Sel. Mei 21st, 2019

DETERMINAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF PADA PRIMIPARA DI PEDESAAN KABUPATEN PINRANG

DETERMINANTS OF EKSLUSIVE BREASTFEEDING PRIMIPARA IN RURAL PINRANG REGENCY

 

Sri wanty,¹ Ansariadi,² A.Ummu Salmah³

¹Bagian Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin Makassar (email: sriwanty80@gmail.com)

²Bagian Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, (Email:ansariadi@gmail.com)

³Bagian Reproduksi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar (Email: andiummuslmh@yahoo.com)

 

close



 Alamat Korespondensi: Sri wanty SKM, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin Makassar Makassar, HP: 082347092141, Email: sriwanty86@gmail.com

script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”>



ABSTRAK

Proporsi ibu yang menyusui bayinya secara ekslusif sampai 6 bulan masih tetap rendah Penelitian ini bertujuan menilai cakupan dan determinan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada Primipara di pedesaan kabupaten Pinrang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Wawancara dilakukan pada ibu primipara yang memiliki bayi usia 0-12 bulan. Penelitian ini dilakukan pada 290 ibu primipara dengan bayi yang dipilih secara acak di daerah pedesaan kabupaten Pinrang. ASI eksklusif didefinisikan sebagai bayi yang hanya menerima ASI selama enam bulan pertama kehidupan dan tidak ada cairan atau makanan lain kecuali obat-obatan, vitamin dan mineral. Analisis multivariat menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif eksklusif pada Primipara di pedesaan kabupaten Pinrang adalah 30,7%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna secara statistik pengetahuan ibu (OR=3.848,95%CI; (1.953,7.582)P=0.000) dan jenis persalinan (OR=2,901,95%CI;(1.336,6,299)P=0.008) dengan pemberian ASI eksklusif. Akan tetapi, ditemukan bahwa tidak ada hubungan tingkat pendidikan, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga,tempat melahirkan, sikap, keterpaparan informasi, kunjungan ANC, dukungan suami, dukungan keluarga, dukungan petugas kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif.

Kata Kunci: ASI eksklusif, Primipara, pedesaan, Kabupaten Pinrang.

ABSTRACT

The proportion of mothers who ekslusively breastfeed their babies up to 6 mounths remains lowThe aim of the research was to assess the coverage and determinant related to exclusive breastfeeding primiparous in rural . The research used cross sectional method. The data were obtained through interview to mother primipara having infants ranging from 0 to 12 months old. The study was conducted on 290 mothers primipara with infanats selected by using systimtic sampling methode in rural distrik Pinrang. Exclusive breastfeeding was defined as the infants just receiving breast milk for six months and no other liquid or food except medicine, vitamin, and mineral. The data were analyzed using multivariate analysis by means of SPSS software. The results of the study indicate that coverage of exclusive breastfeeding primiparous in rural District, is 30,7%. Multivariate analysis indicate that there is a significant correlation between mothers’ knowledge and exclusive breastfeeding (OR=3.848,95%CI; (1.953,7.582)P=0.00) and birth types (OR=2,901,95%CI;(1.336,6,299)P=0.008) it is also indicated that , mother’s education, occupation, income family, birth place, attitude, , exposure of information, antenatal care, husband support, family support and health official’s are correlated to exclusive breatfeeding

 Keyword : exclusive breastfeeding, Primiparous,rural, Distrik Pinrang

 

PENDAHULUAN

Kualitas gizi dalam 1.000 hari pertama kehidupan mulai dari terjadinya konsepsi (280 hari) sampai bayi   berusia 24 bulan (720 hari) adalah saat yang sangat menentukan masa depan anak sebab waktu dimana otak dan tubuh anak berkembang dengan cepat, untuk periode 24 bulan pertama kehidupan tersebut, ASI adalah makanan terpenting ( Babakazo P .,et al 2015).

ASI eksklusif memiliki kontribusi yang besar terhadap tumbuh kembang dan daya tahan tubuh anak. Anak yang diberi ASI eksklusif akan tumbuh dan berkembang secara optimal dan tidak mudah sakit. Kajian global “The Lancet Breastfeeding Series, 2016 telah membuktikan bahwa menyusui Eksklusif menurunkan angka kematian karena infeksi sebanyak 88% pada bayi berusia kurang dari 3 bulan, 31,36% (82%) dari 37,94% anak sakit, karena tidak menerima ASI ekslusif. Investasi dalam pencegahan BBLR, Stunting dan meningkatkan IMD dan ASI eksklusif berkontribusi dalam menurunkan risiko obesitas dan penyakit kronis ((Victora et al., 2016).

WHO menetapkan bahwa bayi hanya diberikan ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan (menyusui secara eksklusif). Tapi kenyataan bahwa periode 2007-2014 Pencapaian ASI ekslusif secara global hanya sebesar 36% (WHO, 2016). Beban kesehatan bila bayi tidak disusui secara ekslusif yaitu menyebabkan kematian karena menderita penyakit menular sebesar 45%, kematian karena diare sebesar 30% dan kematian akibat ispa sebesar 18% (WHO, 2008).

Cakupan pemberian ASI eksklusif masih sangat rendah. WHO pada tahun 2016 mengungkap bahwa secara global cakupan pemberian ASI eksklusif untuk periode 2007-2014 hanya sebesar 36%. Secara global, prefalensi menyusui pada usia 12 bulan tertinggi di sub-Sahara Afrika, Asia Selatan dan sebagian Amerika Latin. Berdasarkan data yang dikumpulkan International Baby Food Action Network (IBFAN) 2014, Indonesia menduduki peringkat ke tiga terbawah dari 51 negara di dunia yang mengikuti penilaian status kebijakan dan program pemberian makan bayi dan anak (Infant-Young Child Feeding) ((Victora et al., 2016).

Di Negara berpenghasilan rendah dan menengah hanya 37% bayi di bawah 6 bulan disusui secara ekslusif ((Victora et al., 2016). Dari tahun 2007 hingga tahun 2014, cakupan pemberian ASI eksklusif di negara-negara dengan low income sebesar 47%, negara-negara dengan lower middle income sebesar 33%, dan negara-negara dengan upper middle income hanya sebesar 29 % (WHO, 2016). Disebutkan bahwa dikebanyakan negara berpenghasilan tinggi, prevalensi menyusui sampai 12 bulan lebih rendah dari 20%. Tercatat bahwa Inggris (< 1%), Amerika serikat (27%), Norwegia (35%) dan Swedia (16%) (Victora et al., 2016).

Cakupan ASI eksklusif Indonesia sebesar 54,3%, dimana persentase tertinggi terdapat pada Provinsi Nusa tenggara barat sebesar 79,9% terendah pada provinsi Maluku ( 25,2%). Sulawesi selatan   hanya sebesar 66,5%, cakupan tersebut masih belum memenuhi target cakupan ASI eksklusif Indonesia sebesar 80 % (Kemenkes 2015). Di Kabupaten Pinrang bayi yang diberi ASI ekslusif hanya 67,52%, sehingga masih 12,48% target yang harus dicapai. (Profil kesehatan provinsi Sulawesi selatan, 2017).

Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh faktor sosiodemografi, faktor psikologi, faktor medis, dan faktor kebijakan (Jacknowitz, 2007).

Penelitian Sriram et al., 2013 dan Chidozie E., Mbada et al., 2013 menemukan bahwa pelaksanaan ASI ekslusif pada daerah pedesaan yaitu ada hubungan dengan usia bayi, sikap positif terhadap inisiasi menyusui dini, pengetahuan, sikap dan praktik ibu dalam menyusu. Pemberian ASI ekslusif didaerah pedesaan dipenuhi dengan anggapan tradisi yaitu ibu menghentikan ASI lebih awal karena ibu berangggapan ASI hanya akan membuat bayi lebih kurus, merasa lebih cepat lapar, lebih mudah sakit, payudara lebih kendur dan membuat ibu tidak bisa melakukan hal lain diluar rumah atau pergi ke tempat umum (Gewa and Chepkemboi, 2016). Penelitian ini bertujuan menilai cakupan dan determinan yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada Primipara di pedesaan kabupaten Pinrang.

script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”>


BAHAN DAN METODE

Lokasi dan Rancangan penelitian

Penelitian ini dilakukan di daerah pedesaan kabupaten Pinrang povinsi Sulawesi selatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan menggunakan desain cross sectional study.

Populasi dan sampel

Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki bayi pertama yang berumur 0-12 bulan dan tinggal di pedesaan kabupaten Pinrang povinsi Sulawesi selatan. Sampel sebanyak 290 ibu yang dipilih secara proportional stratified random sampling yang telah memenuhi kriteria inklusi yaitu ibu yang memiliki bayi pertama berumur 0-12 bulan, tinggal dipedesaan dan bersedia untuk mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent yang telah dikeluarkan oleh Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Metode pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dibantu oleh petugas lapangan yang telah dilatih, Cara pengumpulan data dengan tehnik wawancara lansung menggunakan kuesener dengan tujuan untuk mendapatkan data-data yang mendukung variabel penelitian Wawancara dilakukan di posyandu saat posyandu dan di lanjutkan kerumah responden apabila belum selesai di posyandu. Proses wawancara yang dilakukan yaitu memastikan data tentang usia bayi dari responden, memperkenalkan diri, meminta kesedian responden untuk diwawancarai dengan menandatangani informed consent yang sudah disediakan.

Analisis data

Pengolahan dan analisis data menggunakan bantuan program komputer statistik Spss versi 20. Semua variabel independen ( pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pekerjaan kepala keluarga, pendapatan keluarga, tempat persalinan, jenis persalinan, penolong persalinan, pengetahuan, keterpaparan informasi, kunjungan ANC, sikap ibu terhadap ASI ekslusif, dukungan suami, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan) dengan variabel dependen yaitu pemberian ASI ekslusif yang diuji berbentuk kategori, dengan demikian analisis uji statistik Chis-Square (X2) dengan derajat kemaknaan α= 0,05. Jika hasil uji menunjukkan nilai p ≤ 0.05, maka hubungan antara variabel bermakna ( signifikan). Analisis multivariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabel independen yang memliliki hubungan dengan variabel dependen.

 
script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”>



HASIL

Karakteristik sampel

Tabel 1 memberi informasi tentang karakteristik sampel yaitu sebagian besar sampel berumur antara 20-24 tahun (40,3%) dan sampel yang berumur ≤19 tahun terdapat hampir sepertiga dari seluruh sampel (29,0%). Menurut wilayah penelitian sampel terbesar berada pada wilayah kecamatan Mattiro bulu (32,8%). Persentase tingkat pendidikan pada penelitian ini adalah tingkat pendidikan tamat SMA yang tertinggi (31,4%). Persentase pekerjaan kepala rumah tangga atau suami tertinggi adalah Petani/ buruh ( 49,7%), dan terendah adalah bekerja sebagai TNI/ Polri (3,1%). Persentase ibu rumah tangga atau ibu yang tidak memiliki pekerjaan lebih banyak (91,4%) dibanding dengan ibu bekerja (8,6%). Persentase pendapatan keluarga tertinggi adalah pendapatan berkisar Rp 500 ribu- Rp 1. 500 ribu (52,8%).

Distribusi berdasarkan faktor predisposi karakteristik reproduksi kategori tempat melahirkan pada fasilitas kesehatan sebesar 99,3%, jenis persalinan normal sebesar 80% dan frekwensi ANC yang lengkap 96,2% serta tempat pemeriksaan ANC di fasilitas kesehatan sebesar 99,,7%. Tingkat pengetahuan dibagi atas pengetahuan tentang kolustrum, tentang IMD dan Prelacteat maka hasilnya (67,9%,70%,dan 84,5%). Sikap ibu, yaitu sikap ibu terhadap IMD dan sikap ibu terhadap Prelacteat food dan ASI ekslusif serta sikap ibu terhadap kolustrum (67,6%, 65,2% dan 60%). distribusi berdasarkan faktor pemungkin yaitu keterpaparan informasi tentang ASI ekslusif (66,9%) dan kelengkapan ANC pada ibu hamil primipara sebagian besar sudah lengkap atau lebih dari 4 kali kunjungan yaitu sebesar 95,5%. Fakto penguat merupakan faktor penyerta yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak, faktor penguat disini adalah dukungan suami (53,8%), dukungan keluarga (ibu,ibu mertua saudar dll) (59,7%) dan dukungan petugas (58,3%).

Pemberian ASI ekslusif

Determinan pemberian ASI eksklusif pada Primipara di pedesaan Kabupaten Pinrang sebesar 30.7%. Hasil analisis hubungan faktor predisposisi dengan pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa dari tingkat pendidikan responden dengan pemberian ASI ekslusif pada primipara di pedesaan menghasilkan nila (P=0,69) artinya tidak ada hubungan, berdasarkan status pekerjaan ibu hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan pekerjaan ibu dengan ASI ekslusif (P=1,00), Pendapatan keluarga menghasilkan nila (P=0,59) artinya tidak ada hubungan, status reproduksi responden menghasilkan nilai (P=0,34) artinya tidak ada hubungan. Tempat melahirkan yaitu tempat melahirkan responden baik di fasilitas kesehatan maupun di rumah masing- masing tidak memberikan   ASI ekslusif. Hasil analisis chi-sguare menghasilkan nilai P=0,34 artinya tidak ada hubungan. Persalinan dengan cara operasi sesar lebih sedikit melakukan pemberian ASI secara ekslusif (15,5%) dibanding responden yang bersalin dengan cara normal (34,5%), Hasil analisis chi-sguare menghasilkan nila P=0,008 artinya ada hubungan jenis persalinan dengan pemberian ASI ekslusif. Hasil analisis pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif (P=0,00). Uji analisis menemukan bahwa tidak ada hubungan sikap dengan pemberian ASI eksklusif (P=0.94).

Hasil analisis hubungan faktor pemungkin yaitu proporsi ibu yang tidak terpapar informasi tentang ASI eksklusif lebih banyak memberikan ASI eksklusif dibanding dengan ibu yang terpapar informasi, hasil analisis menemukan bahwa tidak ada hubungan keterpaparan informasi dengan pemberian ASI ekslusif (P=083). Sedangkan frekuensi kunjungan ANC dengan pemberian ASI ekslusif menunjukkan hasil analisis tidak ada hubungan (P=0,69), meskipun dominan responden telah melakukan kunjungan ANC lebih dari 4x tetapi pemberian ASI ekslusif juga masih sangat rendah.

Hasil analisis hubungan faktor penguat yaitu dukungan suami dengan pemberian ASI ekslusif tidak ada hubungan, hasil uji analisis dukungan suami terhadap ASI ekslusif (P=0,92).Faktor penguat kedua adalah dukungan keluarga, keluarga dapat menjadi penguat ibu untuk mau menyusui, disebabkan ibu masih sangat membutuhkan bantuan keluairga selain suami dalam hal merawat bayi disini hasil analisis menemukan tidak ada hubungan.

Analisis Multivariate

Tabel 3 memperlihatkan bahwa Interpretasi persamaan logistik tidak memberikan ASI ekslusif yaitu pada suatu kondisi dimana tidak ada pengaruh dari pengetahuan rendah dan jenis persalinan, risiko untuk tidak memberikan ASI ekslusif akan bertambah sebesar 0,316 kali. Namun, jika memperhitungkan nilai konstanta dengan pengaruh penambahan faktor-faktor risiko tersebut, maka risiko untuk tidak memberikan ASI eklusif juga akan meningkat sebesar 2,729.

script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”>


PEMBAHASAN

Penelitian ini menemukan bahwa cakupan ASI eksklusif pada primipara di pedesaan kabupaten Pinrang yaitu sebesar 30,7%. Jika merujuk pada target Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2015 sebesar 39% dan target World Health Organization (WHO) tahun 2025 yaitu sebesar 50% maka cakupan ASI eksklusif pada primipara di pedesaan kabupaten Pinrang masih jauh lebih rendah dan belum mencapai target.

Penelitian ini menemukan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu tentang ASI ekslusif dan jenis persalinan yang dilakukan oleh ibu terhadap pemberian ASI ekslusif. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa faktor predisposis yatu tingkat pendidikan, pekerjaan,pendapatan keluarga, penolong persalinan, sikap tidak berhubungan dengan ASI ekslusif. Demikian halnya dengan faktor pemungkin yaitu keterpaparan informasi, kunjungan ANC tidak berhubungan dengan ASI ekslusif. Faktor penguat yaitu dukungan suami, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan tidak ada hubungan dengan pemberian ASI ekslusif pada bayi sampai usia 6 bulan.

Distribusi pegetahuan ibu terhadap ASI ekslusif umumnya tidak tahu bahwa ASI ekslusif adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan lainnya seperti air putih, susu formula atau madu kecuali obat selama 6 bulan pertama. Sebelum ASI ibu keluar bila bayi dianggap lapar maka ibu/keluraga memberi minuman lain seperti air putih atau susu formula, dan bila ibu melahirkan secara operasi sesar di rumah sakit bila ibu/ bayi kurang sehat maka akan diberi susu formula. Pernyataan lain yang kurang dijawab benar oleh ibu adalah tentang kolustrum dan IMD, umunya ibu mengerti dan melaksanakan IMD tetapi kurang tahu pengertian kolustrum dan IMD setelah dijelaskan ibu mulai tahu.

Sejalan dengan temuan ini, hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian ASI ekslusif diamati oleh beberapa penelitian lain diantaranya study cross sectional yang dilakuakan Gewa dan Chepkemboi (2016) di desa Kenya, Mogre et al (2016) di desa pedalaman Ghana mengemukakan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian ASI ekslusif. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Girish dan Gandhimathi (2015) di rumah sakit Misi elite India menemukan tidak ada hubungan pengetahuan dengan pemberian ASI ekslusif.

Umumnya ibu memiliki sikap yang baik terhadap ASI ekslusif tetapi karena pengetahuan ibu yang rendah tentang ASI ekslusif, maka ibu memberi susu formula pada bayinya bila melihat kondisi bayi lapar atau karena kurang ASI atau bila kondisi ibu yang tidak memungkinkan untuk menyusui sehingga menjadi faktor gagalnya ASI ekslusif. Penelitian yang dilakukan Mogre et al (2016) di pedesaan pedalaman Ghana mengemukakan bahwa alasan ibu memberi susu formula atau makanan tambahan sebab anak mungkin tidak kenyang dengan ASI saja dan bayi bisa meninggal bila hanya disusui sampai 6 bulan,ibu juga beranggapan bahwa bayi haus dan harus diberi minum dan mayoritas ibu tidak tahu kalau ASI dapat diperah dan disimpan dan dapat diberi bila ibu tidak dirumah.

Penelitian ini juga menemukan bahwa ada hubungan jenis persalinan dengan pemberian ASI ekslusif. Ibu yang bersalin dengan cara operasi sesar berpeluang tidak melakuakan ASI ekslusif dibanding yang bersalin dengan cara Normal. Namun, dalam proses persalinan normal lebih banyak dilakukan dibanding yang operasi sesar. Hal tersebut merupakan masalah yang dapat membayahakan terhadap kondisi bayi dan ibu dimana diketahui bahwa proses menyusui pada 1 jam pertama melahirkan adalah proses dimana dapat mencegah terjadinya perdarahan dan mencegah kematian bayi.

Sejalan dengan penelitian ini, hubungan jenis persalinan dengan pemberian ASI ekslusif juga diamati oleh beberapa penelitian lain antara lain Hacman et al (2015) menemukan bahwa ada hubungan jenis persalinan dengan pemberian ASI ekslusif dimana ibu yang melahirkan dengan cara operasi sesar akan sulit melakukan menyusui dini sebab bayi tidak berada di dekat ibunya. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Ekstrom et al (2003) yang pada penelitian ini membandingkan pemberian ASI ekslusif pada primipara dengan multipara dimana diketahui tidak ada hubungan ASI ekslusif dengan jenis persalinan.

Meningkatnya jumlah persalinan yang dilakukan dengan cara operasi sesar kemungkinan akan berdampak buruk terhadap kondisi ASI ekslusif mengingat bahwa sulitnya dilakukan menyusui dini akibat operasi. Dengan pembiusan umum tidak mungkin segera dapat menyusui bayinya, karena ibu belum sadar akibat pembiusan. Selain itu terjadi luka pada tindakan pembedahan pada operasi sesar juga menimbulkan nyeri yang lebih berat bila dibandingkan dengan luka rupture atau episiotomy pada daerah perineum saat melahirkan secara normal (Prawirohardjo dalam Warsini, 2015).

Penelitian ini menemukan bahwa tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI ekslusif. Penemuan ini sejalan dengan hasil penelitian Ekastrom et al (2003) bahwa tingkat pendidikan responden diketahui tidak berpengaruh terhadap pemberian ASI ekslusif baik pada primipara maupun multipara di Swedia. Berbeda dengan penelitian Giris dan Gandhimathi (2015) bahwa tingkat pendidikan responden akan berpengaruh terhadap sikap ibu untuk melakukan ASI ekslusif.

Pekerjaan ibu dalam penelitian ini tidak berhubugan dengan pemberian ASI eksklusif. Pekerjaan ibu telah diamati pula oleh beberapa penelitian diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Sefene et al. (2013) dan Thakur et al. (2016) menemukan bahwa tidak ada hubungan pekerjan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hamade et al (2013) menemukan bahwa ada hubungan pekerjaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif dimana salah satu penyebab ketidak berhasilan ASI eksklusif adalah ibu bekerja.

Tingkat pendapatan keluarga telah banyak diamati oleh beberapa penelitian diantaranya Sefene et al. (2013) menemukan bahwa tidak ada hubungan pendapatan dengan pemberian ASI eksklusif. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayawine and Ayuurebobi (2015)dan Thakur et al. (2016) menemukan bahwa ada hubungan pendapatan dengan pemberian ASI eksklusif. Demikian juga pada penelitian ini, tidak ada hubungan tingkat pendapatan dengan ASI ekslusif.

Dalam penelitian ini terlihat peran suami, keluarga dan petugas kesehatan begitu besar.Baik suami, keluarga maupun petugas kesehatan banyak mendukung apapun yang dilakukan oleh informan. Tetapi penelitian tersebut tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tadesse et al (2016) di pedesaan Sorro Swedia menemukan bahwa ibu dengan status tidak menikah 3,85 kali tidak ASI ekslusif disebabkan tidak adanya dukungan dari kelurga.

Hasil analisis dengan regresi logistik menemukan variabel yang paling dominan berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif adalah pengetahuan ibu terhadap ASI eksklusif. Jenis persalinan merupakan variabel ke dua paling dominan berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif. Interpretasi persamaan logostik tidak memberi ASI ekslusif pada kedua kondisi pengetahuan kurang dan operasi sesar maka akan meningkat 2 kali lipat tidak memberi ASI ekslusif dibanding pengetahuan tinggi dan persalianan normal.

Dari tiga faktor yang menjadi dasar teori dalam penelitian ini yaitu berdasarkan teori Green yang terdiri dari faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat maka dapat disimpulkan bahwa faktor predisposisi yaitu pengetahuan ibu tentang ASI ekslusif dan jenis persalinan paling dominan atau paling berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif.

Dalam pelaksanaan penelitian tidak terlepas dari keterbatasan. Beberapa hal yang menjadi ketebatasan dalam penelitian ini adalah penelitian ini menggunakan rancangan cross-seqtional, oleh karena itu hubungan antara variabel dependen dan variabel independen yang ditemukan dalam penelitian ini tidak menjelaskan apakah merupakan hubungan sebab akibat.

 
script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”>



KESIMPULAN DAN SARAN

Cakupan pemberian ASI eksklusif pada usia 0-12 bulan pada primipara di pedesaan sebesar 30,7% masih lebih rendah dari target Renstra kabupaten Pinrang tahun 2017 yaitu sebesar 75%, Hasil identifikasi dan analisis faktor predisposisi (predisposing factors) yang berhubungan bermakna dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia 0-12 bulan pada primipara di pedesaan kabupaten Pinrang adalah pengetahuan ibu tentang ASI ekslusif dan jenis persalinan. Faktor pemungkin yaitu keterpaparan informasi dan kunjungan ANC terhadap pemberian ASI eklslusif pada primipara di pedesaan kabupaten Pinrang tidak berhubungan. Faktor penguat seperti dukungan suami, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan dengan pemberian ASI ekslusif pada primipara di pedesaan kabupaten Pinrang tidak ada hubungan. Kurangnya pengetahuan ibu tentang menyusui di desa maka perlu adanya peningkatan pengetahuan dengan pemberian pendidikan melalui kegiatan bulanan di Posyandu pada kegiatan ANC dan kunjungan nifas terutama pentingnya ASI ekslusif. Memperkuat dan mempromosikan ANC dan pasca kelahiran pada layanan di pelayanan kesehatan pada ibu melahirkan dengan operasi untuk tetap berusaha ASI ekslusif.

 

 

Tabel 1. Distribusi Responden berdasarkan Krakteristik Sosiodemografi

Karakteristik Responden (n=290)
n %
Umur Ibu      
≤19 84 29,0  
20-24 117 40,3  
25-29 64 22,1  
30-34 20 6,9  
≥35 5 1,7  
Wilayah kecamatan      
Mattirobulu 95 32,8  
Lanrisang 56 19,3  
Patampanua 92 31,7  
Cempa 47 16,2  
Tingkat pendidikan      
Tidak Tamat SD 7 2,4  
Tamat SMP 86 29,7  
Tamat SMA 91 31,4  
Tamat perguruan tinggi 59 20,3  
Pekerjaan Suami      
TNI/ Polri 9 3,1  
PNS/Pegawai swasta/Guru 28 9,7  
Wiraswasta/ pedagang 109 37,6  
Petani/ Nelayan/ Buruh 144 49,7  
Pekerjaan Ibu      
Ibu Rumah Tangga 265 91,4  
PNS 21 7,2  
Wiraswasta/petani 4 1,4  
Pendapatan Keluarga (Rp)      
500.000 – 1.500.000 153 52,8  
1.600.000-2.400.000 60 20,7  
2.500.000-5.000.000 70 24,1  
≥ 5.000.000 7 2,4  

Sumber : Data Primer, 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2. Hubungan variabel yang diteliti dengan pemberian ASI ekslusif pada primipara di pedesaan

Variabel ASI ekslusif (n=290) Total P

Value

Tidak (201) Ya (89)
n % n % n %
Tingkat pendidikan ibu              
Pendidikan rendah 95 67,9 45 32,1 140 100 0,69
Pendidikan tinggi 106 70,7 44 29,3 150 100
Pekerjaan ibu              
Bekerja 17 68,0 8 32,0 25 100 1,00
Tidak bekerja 184 69,4 81 30,6 265 100
Pendapatan Keluarga              
Tinggi 48 72,7 18 27,3 66 100 0,59
Rendah 153 68,3 71 31,7 224 100
Tempat melahirkan
Rumah 2 100 0 0,0 2 100 0,34
Fasyankes* 199 69,1 89 30,9 288 100  
Jenis persalinan
Operasi sesar 49 84,5 9 15,5 58 100 0,008**
Normal 152 65,5 80 34,5 232 100  
Tingkat pengetahuan ibu tentang Menyusui
Rendah 75 86,2 12 13,8 87 100 0,00**
Tinggi 126 62,1 77 37,9 203 100  
Sikap ibu terhadap ASI ekslusif
Negatif 90 68,7 41 31,3 131 100 0,94
Positif 111 69,8 48 30,2 159 100  
Keterpaparan Informasi ASI
Tidak terpapar 133 68,6 61 31,4 194 100 0,83
Terpapar 67 70,5 28 29,5 95 100  
Frekuensi Kunjungan ANC
Tidak lengkap 7 63,6 4 36,4 11 100 0,69
Lengkap 192 69,3 85 30,7 277 100  
Dukungan suami
Tidak mendukung 92 68,7 42 31,3 134 100 0,92
Mendukung 109 69,9 47 30,1 158 100  
Dukungan Keluarga
Tidak mendukung 77 65,8 40 34,2 117 100 0,35
Mendukung 124 71,7 49 28,3 173 100  
Dukungan Petugas
Tidak mendukung 85 70,2 36 29,8 121 100 0,87
Mendukung 116 68,6 53 31,4 169 100  

Sumber : Data Primer 2018

Tabel 3. Hasil analisis multivariat hubungan Pemberian ASI ekslusif pada ibu Primipara di Pedesaan

Variabel B Wald sig OR CI 95%
LL UL
Step 1            
Pengetahuan 1,348 15,162 0,000 3,848 1,953 7,582
Jenis persalinan 1,065 7,249 0,007 2,901 1,336 6,299
Constant 0,316 4,069 0,044 1,371    

Sumber : Data Primer, 2018

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Babakazo, P., Donnen, P., Akilimali, P., Ali, N. M. M. & Okitolonda, E. (2015). Predictors of discontinuing exclusive breastfeeding before six months among mothers in Kinshasa: a prospective study. International breastfeeding journal, 10, 19.

Dinas kesehatan Profinsi Sulawesi selatan. (2017).Profil kesehatan provinsi Sulawesi selatan tahun 2017. Sulawesi selatan.

Ekström, A., Widström, A.-M. & Nissen, E. (2003a). Duration of breastfeeding in Swedish primiparous and multiparous women. Journal of Human Lactation, 19, 172-178.

Ekström, A., Widström, A. M. & Nissen, E. (2003b). Breastfeeding support from partners and grandmothers: perceptions of Swedish women. Birth, 30, 261-266.

Gewa, C. A. & ChepkemboI, J. (2016). Maternal knowledge, outcome expectancies and normative beliefs as determinants of cessation of exclusive breastfeeding: a cross-sectional study in rural Kenya. BMC public health, 16, 243.

Girish, S. & Gandhimathi, M. (2015). Primipara Mother’s Knowledge, Attitude and Practice of Breastfeeding. International Journal of Advanced Nursing Science and Practice, 2, pp. 41-48.

Hackman, N. M., Schaefer, E. W., Beiler, J. S., Rose, C. M. & Paul, I. M. (2015). Breastfeeding outcome comparison by parity. Breastfeeding Medicine, 10, 156-162.

Hamade, H., Chaaya, M., Saliba, M., Chaaban, R. & Osman, H. (2013). Determinants of exclusive breastfeeding in an urban population of primiparas in Lebanon: a cross-sectional study. BMC public health, 13, 702.

Jacknowitz, A. (2007). Increasing breastfeeding rates: do changing demographics explain them? Women’s Health Issues, 17, 84-92.

KEMENKES (2016). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. Jakarta.

Mogre, V., Dery, M. & Gaa, P. K. (2016). Knowledge, attitudes and determinants of exclusive breastfeeding practice among Ghanaian rural lactating mothers. International breastfeeding journal, 11, 12.

Sefene, A., , D. B., Worku Awoke & , T. T. (2013). Determinants of exclusive breastfeeding practice among mothers of children age less than 6 month in Bahir Dar city administration, Northwest Ethiopia; a community based cross-sectional survey Science Journal of Clinical Medicine, 2(6): 153-159.

Sriram, S., Soni, P., Thanvi, R., Prajapati, N. & Mehariya, K. (2013). Knowledge, attitude and practices of mothers regarding infant feeding practices. National Journal of Medical Research, 3, 147-150.

Tadesse, T., Mesfin, F. & Chane, T. (2016). Prevalence and associated factors of nonexclusive breastfeeding of infants during the first six months in rural area of Sorro District, Southern Ethiopia: a cross-sectional study. International Breasfeeding Journal.

Thakur, N., , A. G., , P. C. & *, J. P. D. (2016). A study of determinants of infant feeding practices in a resettlement colony of Delhi, India. International Journal of Community Medicine and Public Health, Vol 3 | Issue 12.

Victora, C. G., Bahl, R., Barros, A. J., França, G. V., Horton, S., Krasevec, J., Murch, S., Sankar, M. J., Walker, N. & Rollins, N. C. (2016). Breastfeeding in the 21st century: epidemiology, mechanisms, and lifelong effect. The Lancet, 387, 475-490.

WARSINI. (2015). Hubungan antara Persalinan, Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan dan Status Bekerja Ibu Dengan Keberhasilan ASI Eksklusif 6 Bulan. Sebelas Maret.

WHO (2016). World Health Statistics 2016.

World Health Organization.(2008). Indicators for Assessing Infant and Young Child Feeding Practices Part. 1. Definitions; World Health Organization: Geneva, Switzerland.