASI, gangguan pada mikrobioma dan kemungkinan terjadinya obesitas (Binns and Lee, 2014). Dalam Binns and Lee (2014) juga menyatakan bahwa dengan diperkenalkan makanan padat sekitar enam bulan (26 minggu) tidak ada bukti adanya peningkatan penyakit alergi.

Faktor yang mendukung tercapainya keberhasilan ASI eksklusif sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa hasil berkaitan dengan faktor yang mendukung keberhasilan ASI Eksklusif adalah oleh Jessri et al. (2013) menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan pascasarjana adalah 3.76 kali lebih mungkin menyusui secara eksklusif selama 6 bulan dibandingkan mereka yang tidak memiliki gelar sarjana (95% CI: 1.30-10.92; p = 0,015). Peran faktor psikososial pada menyusui ASI Eksklusif juga berpengaruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menyusui secara eksklusif sampai enam bulan pascapersalinan menunjukkan niat yang lebih tinggi untuk memberikan ASI eksklusif, memberi ASI, memberi kenyamanan untuk menyusui di tempat umum, merasakan kekuatan fisik dan melaporkan kesulitan menyusui yang kurang dirasakan (Jager et al., 2014).

Penelitian lain yang melihat faktor peran ayah menghasilkan, prevalensi praktik pemberian ASI secara eksklusif pada kelompok ayah yang mendukung lebih tinggi 2.25 kali dibandingkan dengan kelompok ayah yang tidak mendukung. Hasil penelitian diperoleh Ibu yang memberikan ASI eksklusif pada wilayah perkotaan di Puskesmas Serpong, bahwa ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengetahuan ibu, sikap ibu, peran petugas, keterpaparan media, peran suami, peran orang tua dengan pemberian ASI eksklusif P < 0.05 (Astuti, 2013).

Hampir semua ibu dapat menyusui asalkan mereka memiliki informasi yang akurat, sikap yang positif terhadap ASI Eksklusif, mendapat dukungan dalam keluarga dan masyarakat mereka serta dari sistem perawatan kesehatan. Semua dukungan tersebut dapat membantu membangun kepercayaan ibu, memperbaiki teknik pemberian memyusui dan mencegah atau mengatasi masalah menyusui.

Meskipun masih ada cakupan ASI Eksklusif yang rendah tidak menjadi halangan untuk ibu-ibu yang lain untuk berhasil menyusui secara eksklusif. Banyak faktor pendukung keberhasilan pencapaian ASI Eksklusif. Studi ini bertujuan untuk mengetahui determinan keberhasilan ibu dalam memberikan ASI Eksklsif di wilayah perkotaan pada tingkat sosial.

 

BAHAN DAN METODE

Lokasi dan rancangan penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Sombo Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitiatif dengan pendekatan fenomenologis.

Informan penelitian

Ada dua kategori informan: informan pengamat dan informan pelaku. Pemilihan informan pelaku ini dilakukan dengan mekanisme purposive sampling. Kriteria inklusi informan pelaku adalah Ibu dengan bayi yang telah menyelesaikan ASI Eksklusif hingga usia 6 bulan dan informan yang bersedia serta cukup waktu untuk diwawancarai. Informan pengamat terdiri darisuami/keluarga,petugas gizi dan kader.

Metode pengumpulan data

Pengumpulan data lebih ditekankan melalui wawancara mendalam dimana wawancara mendalam adalah dialog secara individu dengan informan yang diperoleh langsung dengan menggunakan pedoman wawancara yang memuat pokok-pokok yang akan ditanyakan untuk memperoleh keterangan secara lisan, antara peneliti dengan informan. Telaah dokumen juga dilakukan untuk melihat partisipatif ibu seperti di kelas hamil dan posyandu.

 

 

Analisis Data

Analisis data dengan menggunakan metode perbandingan tetap atau Constant Comparative Method karena dalam analisa data, secara tetap membandingkan kategori dengan kategori lainnya. Untuk memperoleh data dengan derajat keabasahan yang tinggi, maka dibutuhkan teknik yang sesuai. Pada penelitian ini menggunakan teknik triangulasi dengan sumber data.

 

HASIL

Karakteristik informan

Jumlah keseluruhan informan pada penelitian ini adalah 21 orang. Informan pelaku sebanyak 14 orang ibu menyusui dan informan pengamat sebanyak 7 orang. Informan pendukung terdiri dari lima informan keluarga terdekat, dua informan seorang kader dan satu informan petugas kesehatan (bidan).

Karakteristik umum informan pelaku pada rentang usia 17 – 37 tahun. Tingkat pendidikan terakhir informan cukup variatif, tiga informan dengan pendidilan terakhir SD, tiga informan tingkat SMP, lima informan tingkat SMA, dan dua informan merupakan lulusan S1. Jumlah paritas secara umum memiliki satu anak hingga memiliki enam anak dan seluruh informan merupakan Ibu Rumah Tangga.

Faktor tingkat sosial

Pada faktor tingkat sosial tergambar normatif subjektif yang tergambar dari keyakinan normatif dan motivasi ibu dalam keberhasilan ASI Eksklusif. Keyakinan normatif yang positif mendukung keberhasilan informan yang memberikan ASI Eksklusif, sedangkan yang tidak memberikan ASI Eksklusif memiliki keyakinan normatif positif untuk tetap menyusui ASI akan tetapi pada perilakunya tidak memberikan ASI Eksklusif. Berikut kutipan hasil wawncara mendalam. Berikut hasil kutipan wawancara mendalam.

 

“itu amal toh. Haknya setiap bayi, apalagi ndak ada ji dikerja di rumah… perjuangannya itu, kita ini hanya ibu-ibu biasa, karena ASI itu memang betul-betul anugerah,” (NI, 33 tahun)

 

“Bagus menyusui ASI” (NH, 35 tahun)

 

“Yang pasti kalau mereka anak kecil, apa ini susu ji ini, susu formula ji ini? Kalau saya bilang ASI, tawwa bagus ki itu ASI, begini..begini, paling itu jawabannya” (FC, 26 tahun)

 

“Kuliat kakak-kakakku semua kasih ASI semua, jadi kubilang ih, bagus ki pade itu ASI” (HA, 23 tahun)

 

Sama kakak sih bilang kalau menyusui itu lebih bagus (PT, 23 tahun)

 

“Tidak ada mentong orang bilang bagus itu formula lebih bagus itu ASI, Bilang kita kasih ASI mi itu kita punya anak, bagus ki badannya juga anak-anak” (ER, 33 tahun)

 

“Iparku kuliat kasih ASI, jadi dia bilang lebih bagus ki itu ASI daripada susu formula. Jadi saya coba mi” (AW, 24 tahun)

 

Ibu rumah tangga selain keluarga lingkungan terdekatnya adalah tetangga di lingkungan rumahnya. Menurut informan baik yang eksklusif maupun tidak ASI Eksklusif mendapat dukungan yang positif dari tetangga mereka. Berikut pernyataan informan.

“Sering biasa kalau sore-sore duduk.. Paling itu masalahnya, lebih enak ya kalau pake ASI ndak repot(DS, 37 tahun)

 

“Tetangga tawwa mendukung semua, bilang ASI kasih ASI semua toh, na lihat bagus ASI dibanding susu formula (ER, 33 tahun)

 

Norma subjektif lainnya terbentuk dari motivasi individu dalam mencapai perilaku tersebut. Informan yang berhasil ASI Eksklusif memiliki motivasi yang kuat dengan berbagai alasan yaitu untuk kesehatan anak, ikatan batin antara ibu dan anak, ASI lebih bagus dibanding susu yang lain, praktis, pengalaman sebelumnya dan ekonomi. Berikut kutipan hasil wawancara mendalam.

Supaya anak-anak sehat, ndak sering-sering sakit, untuk kekebalan tubuhnya saja… Supaya lebih dekat sama anak-anak, kan ikatan batinnya lebih kuat kalau menyusui (DS, 37 tahun)

 

“Karena simple, biar kemana mana ndak sibuk bawa susu, langusung saja kasih tetek kalau menangis” (HR, 35 tahun)

 

“Besar ki niatku bilang mau ka kasih ki ASI, karena kalau dikasih ki susu formula tidak memungkinkan dana”

(HA, 23 tahun)

 

PEMBAHASAN

Norma subyektif ibu dalam penelitian ini diartikan sebagai pandangan ibu terhadap kepercayaan yang dimiliki orang lain atau keluarga yang sering berada di sekitar ibu untuk mempengaruhi dirinya dalam menentukan suatu niat terhadap perilaku pemberian ASI Eksklusif.

Keyakinan normatif adalah keyakinan ibu yang diperoleh dari keluarga maupun lingkungan sekitar yang mempengaruhi niat untuk melakukan suatu perilaku. Keyakinan normatif yang positif mendukung keberhasilan informan yang memberikan ASI Eksklusif, sedangkan yang tidak memberikan ASI Eksklusif memiliki keyakinan normatif positif untuk menyusui ASI akan tetapi pada perilakunya tidak memberikan ASI Eksklusif. Sebuah penelitian menyatakan bahwa mayoritasresponden pandangan sangat mendukungterhadap keyakinan normatif. Terlihat dari jumlah responden terhadap pernyataan dapat diketahui bahwa ibu hamil akan memperhatikan pandangan orang sekitar dalam melakukan suatu perilaku (Yusrina and Devy, 2016).

Lingkungan tetangga menjadi lingkungan terdekat dengan para ibu rumah tangga. Kemudahan untuk bertemu dan berkumpul untuk sekedar menyapa memungkin menjadi tempat saling memberikan motivasi terutama dalam hal menyusui. Menurut informan, ibu-ibu tetangga sesame yang menyusui terkadang sering kumpul dan bercerita tentang masalah menyusui. Sehingga disini akan memberi dukungan kepada ibu yang sedang hamil atau sedang menyusui untuk bisa berhasil memberikan ASI Eksklusif. Menurut informan baik yang eksklusif maupun tidak ASI Eksklusif mendapat dukungan yang positif dari tetangga mereka.Dukungan teman berpengaruh secara langsung terhadap niat seseorang dalam berperilaku. Hal ini dikarenakan dukungan teman dapat memunculkan keyakinan individu akan pendapat orang lain yang dianggap penting dalam hal ini adalah teman serta motivasi untuk mentaati pendapat tersebut (Ajzen, 2005).

Menurut Uno (2007), motivasi dapat diartikan sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya; hasrat dan minat; dorongan dan kebutuhan; harapan dan cita-cita; penghargaan dan penghormatan. Informan yang berhasil ASI Eksklusif memiliki motivasi yang kuat dengan berbagai alasan yaitu untuk kesehatan anak, ikatan batin antara ibu dan anak, ASI lebih bagus dibanding susuyang lain, praktis, berdasarkan pengalaman sebelumnya dan ekonomi. Sebuah penelitian dengan uji hipotesis menggunakan uji Kendal-Tau (τ), hasil uji Kendal-Tau hubungan antara tingkat ekonomi dengan motivasi ibu dalam pemberian ASI Eksklusif adalah 0,339 dengan p=0,007 dan koefisien kontingensi 0,662 (Maulida, Afifah and Pitta Sari, 2015).

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Keberhasilan menyusui secara eksklusif tidak terlepas dari dukungan dari berbagai faktor, termasuk faktor pada tingkat sosial. Penelitian ini menggambarkan bahwa dengan adanya keyakinan normatif yang positif pada ibu menyusui akan memberikan dampak yang baik dalam keberhasilan ibu menyusui secara eksklusif.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ajzen, I. (2005). Attitude, personality and behavior. Milton Keynes: Open University Press.

Astuti, I. (2013) ‘Determinan Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Menyusui’, Jurnal Health Quality, 4(1), pp. 1–76. Available at: https://www.poltekkesjakarta1.ac.id/

Bernard, J. Y. et al. (2013) ‘Breastfeeding Duration and Cognitive Development at 2 and 3 Years of Age in the EDEN Mother – Child Cohort’. doi: 10.1016/j.jpeds.2012.11.090.

Binns, C. W. and Lee, M. K. (2014) ‘Exclusive breastfeeding for six months : the WHO six months recommendation in the Asia Pacific Region’, Asia Pacific J Clin Nutri, 23 (3), pp. 344–350. doi: 10.6133/apjcn.2014.23.3.21.

Jager, E. De et al. (2014) ‘The role of psychosocial factors in exclusive breastfeeding to six months postpartum’, Midwifery. Elsevier, 30(6), pp. 657–666. doi: 10.1016/j.midw.2013.07.008.

Jessri, M. et al. (2013) ‘Predictors of exclusive breastfeeding : observations from the Alberta pregnancy outcomes and nutrition ( APrON ) study’, BMC Predicts. BMC Pediatrics, 13(77). doi: 10.1186/1471-2431-13-77.

Kramer, M. S. and Kakuma, R. (2012) ‘Optimal duration of exclusive breastfeeding’, Cochrane Database of Systematic Reviews 2012, 8. doi: DOI: 10.1002/14651858.CD003517.pub2.

Maulida, H., Afifah, E. and Pitta Sari, D. (2015) ‘Tingkat Ekonomi dan Motivasi Ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Usia 0-6 Bulan di Bidan Praktek Swasta (BPS) Ummi Latifah Argomulyo, Sedayu Yogyakarta’, Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia, Vol. 3(No. 2), pp. 116–122. doi: 10.21927/jnki.2015.3(2).116-122.

Vonitania, Y., Amelin, F. and Yulizawati (2017) ‘Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Usia 6-12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas’, Journal of Midwifery, 2(1), pp. 82–92. Available at: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/32151.

Yusrina, A. and Devy, S. R. (2016) ‘Faktor yang Mempengaruhi Niat Ibu Memberikan ASI Eksklusif di Kelurahan Magersari Sidoarjo’, Jurnal Promkes, 4(1), pp. 11–21. Available at: https://core.ac.uk/download/pdf/77620640.pdf.